
Lengkeng pingpong tumbuh menyimpang, dompolan buah lebih banyak dan matang serempak.
Bentuk daun lengkeng pingpong milik Wiwik Wijayahadi di Yogyakarta itu elips bertepi rata. Lazimnya tepi daun pingpong melengkung ke bawah atau bergelombang. Wiwik semakin heran melihat pingpong koleksinya itu ketika berbuah. “Jumlah buah di setiap dompol lebih banyak dibanding pingpong biasa,” ujar Wiwik. Dalam satu dompol berisi hingga 50 buah, dua kali lipat dari pingpong biasa.
Padahal, jumlah buah pingpong rata-rata 20—25 butir per dompol. Buah matang berkulit cokelat dengan semburat merah tipis-tipis. Ukuran buah seragam, tetapi bila dibandingkan dengan pingpong biasa ukurannya sedikit lebih kecil. Daging buah cenderung putih. Buah yang baru dipetik rasanya sangat manis, tetapi agak berair. Istimewanya, tingkat kematangan buah rata dibanding pingpong biasa.

Varian baru
Wiwik menuturkan pingpong biasa berbuah mirip padi. “Buah yang berada di ujung dompolan matang lebih dahulu,” ujar alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Ia tak menduga pingpong koleksinya itu bakal menghasilkan buah yang berbeda. Kisahnya bermula saat ia membeli ratusan bibit mangga arumanis pada 2002. Ternyata di antara bibit-bibit mangga itu terselip satu bibit pingpong.
Ia lantas menanam bibit dari hasil perbanyakan okulasi itu di pekarangan rumah. Pingpong berhasil berbuah. Pada 2009, ia menyemai sekitar 200 biji dari buah pingpong itu untuk persediaan batang bawah. Ketika seluruh bibit mengeluarkan daun ketiga, ia menemukan satu bibit berpenampilan berbeda. “Lembaran daunnya lurus dan rata, tanpa lekuk,” ujarnya. Ayah dua anak itu lantas memisahkan bibit itu untuk ditanam hingga tinggi bibit mencapai 1 meter.
Selanjutnya ia menempelkan 3 mata tunas pingpong tak biasa itu pada batang diamond river yang terletak di depan rumah pada 2010. Ia memilih teknik top working agar tanaman cepat berbuah. Benar saja, setiap mata tunas yang ditempel segera memunculkan 2 cabang baru. “Pada cabang itu-lah dompolan buah keluar,” kata Wiwik. Setahun kemudian, kerabat rambutan itu siap panen.

Wiwik memperoleh 6 dompol buah pada panen perdana itu. Setiap dompol berisi sekitar 50 buah. Penggemar kuliner itu tak memberikan perlakuan khusus bagi varian pingpong koleksinya. Ia hanya menaburkan pupuk NPK mutiara sebanyak 1 kg setiap 4 bulan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman. Sesekali ia menyemprotkan pupuk daun sesuai dosis anjuran.
Menurut pakar buah di Bogor, Jawa Barat, Dr Ir Reza Tirtawinata MS, pingpong milik Wiwik bisa dibilang varian baru. “Perbanyakan asal biji memungkinkan munculnya tanaman berkarakter baru,” ujarnya. Ia menduga meski biji yang diperoleh dari pingpong, bisa jadi serbuk sarinya diperoleh dari lengkeng lain. Seperti yang terjadi pada pingpong milik Wiwik, daun dan buah yang muncul berbeda dengan induknya.

Tabulampot
Sriyanto di Klaten, Jawa Tengah, juga memiliki varian pingpong. Semula ia menanam bibit pingpong setinggi 20 cm dari hasil perbanyakan biji di halaman rumah pada 2006. Tiga tahun berselang, tanaman berbuah. Sriyanto memanen semua buah lalu menyemai bijinya untuk dijual. Bibit siap jual berukuran tinggi 20 cm.
“Saat itu lengkeng pingpong sedang naik daun sehingga banyak yang tertarik untuk menanam,” ujarnya. Sriyanto menyisakan satu bibit untuk ditanam sendiri. Ia heran melihat perbedaan daun tanaman yang cukup mencolok. “Lembaran daunnya cenderung lurus,” ujar Sriyanto. Ia menanam pingpong tak biasa itu di tanah dan rutin melakukan pemupukan setiap 3 bulan. Pria berusia 56 tahun itu mengencerkan 250 gram NPK majemuk 16:16:16 dalam 10 liter air untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman.

Ketika tanaman berbuah, Sriyanto menjumpai sosok pingpong berpenampilan berbeda. Ia tak menyangka perbedaan bentuk daun akan mempengaruhi penampilan buah. Jumlah buah per dompol lebih banyak, bobotnya mencapai 1 kg. Dompolan buah tidak gampang rontok. Saat kulit buah dibuka, daging buahnya lebih tebal dan renyah dibanding pingpong biasa. “Kemanisannya pun mengungguli pingpong biasa,” ujar Sriyanto.
Isto Suwarno, pekebun lengkeng di Klaten, Jawa Tengah, menuturkan varian pingpong milik Sriyanto cocok untuk tabulampot atau pemanis halaman rumah. “Tajuk tanaman membentuk kanopi secara alami sehingga tampak cantik,” ujarnya. Bandingkan dengan pingpong biasa yang tumbuh ngelancir. Keistimewan itu semakin bertambah lantaran jumlah buah dalam dompolan lebih banyak dan citarasanya yang manis.
Uniknya, pingpong hasil panen Sriyanto ternyata laku dijual. Isto menampung 30 kg varian pingpong itu lantas menjualnya dengan harga Rp25.000 per kg. Padahal, pengalaman Isto menjual lengkeng, konsumen enggan membeli pingpong lantaran ukuran bijinya besar. “Konsumen menyukai lengkeng berbiji kecil, manis, dan kering,” ujarnya. (Andari Titisari)
