Buah palsu teknologi baru untuk mengontrol lalat buah yang acap merugikan petani.

Trubus — Jambu biji kristal meranum di kebun Soesilohadi Purwanto. Petani di Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat, itu menanam total 2.200 pohon di lahan 2 hektare. Pada panen ke-3 ia girang bakal meraup omzet besar. Namun, impian itu sirna oleh makhuk kecil, lalat buah Bactrocera dorsalis. Serangga betina dewasa menusukkan ovipositor untuk meletakkan telur ketika buah masih pentil.
Telur itu berkembang menjadi larva yang merusak bagian dalam buah. Celakanya bukan hanya satu-dua buah yang terserang. Hampir 80% buah anggota famili Myrtaceae itu gagal jual karena serangan lalat buah. Soesilohadi Purwanto menaksir volume panen yang terserang lalat buah mencapai 1,4 ton. Ketika itu pada 2015 harga jual jambu biji kristal di tingkat petani mencapai Rp25.000 per kg sehingga kerugiannya Rp350-juta.
Buah palsu

Pekebun di Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat, Acep Supriyatna, juga memiliki pengalaman buruk akibat serangan lalat buah. Lalat buah menyerang hingga 65% peria di kebunnya. “Buah rontok dan busuk akibat lalat buah harus segera disingkirkan dari kebun. Sebab bisa menjadi media tumbuh dan sumber makanan lalat buah. Pendam dalam lubang galian kedalaman 1 m sehingga peluang hidup pupa kecil,” ujar Acep.
Menurut dosen Hama dan Penyakit Tanaman, Universitas Padjadjaran, Dr. Agus Susanto, S.P., M.Si., lalat buah merupakan salah satu hama paling merusak dan penyebarannya luas. Setiap lalat betina mampu bertelur hingga 2.000 butir telur setiap kali kopulasi. Hama itu menyerang lebih dari 20 jenis buah-buahan seperti jambu, mangga, belimbing, pepaya, jeruk, pisang, dan durian.

laboratorium untuk dilakukan identifikasi. (DOk. Tiffani Dias Anggraeni)
Pada permukaan kulit buah yang terserang tampak noda hitam. “Noda hitam itu bekas tusukan ovipositor lalat buah dewasa saat meletakkan telur,” ujar Agus. Bila buah yang terserang dibelah, terlihat larva lalat buah. Selanjutnya larva merusak daging buah sehingga buah menjadi busuk dan gugur sebelum masak. Untuk mencegah serangan, Agus menyarankan untuk segera mengumpulkan dan memusnahkan buah yang gugur.
Dengan begitu larva yang berkembang di dalam buah tidak lepas dan berkembang biak lagi. Doktor hama dan penyakit tanaman alumnus Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung itu menuturkan petani sebetulnya dapat mencegah serangan lalat buah sejak buah masih pentil dengan cara membungkusnya. Cara mutakhir mengendalikan lalat buah dengan memasang buah sintetis.
Tetap hemat
Agus menciptakan inovasi dengan membuat buah sintetis yang serupa dengan buah asli. Buah tiruan itu berbahan baku plastik polipropilene (pp). Kini Agus baru menciptakan 2 buah tiruan, yakni mangga dan jambu biji. Alasannya karena tingkat serangan lalat buah pada kedua buah itu relatif tinggi. Namun, pada masa mendatang berpeluang untuk membuat bentuk buah lain.

Ia memasukkan dan melapisi cairan atraktan, yakni metil eugenol 900 g per liter untuk menarik serangga dewasa. Bentuk dan aroma buah sintetis itu mirip buah asli sehingga lalat buah pun mendekat. Pada sebuah uji coba, Agus menggantung 3—5 buah sintetis di setiap pohon setinggi 1—1,5 meter. “Hasilnya efektif mengusir lalat buah karena tertipu dengan bentuk dan aroma yang memikat. Akibatnya hama itu tidak menyerang buah asli,” tutur Agus.
Periset itu lalu melepas buah tiruan dari tangkai pohon dan mencuci kembali untuk membersihkan telur lalat buah yang disuntikkan oleh serangga dewasa. Menurut Agus, petani dapat menggunakan buah palsu itu hingga 5 kali sehingga relatif awet. Harga satu buah sintetis itu mencapai Rp30.000—Rp50.000 tergantung ukuran. Petani jambu biji membutuhkan hingga 3.000 buah palsu di lahan 1 hektare berpopulasi 1.000 tanaman.
Artinya petani perlu menginvestasikan buah sintetis minimal Rp3-juta per ha. Namun, karena penggunaannya berulang maka investasi itu relatif kecil dibandingkan dengan kerugian seperti pengalaman Soesilohadi Purwanto. Dengan 5 kali pemakaian, maka biaya sekali pemakaian buah palsu itu hanya Rp600.000. Bandingkan dengan kerugian Soesilohadi dalam sekali panen yang mencapai Rp350 juta.
Serangga mandul

Cara lain dengan mengendalikan lalat buah menggunakan umpan protein seperti hasil riset Yuli Putri Rahmawati di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang. Yuli memanfaatkan protein asal limbah pabrik bir dan memproses sedemikian rupa agar lalat buah mudah mencernanya. Ia mencampur protein itu dan insektisida lalu menyemprotkan ke daun tanaman.
Konsentrasi larutan 250 cc per liter air. “Aplikasinya persis zat pemikat tetapi sasarannya lalat betina,” ujar Yuli Putri Rahmawati. Penggunaan zat pemikat dan umpan protein dapat dipadukan dengan teknologi serangga mandul. Teknologi itu juga memanfaatkan radiasi sinar gamma pada kepompong lalat buah berumur 6 hari sehingga menghasilkan serangga steril.
Dosis sinar gamma 90 gray. “Kepompong itu disebar di kebun sebanyak 9 kali populasi di lapang. Dengan begitu peluang perkawinan serangga normal dan mandul lebih besar,” tutur Murni Indarwatmi yang menguji coba cara itu. Menurut Murni, periset dari Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (PATIR BATAN), secara teori cara itu cukup ampuh. Sebab, populasi lalat di alam secara perlahan berkurang. Itu lantaran telur hasil perkawinan lalat jantan mandul dengan lalat betina steril.
Saat berumur 1—2 bulan, lalat betina dan jantan mandul yang dilepas mati dengan sendirinya. Perlu diperhitungkan populasi lalat jantan fertil yang berada di alam. Itu agar lalat jantan mandul dapat berkompetisi untuk memperoleh betina. Menurut penelitian Murni Indarwatmi, gerakan lalat jantan mandul lebih lamban dibandingkan dengan lalat jantan di alam. Akibatnya lalat jantan sering kalah bersaing dalam memperebutkan lalat betina.

Majalengka, Provinsi Jawa Barat.
Menurut dosen Entomologi, Institut Pertanian Bogor, Dr. Endang Sri Ratna, salah satu cara efektif, mudah, dan ramah lingkungan untuk mengendalikan lalat buah menggunakan atraktan. “Meskipun cara lama tapi atraktan aman, tidak meninggalkan residu, dan tidak bersifat volatif atau mudah menguap. Daya jangkaunya pun cukup jauh, mencapai ratusan meter bergantung pada arah angin,” ujar Ratna.
Untuk menentukan jenis atraktan yang efektif di suatu daerah diperlukan data mengenai spesies lalat buah di wilayah itu. Sebab, spesies tertentu hanya tertarik dengan jenis atraktan tertentu. Zat aktif dalam perangkap berupa metil eugenol dan cue lure yang beraroma seperti lalat buah betina saat berahi. Itulah sebabnya lalat buah jantan mengejar ke sumber aroma.
Daya tangkap atraktan bervariasi, bergantung pada lokasi, cuaca, komoditas, dan keadaan buah di lapangan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan atraktan dapat menurunkan intensitas serangan lalat buah sebesar 40—65%. Penerapan atraktan juga mudah yaitu dengan meneteskannya di kapas dan menyematkan di perangkap berupa botol plastik atau tabung silinder.
Terdapat lubang kecil di empat sisi botol. Lalat akan masuk dan terperangkap. Untuk mengetahui distribusi lalat buah, pada tiap-tiap lokasi dipasang 4 buah trap (2 buah trap diberi atraktan metil eugenol dan 2 trap cue lure). Letakkan di bawah kanopi tanaman buah dengan tinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Jarak masing-masing trap sekitar 25 m. Pemasangan dilakukan selama 2 jam.

Menurut doktor alumnus Institut Pertanian Bogor itu spesies lalat buah yang paling banyak tertangkap pada perangkap atraktan metil eugenol adalah B. carambolae dan B. papayae. Hal itu karena di lokasi penelitian banyak ditanam pohon belimbing, peria, dan jambu biji yang merupakan inang bagi jenis lalat buah. Dari 45 spesies lalat buah yang ditemukan hanya 6 spesies yang dapat menyerang buah-buahan dan sayuran (lihat boks: Inang Lalat Buah).
Cara lain mengendalikan lalat buah dengan menyemprotkan insektisida. Soesilohadi Purwanto yang juga mengebunkan mangga rutin menyemprotkan larutan insektisida. Konsentrasi larutan 10 ml pestisida per 100 l air. Larutan itu cukup untuk menyemprot areal tanam 500 m². Soesilohadi mengelola 3 hektare kebun mangga. Pada 2013 hampir 75% buah mangga di lahannya habis terserang lalat buah.
Purwanto selalu menyemprotkan pestisida 2 pekan sekali untuk mencegah hama asal Afrika itu. “Pestisida yang baik cukup dengan dosis rendah, tapi efektif mengendalikan hama, tahan cucian air hujan, dan aman terhadap musuh alami,” tutur Soesilohadi. Menurut Agus mangga tergolong buah yang rentan serangan lalat buah. Berdasarkan data Direktoral Perlindungan Tanaman Hortikultura, pada 2015 luas areal tanam mangga di Jawa Barat yang terserang lalat buah mencapai 73.632 pohon. Dengan beragam cara petani berupaya melindungi buah dari hama lalat buah (Tiffani Dias Anggraeni)
