
Sarang walet yang akan diekspor ke Tiongkok dibalut plastik dan disertakan QR-code keping per keping.
Dahulu proses pengemasan sarang berlangsung cepat dan singkat. Para pekerja mencuci sarang burung walet yang sudah bersih dari bulu, kemudian mengeringanginkan. Setelah itu mereka memasukkan ke kantong plastik dan menata di dalam boks mika.
Kini mereka membalut setiap keping sarang dengan plastik transparan, lalu memberi stiker berbentuk oval seukuran koin Rp500. Itulah QR-code. Pemerintah Tiongkok menetapkan aturan agar sarang tetap bersih, terhindar dari kontaminasi debu dan zat-zat yang membahayakan kesehatan ketika dipajang di etalase para pedagang di Negeri Tirai Bambu.

Kadar air
Tujuan lain yang tak kalah penting pembungkusan itu membuat kelembapan terjaga sehingga meminimalisir penyusutan saat pengiriman dan penyimpanan. Ketika tanpa pembungkusan kehilangan bobot sarang mencapai 15% akibat penguapan. Teknik pembungkusan sejatinya tidak sesederhana mengemas buah-buahan atau sayuran untuk pengiriman ke pasar-pasar swalayan. Prosesnya semi otomatis menggunakan mesin shring wrapp dengan ban berjalan.
Para pekerja tetap berperanan penting dalam proses pembungkusan. Mereka yang mengatur suhu dan kecepatan mesin. Suhu yang terlalu panas dapat menyebabkan plastik berlubang atau melekat pada sarang. Bahkan terkadang membuat sarang ‘meletot’, berubah bentuk. Di sisi lain sarang walet bentuknya tak ‘beraturan’, tipis, dan kering sehingga riskan patah. Pengerjaan pembungkusan memakan waktu cukup lama karena perlu konsentrasi dan kehati-hatian. Sebagai gambaran, dalam sehari 15 pekerja terampil hanya bisa memproses 50 kg sarang. Itu berarti memerlukan waktu 2—3 kali lipat dibanding tanpa pembungkusan.
Kadar air pun perlu diperhatikan agar sarang tidak rusak. Kadar air yang paling aman, tidak boleh lebih atau kurang dari 6% agar sarang lentur dan tahan disimpan lama. Terlalu rendah berakibat sarang mudah patah atau regas. Sebaliknya, kadar air terlalu tinggi sarang rentan ditumbuhi cendawan, berwarna kekuning-kuningan atau kehitaman. Lama kelamaan sarang busuk jika tempat penyimpanan kurang baik.

Agar lebih akurat, PT Adipurna Mranata Jaya, salah satu dari 3 perusahaan yang lolos untuk mengekspor sarang walet ke Tiongkok, menggunakan pengukur kadar air digital. Alat bernlai sekitar Rp20-juta itu bisa diatur sesuai kadar air yang dikehendaki. Pekerja tinggal mengambil sebagian sarang yang akan dikemas sebagai sampel, lalu memasukkannya ke dalam alat. Alat akan berbunyi ketika kadar air sarang walet pada batas toleransi yang ditetapkan. Sarang-sarang yang terlalu kering setelah diuji lewat alat pengukur air, segera disemprot air hingga tercapai kadar air ideal. Sementara sarang yang berkadar air tinggi diletakkan di bawah kipas angin untuk dikeringanginkan kembali dalam beberapa menit.
Food grade
Sarang yang sudah memenuhi standar kekeringan, satu per satu dibalut plastik (wrapping). Selanjutnya dipres selama kurang lebih 1 menit di dalam mesin shring wrapp yang panasnya diatur sekitar 130—140°C. Hasil balutan terlihat rapi. Sambungan tak begitu kentara dan lekukan-lekukan sarang pun tertutup sangat ketat, terutama di bagian depan. Adapun di bagian belakang agak menggembung berisi udara karena bentuk sarang yang cekung.
Plastik wrapping ‘menyatu’ dengan sarang, sehingga sepintas melekat erat. Namun, hal itu tak perlu dikhawatirkan lantaran plastik selain sangat elastis juga lolos uji migrasi dari laboratorium kompeten. Artinya plastik tak akan menempel pada sarang saat dilepas. Lagi pula plastik setebal 10—15 mikron itu jenis yang aman bagi kesehatan tubuh.
Balutlah sarang serapat mungkin, meski cukup 1 lapis. Adanya lubang bisa meningkatkan penguapan yang pada gilirannya meningkatkan penyusutan bobot sarang. Usai dibungkus, pekerja dengan teliti menimbang dan menginput satu per satu sarang dalam komputer supaya bobot satu sama lain angkanya tidak tertukar. Sebab, bobot masing-masing sarang harus sesuai dengan yang diinformasikan dalam QR-code yang akan segera di tempel.

Pihak berwenang urusan barang masuk di Tiongkok demikian ketat memeriksa data bobot setiap keping sarang yang tersimpan di QR-code. Jika tidak sesuai fakta, sarang ditolak masuk pasar Tiongkok. Oleh karena itu para eksportir harus cermat memperkirakan besarnya penyusutan bobot agar sesuai dengan yang tercantum dalam QR-code.
Eksportir jangan beranggapan angka bobot di QR-code lebih rendah daripada kenyataan—menguntungkan pihak importir—akan lebih aman. Batas toleransi yang bisa diterima untuk setiap bobot 10 g sarang yaitu plus-minus 0,3 g. Berdasarkan pengalaman, dengan kadar air 6—7%, untuk sarang berbobot 10,6 g diinput di QR-code seberat 10 g.
QR-code
QR-code menjadi kunci pengawasan perdagangan sarang walet di Tiongkok. Setiap keping sarang walet yang masuk pasar Tiongkok wajib ditempeli QR-code. Di dalam stiker yang dapat dipindai telepon genggam inilah tracebillity atau ketelusuran sarang walet tercatat detail. Mulai dari asal rumah walet, tanggal pemanenan, proses pencucian, pengemasan, pengiriman, hingga perusahaan yang mengekspor, tercakup di dalamnya.

Semua pihak entah konsumen, pejabat berwenang, maupun produsen memanfaatkannya untuk beragam kepentingan. Tak heran bila sekarang di Tiongkok penggunaan telepon genggam tengah tren di masyarakat. Ketika hendak belanja sarang walet mereka memindai QR-code terlebih dahulu. Selanjutnya mereka, para konsumen, bisa langsung terinformasikan berbagai hal terhadap produk yang dibelinya kepada khalayak ramai, baik berupa komplain maupun pujian.
QR-code dikeluarkan oleh pejabat pemerintah yang berwenang di Tiongkok. Dibuat menggunakan teknologi tinggi yang sulit dipalsukan atau didaur ulang. QR-code yang sudah ditempel di salah satu sarang, dijamin rusak saat dicoba dipindahkan ke sarang lain. Makanya pemerintah Tiongkok dengan QR-code bisa mengetahui pasti total tonase impor sarang walet, termasuk daerah penyebarannya. Bagi para eksportir keberadaan QR-code juga penting untuk mengetahui kekuatan pasar di masing-masing wilayah di Tiongkok. Ekspor ke Tiongkok memang sedikit rumit, tapi membuat perdagangan sarang walet mulai bangkit. (Dr Dipl-Biol Boedi Mranata, ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia)
