Catatan wartawan Trubus, Karjono, saat melakukan perjalanan ke Singkawang 2004 silam, rumah walet masih terpusat di daerah pertokoan dan perumahan di pusat kota. Namun, tak hanya walet berliur emas yang bersarang di rumah warga. Walet ekor putih alias burung layang-layang juga turut menghuni plafon rumah penduduk. Ketika itu belum mencolok terlihat ada bangunan walet sepanjang jalan menuju Kaliasin.
Saat Trubus kembali ke Kota Seribu Vihara itu tiga tahun kemudian, rumah-rumah walet terlihat di berbagai sudut kota dan mulai merambah pinggir kota. Di daerah Kaliasin alis Jam Tang, belasan rumah walet supermegah dibangun. Berbagai perabot china dan guci mahal menghias rumah walet itu. Bahkan ada pemilik yang membuat klenteng di atas rumah walet agar diberkahi.
Kini, sekitar 200 rumah walet berdiri di Singkawang. Puluhan di antaranya menyebar di daerah pinggiran Kabupaten Singkawang. Itu karena populasi dalam kota sudah terlalu padat. Wajar bila kemudian daerah pinggiran seperti Kaliasin dilirik pengusaha. Borneo Science Swift left (BoSS), konsultan walet di Singkawang, mengaku dalam 1,5 tahun terakhir mendapat order mendirikan 10 rumah baru di kota yang mayoritas penduduknya warga keturunan tionghoa itu.
Pesat
Lonjakan itu terjadi karena banyak orang yang telah mencicipi untung besar dari perniagaan walet di Singkawang. “Ada rumah yang menghasilkan 70 – 80 kg sarang walet sekali panen,” ujar Philip Yamin, praktikus walet di Jakarta Barat yang pernah berkunjung ke Singkawang setahun lalu.
Harry Nugroho, praktikus walet di Kelapagading, Jakarta Utara, menilai Singkawang sebagai daerah potensial walet ke-3 setelah Ketapang dan Pontianak. “Dibandingkan populasi rumah walet di Ketapang yang kian sesak, lahan kosong di Singkawang masih luas,” kata Harry. Alasan lain, tak ada sriti di Singkawang. Pengusaha semakin berani mencemplungkan modal besar-besaran dengan harapan rumah walet yang dibangunnya langsung diisi Collocalia fuchifaga seluruhnya.
Viany Cin Hong, konsultan walet BoSS, mengestimasi rumah baru di Singkawang dapat menghasilkan 10 – 15 kg sarang dalam 2 tahun. Itu sebabnya investor dari Malaysia pun turut melirik Singkawang sebagai daerah potensial penghasil sarang walet. Bukan rahasia, pengusaha walet negeri Jiran memiliki beberapa rumah walet di Ketapang, Pontianak, serta Siantan. Ditambah akses menuju Kuching, Malaysia mudah dicapai melalui jalan darat, membuat perniagaan sarang walet lebih mudah ketimbang di Jawa dan Sumatera.
Sayangnya pertumbuhan rumah walet di Singkawang terlalu cepat, tak sebanding dengan pertambahan populasi walet. Rumah tinggal dan ruko yang beralih fungsi menjadi rumah walet dan dibangun khusus, banyak yang masih kosong. Persaingan memancing walet pun menjadi semakin ketat. “Suara CD hampir tak pernah berhenti sepanjang hari untuk memancing walet,” kata Harry. Itu mengganggu warga lainnya sehingga dikhawatirkan menuai protes.
Padahal, jika terlalu berisik walet pun enggan bertandang. Menurut pemilik Eka Walet Center itu, sebaiknya pemutaran CD hanya pada jam-jam tertentu: saat walet berterbangan di sekitar lokasi. Pada malam hari tak dibutuhkan lagi suara CD.
Melimpah
Peningkatan drastis populasi rumah walet di Singkawang tak terlepas dari kondisi alam yang sesuai dengan habitat hidup walet. Di sebelah barat langsung berbatasan dengan Laut Natuna. Daerah yang berada di ketinggian 0 – 400 m dpl itu mempunyai suhu berkisar 28 – 32oC. Beragam menu pakan bagi sang liur emas melimpah lantaran hutan, rawa, pesawahan, dan areal perkebunan masih terbentang luas. Inilah yang memicu para pengusaha walet membidik Singkawang.
Pendukung lain adanya anggapan walet singkawang mudah dipancing. Cukup dengan menyalakan dupa, maka walet segera berdatangan. Mereka melihat waletwalet yang menghuni klenteng-klenteng karena terpikat bau dupa. Namun, Harry menepis anggapan itu. Menurutnya walet yang bersarang di klenteng bukan lantaran terpancing bau dupa, melainkan karena di klenteng sejuk dan “aman”. “Anggapan itu harus dikikis,” kata lulusan Oral Roberts University, Amerika Serikat itu.
Potensi Kalimantan Barat sebagai tempat peraduan walet memang masih amat besar. Bila sebaliknya, tak mungkin Harry dan Viany berani membuka kantor perwakilan konsultan walet di Pontianak dan Singkawang. Pantas pengusaha walet di Kaliasin berani membangun 2 rumah setinggi tiga tingkat seluas 120 m2 sekaligus yang memakan biaya Rp800-juta. (Andretha Helmina)
Daerah pinggiran kota Singkawang dipadati rumah walet
Foto-foto: Dian Adijaya S
