Wednesday, January 28, 2026

Agar Hutan Kembali Perawan

Rekomendasi
- Advertisement -
Panorama Hutan Harapan di Provinsi Jambi yang kembali hijau. Kini hutan itu juga menjadi habitat beragam satwa.
Panorama Hutan Harapan di Provinsi Jambi yang kembali hijau. Kini hutan itu juga menjadi habitat beragam satwa.

Menggunakan hak pengusahaan hutan (HPH) untuk memperbaiki hutan.

Orang menganologikan hutan sebagi paru-paru. Ketika paru-paru rusak, sulitlah bernapas. Itulah sebabnya PT Restorasi Ekosistem Indonesia (Reki) merestorasi hutan yang rusak. Restorasi adalah memulihkan kawasan ekosistem hutan agar kembali alami seperti semula. Tujuannya untuk memulihkan kawasan hutan agar tercapai keseimbangan ekologi, kembalinya habitat alami, dan keanekaragaman hayati.

Perusahaan itu memanfaatkan izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem (IUPHHK-RE) untuk merestorasi hutan kepada kondisinya semula. Lahan seluas 98.555 ha yang direstorasi Reki itu mereka namai Hutan Harapan. Hingga 2016, Reki merestorasi luasan 4.397 ha. Mereka menanam lebih dari 1,2-juta bibit berbagai tanaman lokal Sumatera seperti kempas Koompassia malaccensis, merpayang, dan bulian.

Jelutung, salah satu hasil hutan bukan kayu di Hutan Harapan.
Jelutung, salah satu hasil hutan bukan kayu di Hutan Harapan.

Tindakan tegas
Meski lambat tumbuh, pohon-pohon itu membentuk tutupan hutan yang mendukung kehidupan berbagai tanaman dan satwa. Itu sebabnya Reki berusaha mengembalikan kondisi hutan dataran rendah itu kepada kondisinya semula, yaitu sebelum adanya eksploitasi kayu maupun konversi lahan. Upaya itu sulit, apalagi kebanyakan orang memandang hutan sebagai lahan tak bertuan yang bebas digarap.

Tekanan manusia terhadap hutan di perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan itu meningkat sejak penanaman kelapa sawit merebak. Menurut patron Hutan Harapan, Boedi Mranata, banyak orang datang dan mengokupasi lahan dalam hutan.

Celakanya, mereka tidak hanya mengklaim tanah untuk sendiri. “Banyak perambah yang memasang patok-patok pembatas lalu menjual lahan itu kepada pemukim berikutnya,” kata Boedi. Pemukim baru berdatangan dari berbagai daerah lantaran mendengar kabar adanya lahan luas dan murah. Beberapa pendatang bahkan rela menjual lahan mereka di tempat asal untuk membeli lahan dalam kawasan Reki, yang tentu saja dijual secara ilegal.

Perkampungan masyarakat Batin Sembilan binaan Reki.
Perkampungan masyarakat Batin Sembilan binaan Reki.

Kehadiran pemukim menjadi tantangan besar bagi upaya restorasi hutan. Mereka membuka hutan tidak sekadar untuk tinggal atau berladang. Kebanyakan menanam tanaman perkebunan seperti karet atau kelapa sawit. Masalahnya, penanaman itu tidak berhenti di luasan tertentu, tetapi terus-menerus semakin luas. Akibatnya, hutan yang rusak justru bertambah.

Beragam keterampilan
Untuk menyadarkan para pemukim, Reki menempuh berbagai cara. Intinya, “Kami berusaha menyadarkan bahwa yang mereka lakukan itu salah,” kata Boedi Mranata. Bagaimana tidak, banyak pendatang berharap bahwa seiring waktu negara bakal mengakui kepemilikan mereka terhadap lahan itu.

Mereka berusaha mengukuhkan kepemilikan itu dengan mengajukan permohonan sertifikat. Namun, setelah bertahun-tahun mengajukan sertifikat tetapi selalu mendapat penolakan dari Badan Pertanahan, para pemukim mulai sadar. Lahan yang mereka pijak itu berstatus hutan, bukan kebun apalagi hunian. Saat upaya persuasif buntu, Reki terpaksa bertindak tegas melibatkan perangkat hukum.

Menteri Kerja Sama Pembangunan Denmark, Ulla Tornaes (terdepan).
Menteri Kerja Sama Pembangunan Denmark, Ulla Tornaes (terdepan).

Beberapa pelaku perambahan atau perburuan satwa menjalani hukuman kurungan. Hal itu, menurut Boedi, beberapa kali mereka lakukan untuk menimbulkan efek jera. Dampaknya mulai tampak, kini ada 2 kelompok yang mau menjalin kemitraan. Mereka adalah kelompok pemukim di Kunanganjaya 1 dan sekumpulan masyarakat Batin 9—warga asli penghuni hutan yang hidup mengandalkan perburuan dan peladangan berpindah.

Reki mengarahkan penanaman dengan pola agroforestri atau menanam berbagai jenis tanaman di suatu lahan. “Menanam karet atau sawit boleh saja, tapi dibarengi dengan tanaman lain seperti gaharu atau pohon keras asli Sumatera,” kata manajer Kemitraan Masyarakat PT Reki, Jomi Suhendri. Kelak ketika pohon keras semakin tinggi, tanaman produksi ternaungi sehingga produksinya tidak lagi optimal.

Itu tidak mengganggu penghasilan warga lantaran saat itu mereka tidak lagi mengandalkan hasil tanaman produksi sebagai pencaharian utama. Melalui kemitraan, Reki memberikan pendidikan bagi anak-anak warga migran dan pelatihan keterampilan mengolah hasil hutan bukan kayu (HHBK) kepada warga berusia produktif. Keterampilan itu terutama mengolah rotan menjadi kerajinan, mengolah damar darah naga Daemonorops draco.

Melibatkan warga
Jomi Suhendri mengharapkan penguasaan keterampilan itu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap hasil hutan berupa kayu. Potensi HHBK di Hutan Harapan tidak bisa dipandang sebelah mata. Jernang adalah salah satu getah termahal yang harganya fantastis, lebih dari Rp700.000 per kg serbuk (baca Ini Dia Getah Termahal, Trubus November 2010). Rotan termasuk tanaman cepat tumbuh dan potensinya melimpah di dalam hutan.

Boedi Mranata (jongkok berkacamata), Patron Hutan Harapan.
Boedi Mranata (jongkok berkacamata), Patron Hutan Harapan.

Peningkatan keterampilan mengolah HHBK itu menjadi tujuan jangka panjang Reki. Dalam jangka pendek, Reki melibatkan warga migran dalam kegiatan restorasi hutan, seperti pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman untuk restorasi hutan. Reki membayar warga sesuai kinerja mereka. Pendidikan juga menjadi salah satu jalan memotong ketergantungan terhadap hutan.

Untuk itu PT Reki mendirikan sekolah bersama untuk anak-anak warga migran dan masyarakat Batin Sembilan (masyarakat adat penghuni hutan yang mengandalkan hewan buruan dan perladangan berpindah). Meski hanya mempunyai 2 ruang kelas, sekolah itu mempunyai 30 siswa. Sekolah bersama itu sudah meluluskan 1 angkatan, sayang kebanyakan memilih tidak meneruskan pendidikan lantaran kendala jarak atau biaya.

Hutan Harapan mempertahankan pola kemitraan dengan warga.
Hutan Harapan mempertahankan pola kemitraan dengan warga.

Pendekatan humanis dalam melestarikan hutan itu menarik perhatian banyak pemerhati lingkungan atau kemanusiaan, terutama dari negara-negara Eropa. Pada 1 Mei 2017, Menteri Kerja sama Pembangunan Denmark, Ulla Tornaes, dan Duta Besar Denmark, Casper Klynge, mengunjungi Hutan Harapan dan menyempatkan meninjau serta berinteraksi dengan siswa-siswa sekolah bersama itu.

Denmark merupakan salah satu negara donor yang menyokong operasional Hutan Harapan. Donor lain adalah Pemerintah Inggris, Uni Eropa, Bank Pembangunan Jerman, dan Singapura. Ulla mengharapkan agar Hutan Harapan mempertahankan pola restorasi dengan memperhatikan aspek manusia yang menghuni wilayah hutan. “Pola taman nasional, yang melarang kehadiran manusia menghuni hutan, tidak cocok di sini,” kata Ulla.

Kelestarian Hutan Harapan vital lantaran di sana menjadi hulu sungai Kapas dan Meranti. Di Desa Sungai Bahar—sekitar 10 km sebelum memasuki kawasan PT Reki—rumah-rumah walet berdiri tegak.

Menurut Boedi, hutan menyediakan pakan berlimpah bagi burung walet sehingga penghasil liur emas itu banyak dijumpai di sekitar sana. “Negara lain saja peduli dengan hutan kita. Keterlaluan kalau kita sendiri justru abai apalagi malah merusak hutan,” kata Boedi. Kelestarian hutan memang menuntut perhatian dan keterlibatan semua pihak, termasuk kita. (Argohartono Arie Raharjo)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img