Peraih BOB di kontes Suharti Cup 2011 di Yogyakarta pada 17 April 2011 itu memang berada di puncak penampilan. Atraksinya membusungkan dada dan sesekali menggetarkan lehernya ampuh menyedot perhatian mayoritas penonton. Pantas saat pembawa acara melontarkan pertanyaan kepada penonton mengenai siapa yang pantas menjadi BOB di sela-sela penjurian BOB, tanpa dikomando, penonton berteriak-teriak menyebut meja nomor 4. Itu meja James Bond.
Menurut Agustinus, juri asal Surabaya, James Bond memiliki banyak keunggulan. “Meski masih muda, serama ini sudah memiliki syarat serama ideal,” kata Agustinus yang mengamati bila saat ini banyak jantan muda (umur 6 – 9 bulan, red) kerap menjadi BOB di berbagai kontes karena penampilannya prima. Selain dada membusung ke depan dan leher bergetar saat atraksi, sayap James Bond maju ke depan. “Sangat istimewa penampilannya,” ujar Damong, juri dari Jakarta Timur.
Tipis
Babak BOB yang menghadirkan 5 jawara dari kategori betina, jantan dewasa A, B, dan C serta jantan muda itu sesungguhnya berlangsung alot. Gladiator dan Robot Kyu muncul sebagai pesaing James Bond. Gladiator, misalnya, penampilannya tidak kalah atraktif. Dadanya membusung dan bergerak aktif di atas catwalk hijau. Sayang saat waktu tinggal 1,5 menit, serama milik SPS dari Sidoarjo, Jawa Timur, itu terjatuh dari meja sehingga didiskualifikasi.
Menurut Prima Husada, juri dari Surabaya, Robot Kyu juga sangat bagus. “Umurnya masih muda, lehernya ada getar, dan sayapnya maju,” ujarnya. Namun, dibandingkan James Bond keaktifan Robot Kyu masih perlu ditingkatkan. Klangenan milik Dikut dari Kediri, Jawa Timur, itu sedikit sekali bergerak di atas catwalk pada saat BOB.
Di luar pemilihan BOB, beberapa kategori menyuguhkan pertarungan ketat. Di kelas anakan jantan, misalnya, selain James Bond, masih terdapat Gold’s Chester milik Vicky dari Jakarta. Keduanya bersaing ketat. Hal itu terlihat dari total nilai keduanya: James Bond meraih 79 angka dan Gold’s meraup 75,25 angka. “Keduanya sama-sama bagus, tetapi pada lomba ini James Bond yang lebih baik,” tutur Agustinus.
Di kelas jantan dewasa A, selisih perolehan angka lebih rapat. Gladiator milik SPS dari Sidoarjo yang menjadi kampiun meraih nilai 77,75. Rival utamanya, Vampire, juga milik SPS Sidoarjo, mendulang 76,50 angka. Menurut Prima Husada, penyebab kekalahan Vampire adalah kematangannya belum pas. “Kurang sedikit matang sebagai serama dewasa,” kata Prima.
Ramai
Kontes yang digelar pada 9 Mei 2011 di Gedung Olahraga Petrokimia Gresik di Jawa Timur itu banyak menyedot peserta terutama dari Jawa Timur. Mereka datang dari Kediri, Madura, Sragen (Jawa Tengah), dan Gresik, hingga Blitar. Peserta luar kota datang dari Jakarta. “Serama kontes mencapai 200-an ekor,” kata Aditya Nugraha, ketua panitia kontes.
Menurut Nizam, pelindung dan pemrakarsa kegiatan lomba itu, kontes serama tingkat nasional itu diselenggarakan sebagai wadah apresiasi kolektor dan hobiis serama di Jawa Timur yang selama ini telah berusaha keras memajukan serama di tanahair. “Ke depan dengan adanya kontes, akan semakin banyak lagi hobiis ayam serama,” katanya. (Dian Adijaya S)
