
Tren baru kafe kucing, sembari menyeruput kopi pengunjung bermain dengan kucing.
Reza Sawitri menanti pesanannya berupa secangkir hot capuccino. Sembari menunggu, mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia itu duduk membelai kucing persia di atas meja. Sementara dua saudara kecilnya, Lidia Alvita dan Livia Zahrani sembari menanti fruit punch, asyik bermain dengan kucing jenis maine coon. Mereka bertiga bukan di ruang keluarga, melainkan sebuah kafe bertema kucing. Namanya The Cat Cabin.
Para pengunjung dapat bermain sepuasnya dengan beberapa ras kucing seperti persia, himalayan, maine coon, dan korean short hair di kafe itu. Di The Cat Cabin kucing-kucing ras itu dibiarkan lalu-lalang di sebuah ruangan berukuran 12 m x 5 m. Di dalam ruangan yang selalu berpendingin itu pengunjung dapat dengan bebas duduk lesehan sembari membelai kucing.

Periksa rutin
Selain meja dan kursi pengunjung, pengelola juga memasang tempat bermain kucing di tengah ruangan. Lukisan dan foto beragam jenis kucing menempel di dinding. Kafe itu mampu menampung 15 pengunjung yang pada umumnya penggemar kucing. Reza, misalnya, memelihara delapan kucing persia di rumahnya. Meski memiliki banyak kucing, Reza penasaran untuk mengunjungi kafe kucing di Kemang, Jakarta Selatan, itu.
“Tempatnya bagus, hanya kurang luas dan koleksi kucingnya kurang banyak,” ujar perempuan 20 tahun itu. The Cat Cabin didirikan oleh tiga sekawan pencinta kucing, yakni Siti Fatimah Hapsari Ayuningdyah, Medi Tamma Febrian Mutthaqien, dan Yansen Poaler, pada 14 Februari 2015. Mereka pernah belajar di Singapura melihat beberapa kafe kucing berkembang dan banyak pengunjungnya. Itulah sebabnya mereka kemudian membuat kafe kucing di Jakarta.
Menurut manajer kafe, Tyas Nagatrihastuti, kafe memang diperuntukkan bagi para pencinta satwa karnivora keluarga Felidae itu. Sayangnya, para pencinta itu tidak memungkinkan untuk memelihara kucing di rumah dengan beragam alasan, seperti keluarga tidak mengizinkan atau tidak ada yang merawat. “Pengunjung yang hanya datang sekadar berkumpul dengan teman-temanya pun ada,” ujar Tyas.

Ia mengatakan kucing-kucing di kafenya terjaga kesehatannya. Setiap dua pekan dokter hewan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada kucing itu. The Cat Cabin juga membatasi umur kucing yang menemani pengunjung, minimal 6 bulan. Batasan itu untuk meminimalisir tingkat stres pada kucing muda. Tyas mengatakan salah satu syarat menjadi karyawan kafe adalah harus menyayangi kucing.
Kafe The Cat Cabin memang membatasi jumlah pengunjung, yakni 15 orang. Tujuannya untuk mencegah kucing stres. Untuk kenyamanan dan kesehatan kucing, pengelola kafe melarang pengunjung menggunakan blitz untuk berfoto dengan satwa Fellis catus itu. Larangan lain mengganggu kucing yang sedang tidur, memberi pakan kucing, dan menarik ekor kucing.
Untuk bisa bercengkerama dengan kucing-kucing itu, pengelola mematok tarif untuk dewasa Rp50.000 per jam dengan jam tambahan Rp35.000 per jam. Adapun tarif untuk anak-anak Rp35.000 per jam dan Rp20.000 per jam untuk waktu tambahan. Biaya itu di luar makanan atau minuman yang dibeli di dalam kafe. Kafe yang buka pada pukul 10.00–21.00 itu biasanya ramai pengunjung ketika akhir pekan.

Pertama
Kafe kucing serupa juga muncul di Wirobrajan, Yogyakarta. Anisa Rahma Hamida mendirikan kafe Miaw Shake Cat Cafe pada 14 Ferbuari 2015. Anisa terinspirasi oleh munculnya kafe kucing yang bermunculan di luar negeri. Bersama dua rekannya di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Anisa membuka kafe kucing pertama di Yogyakarta.
Menurut Arba Maulina Rasyidah, manager on duty Miaw Shake Cat Café, kafe yang buka pada pukul 16.00—22.00 itu menyasar pencinta kucing di Yogyakarta. Arba menyasar terutama mahasiswa pencinta kucing yang tidak bisa memelihara kucing di tempat kos. Saat hari biasa, pengunjung kafe sekitar 15 orang, “Bila akhir pekan pengunjung hingga 20 orang,” ujar Arba.
Walau dalam sehari pengunjung hanya ditemani 6—8 kucing, koleksi total Miaw Shake mencapai 12 ekor. Rotasi dilakukan untuk menyiasati agar kucing tidak terlalu lelah selalu berinteraksi dengan pengunjung. Pergantian dilakukan tiap pekan. Selama masa istirahat itu dilakukan perawatan kucing. Sebagian besar kucing yang dipelihara adalah persia medium hair, dan kucing lokal atau kampung berusia 3 bulan hingga 4 tahun.

Untuk kenyamanan pengunjung, ruangan seluas 3 m x 6 m itu dibagi menjadi 2 area yaitu area makan dan area tempat bermain kucing. Demi kenyamanan kucing, pengunjung dalam satu waktu dibatasi paling banyak 12 orang. Bila lebih daripada itu pengunjung diharapkan untuk sabar menunggu antrean. Pengunjung juga tidak dipungut biaya untuk memasuki kafe, dan hanya membayar makanan atau minuman yang dipesan selama berada di kafe.
Berada di kafe itu layaknya di rumah sendiri. Itulah sebabnya beberapa pengunjung kerasan dan berlama-lama berada di kafe. Bahkan ada yang lebih dari 3 jam berada di kafe. Namun, ketika sedang ramai, pengelola menetapkan pembatasan bagi pengunjung. Pengunjung hanya dibatasi satu jam kunjungan di dalam kafe. (Muhammad Awaluddin/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)
