Monday, August 8, 2022

Dari Sapi untuk Ikan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ratusan lele berukuran 7 – 10 cm di kolam 3 m x 2 m itu saling berebut saat Soelaiman Budi Sunarto menebar pelet. Tidak sampai satu menit sebanyak 1 kg pelet ludes disantap Clarias sp itu. Pelet yang ditebar bukan sembarang pelet. Budi membuat sendiri pelet dengan bahan baku 70% kotoran sapi.

Nun di Karawang, Pamuji Hartono SE MM, juga memberikan pelet kotoran sapi itu pada lele, nila, patin, dan ikan mas. “Ikan menyukainya, mungkin rasanya seperti pelet buatan pabrik,” kata pemilik tempat wisata cerdas Daun Jati di Karawang Timur, Karawang, Jawa Barat, itu. Tak cuma ikan, itik rambon dan domba garut di tempat Pamuji pun melahap habis pelet kotoran sapi yang diberikan.

Meski bahan utama pelet “hanya” kotoran sapi, tetapi ikan tetap tumbuh baik sampai panen. Budi sudah membuktikannya. Dari 500 bibit berukuran 5 cm yang dipelihara di drum galvanis yang diletakkan mendatar, setelah 3 bulan ayah 2 anak itu memanen 455 lele berbobot 90 – 105 g/ekor.

Hilangkan metana

Sebelum diolah, kotoran sapi mesti dikeringkan hingga kadar air berkisar 10%. Caranya, kotoran dijemur 5 – 7 hari atau dipanaskan dalam oven bersuhu 50oC selama 4 – 6 jam. Selain mengurangi kadar air, penjemuran bertujuan menguapkan gas metana. Gas itu beracun karena lebih ringan daripada oksigen sehingga lebih mudah diikat darah. Ikan yang keracunan metana bakal mati.

Pelet kotoran sapi tetap memakai tambahan bahan lain. Supaya berbentuk pelet, bahan jadi dimasukkan ke dalam mesin granulator atau dibuat bulatan-bulatan secara manual. Setelah berbentuk bulatan, pelet dijemur seharian atau dipanaskan selama 15 – 20 menit dalam oven bersuhu 90oC untuk mengurangi kadar air hingga kurang dari 10%. Itu supaya pelet dapat mengapung saat ditebar. Lantaran kering, pelet itu tahan simpan sampai 1 tahun.

Kandungan nutrisi pelet dari kotoran sapi sedang dianalisis kuantitatif. Menurut Budi, ia tengah menunggu hasil pengujian dari pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan yang diharapkan rampung. Meski demikian, pelet asal kotoran sapi punya berbagai kelebihan. Di antaranya mudah dibuat, bahan mudah diperoleh, murah, dan dapat memangkas biaya produksi. “Biaya produksi per kg maksimal hanya Rp3.000,” tutur Budi. Itu dengan catatan, kotoran sapi tidak perlu membeli.

Disukai

Temuan itu bak pelunasan janji yang diucapkan Budi 3 tahun silam di depan ketua Dewan Koperasi Indonesia, Adi Sasono dan Prof Dr Ir Ginandjar Kartasasmita, anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Saat itu ia menjanjikan alternatif untuk mengurangi ketergantungan peternak terhadap pakan yang bahan bakunya diimpor dari negara lain. Makanya ia sempat mencoba limbah tapioka, limbah tahu, sampai ampas gandum. Namun, “Semua bahan itu tenggelam sehingga tidak dimakan ikan,” ungkapnya.

Ide menggunakan kotoran sapi muncul saat Budi membuat pupuk organik dari kotoran sapi. Iseng-iseng, ia melemparkan kotoran sapi kering ke kolam lele. Tak diduga, kotoran kering yang mengapung di air itu menjadi rebutan. Ia segera membawa kotoran sapi kering ke Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah. Hasil analisis menunjukkan terdapat kandungan 8,72 – 10,11% protein, 13,49 – 15,75% serat kasar, dan 2,72 – 3,15% lemak. Artinya, “Dengan perlakuan tertentu kotoran sapi bisa jadi pakan ikan, unggas, bahkan kambing dan sapi,” kata penerima UKM Award 2009 itu.

Lantaran kotoran sapi kering mudah hancur, ia menambahkan limbah molase sisa pembuatan bioetanol. Fungsinya sebagai perekat sehingga kotoran sapi mudah dibentuk menjadi pelet. Toh, itu bukan harga mati. Kalau tidak ada molase, “Gunakan saja air kelapa atau putih telur,” ungkap Budi. Air kelapa bisa dikumpulkan dari pedagang pasar, sedangkan putih telur bisa didapat dari warung penjual jamu.

Persoalan berikutnya, mendongkrak kandungan gizi. Maklum, pakan ikan mesti mengandung 20 – 60% protein, 4 – 8% lemak, 30% karbohidrat, vitamin, serta mineral. Ikan rucah dipilih untuk mengatrol protein dan lemak; bekatul, menaikkan kadar karbohidrat. Mineral dan vitamin sudah tercakup dari bahan perekat – baik menggunakan molase, air kelapa, atau putih telur. Setelah 2 bulan membongkar-pasang berbagai bahan, akhirnya Budi memperoleh racikan pas sehingga peletnya disukai ikan.

Menurut Dr Estu Nugroho, periset di Balai Riset Perikanan dan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) di Bogor, kotoran sapi mengandung nutrisi yang bermanfaat bagi ikan. Utamanya protein, serat, dan beberapa jenis mineral. Namun, Estu mewanti-wanti peternak agar tidak memberikan kotoran sapi segar. “Setidaknya fermentasikan dulu agar kandungan metana menguap,” kata Estu. Jika sudah terfermentasi, apalagi ditambah nutrisi dari air kelapa dan ikan rucah dan dibentuk menjadi pelet terapung, kotoran sapi layak menjadi alternatif untuk pakan ikan. (A Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img