Saturday, August 13, 2022

Petik Laba Labu Kabocha

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pendapatan itu diperoleh dari lahan yang tersebar di 3 daerah: Purwakarta, Bogor, dan Lembang. Dari lahan itu, Yaya memanen setidaknya 30 ton kabocha per bulan, 80% di antaranya kabocha berwarna jingga, sisanya hijau. Hasil panen dijual ke para pemasok pasar swalayan serta kios-kios penjaja sayuran dan buah-buahan di sepanjang jalan raya Lembang dan Puncak.

Dengan harga Rp1.500-Rp3.300/kg Yaya meraup omzet Rp45-juta-Rp99-juta per bulan. Bobot sebuah kabocha rata-rata 1-3 kg. Setelah dikurangi biaya operasional, ia mengutip laba bersih Rp300/kg sehingga total labanya Rp9-juta/bulan. Penghasilan sebesar itu tentu saja lebih tinggi ketimbang pendapatan ketika mengojek.

Buah tangan

Kerabat mentimun-mentimunan itu sejatinya telah dikenal para pekebun di Lembang sejak 1990-an. Namun, ketika itu pekebun kabocha masih bisa dihitung dengan jari. Baru pada 2000 labu jepang ramai dikebunkan dan hasilnya dijajakan di kios-kios di sepanjang jalan raya Lembang.

Kabocha kerap dijadikan buah tangan bila berkunjung ke Bandung bagian utara itu. Sejak itu pula Yaya membudidayakan kabocha di lahan 1.400 m2. Hasilnya 600 kg kabocha. Tak disangka hasil panennya tandas diborong pedagang. Harganya pun stabil. Tak seperti sayuran lain yang harganya anjlok ketika produksi melimpah di pasaran.

Tiga tahun lamanya Yaya menikmati laba berkat membudidayakan kabocha. Pada 2003, ia memberanikan diri meminjam modal ke bank untuk memperluas usaha. Sayang, lahan yang tersedia terbatas. Sebagai sentra sayuran, mencari lahan menganggur di Lembang sulit.

Yaya pun melancarkan strategi lain. Ia akhirnya bermitra dengan para pekebun. Yaya memasok benih dan memberi pinjaman modal kepada mereka. Ia juga memberikan penyuluhan teknik budidaya labu jepang itu. Seluruh hasil panen ditampung pria kelahiran Bandung itu. Harga di tingkat pekebun rata-rata Rp1.700/kg. Hingga kini jumlah pekebun mitra mencapai 110 orang. Setiap pekebun rata-rata mengelola 2.500-5.000 m2.

Salah satu pekebun mitra, Dayat Baharudin, di Cikole, Bandung. Pria berusia 44 tahun itu sebelumnya berkebun tomat dan cabai. Karena kerap merugi ketika harga anjlok, ia beralih mengebunkan kabocha. Labu jepang itu dibudidayakan di lahan 2.100 m2. Kabocha dipanen pada umur 80 hari setelah tanam.

Dari lahan seluas itu, Dayat memanen 1,5-2 ton kabocha. Dengan harga jual Rp2.000/kg, pria yang berkebun sejak 1980-an itu memperoleh omzet Rp3-juta-Rp6-juta per musim tanam. Setelah dikurangi biaya produksi Rp1,5-juta, Dayat mengutip laba bersih Rp1,5-juta-Rp4,5-juta/musim tanam atau Rp500.000-Rp1,5-juta/bulan.

Tumpangsari

Masih di kawasan Lembang, Rudi juga tergiur membudidayakan kabocha. Labu jepang ditumpangsarikan dengan tomat, cabai, dan kembang kol. Keempat komoditas itu dibudidayakan di lahan 4.200 m2. Populasi kabocha 200 batang dan sayuran lainnya masing-masing 1.400 tanaman. Dari lahan seluas itu, Rudi memanen 800 kg kabocha, 700 kg cabai, dan masing-masing 1,4 ton tomat dan kembang kol. Kabocha dijual dengan harga Rp1.700/kg, cabai Rp13.000, kembang kol Rp1.000, dan tomat Rp1.400. Dari keempat komoditas itu, Rudi meraup omzet Rp13,82-juta/musim tanam. Kabocha menyumbang pendapatan Rp1,36-juta.

Pendapatan dari kabocha memang lebih kecil ketimbang komoditas sayuran lain. Itu karena jarak tanam dalam budidaya tumpangsari lebih jarang agar tanaman lain tidak ternaungi. Lalu, mengapa Rudi tetap membudidayakan kabocha? ‘Harga kabocha stabil, paling murah tidak kurang dari Rp1.000/kg, katanya.

Dengan harga jual itu, pekebun masih memperoleh laba. Menurut hitung-hitungan Yaya biaya produksi kabocha mencapai Rp8-juta/ha. Dengan populasi 4.000 tanaman, biaya produksi rata-rata Rp2.000/tanaman. Sedangkan produktivitas kabocha rata-rata 3-4 kg/tanaman. Bila dijual dengan harga terendah yakni Rp1.000/kg, pekebun memperoleh omzet Rp3.000-Rp4.000/tanaman. Setelah dikurangi biaya produksi Rp2.000/tanaman, pekebun meraih laba bersih Rp1.000-Rp2.000/tanaman. Bandingkan dengan cabai yang ketika panen raya harga di tingkat pekebun anjlok hingga Rp2.000/kg. Padahal, biaya produksi cabai mencapai Rp2.500/kg. ‘Saya tanam kabocha untuk mengganjal modal kalau sayuran lain rugi, ujar Rudi.

Pasar luas

Toh pasar kabocha saat ini semakin luas. Komoditas itu kini dijajakan hampir di seluruh pasar swalayan di tanahair. ‘Dulu mungkin hanya ada di pasar swalayan yang khusus menjual produk-produk Jepang,’ ujar Suharyono Legawa, dari divisi sayuran dan buah-buahan pasar swalayan Papaya, penyedia produk-produk Jepang.

‘Warga kita juga sudah banyak yang suka,’ kata Muhammad Saputro, pekebun kabocha di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Apalagi ketika Ramadhan, ‘Permintaan naik hingga 100%,’ ujarnya. Konsumen biasanya mengolah kabocha menjadi kolak atau hanya dikukus. Pada bulan-bulan selain Ramadhan, pekebun yang juga pemilik nurseri tanaman hias itu menjual rata-rata 1,5 ton kabocha/bulan.

Pasar mancanegara kini tengah dirintis para pekebun di Lembang, seperti ke Singapura, Jepang, dan Taiwan. ‘Saya sudah beberapa kali mengirimkan contoh,’ ujar Yaya. Namun, kualitas produk menjadi kendala menembus pasar ekspor. ‘Kadar pestisida terlalu tinggi,’ katanya. Itulah sebabnya Yaya saat ini tengah mencoba membudidayakan kabocha secara organik dan menekan penggunaan pestisida.

Serangan hama dan penyakit hingga kini memang menjadi batu sandungan para pekebun. Salah satu penyakit yang kerap menyerang adalah virus yang menghambat pertumbuhan tanaman. Akibatnya kabocha jarang berbuah. ‘Kalaupun berbuah ukurannya kecil, kata Dayat. Ia terpaksa membabat 300 tanaman kabocha yang terserang virus. Modal Rp1,5-juta pun melayang tanpa berbalas keuntungan. Ancaman lainnya serangan ulat Spodoptera litura yang menyantap daun-daun muda sehingga tanaman enggan berbuah.

Meski demikian, berbagai kendala tak menyurutkan para pekebun membudidayakan kabocha. Saputro terus memperluas kemitraan dengan membina para pekebun di Cianjur Selatan. Itu untuk memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh. Sebab, kini kabocha tak hanya milik warga Jepang, tetapi juga warga Indonesia. (Imam Wiguna/Peliput: Kiki Rizkika)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img