Lebih dari 2.000 ikan hias berbagai jenis berkompetisi di ajang Nusantara Aquatic (Nusatic) 2017.
Nusantara Aquatic (Nusatic) 2017 berlangsung sukses dan meriah. Dalam ajang yang digelar pada 1—3 Desember 2017 di International Convention Exhibition (ICE), Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, itu, terselenggara 9 kontes ikan hias yang diiikuti lebih dari 2.000 ekor aneka jenis ikan hias. Oleh karena itu, ketua panitia, Sugiarto Budiono, mengatakan Nusatic 2017 sebagai pameran dan kontes ikan hias terbesar di dunia.
Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ikan Hias Indonesia (PIHI), Maxdeyul Sola, Nusatic adalah wujud persatuan semua pehobi ikan hias di tanahair. Selama ini cukup sulit menyatukan komunitas ikan hias dalam satu kegiatan. “Musababnya pehobi ikan hias berpola pikir unik dan khas,” kata Sola. Ia juga berharap Nusatic mampu memotivasi industri ikan hias dalam negeri agar menjadi produsen nomor satu di dunia. Lebih lanjut Sola menuturkan beternak ikan hias memiliki beberapa kelebihan, salah satunya menghasilkan pendapatan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya komoditas pangan. Budidaya ikan hias juga dapat dilakukan di lahan sempit. Berikut rangkuman kontes ikan hias yang digelar pada ajang Nusatic 2017.

Koi
Kontes koi bertajuk 14th All Indonesia Koi Show 2017 menobatkan kohaku milik pehobi asal Surabaya, Sugiarto Kurniawan, sebagai grand champion (GC). Itu gelar tertinggi pada kontes koi nasional. Ikan sepanjang 92 cm itu layak menang karena memenuhi kriteria penilaian seperti bertubuh proporsional. Menurut panitia acara, Maizirwan, gelaran kontes itu menjadi ajang penutupan tahunan yang diselenggarakan Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI). Total jenderal 133 koi dari seluruh Indonesia seperti Medan, Sumatera Utara, dan Makassar (Sulawesi Selatan) meramaikan acara.

Maskoki
Kontes bertajuk All Indonesia Goldfish Competition pun tak kalah semarak. Menurut panitia acara, Rinaldy Manoppo, sebanyak 175 maskoki beradu cantik dalam kontes yang diselenggarakan Indonesian Goldfish Community (IGC) itu. Beberapa peserta kontes bahkan berasal dari mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Lebih lanjut Marshal—panggilan akrab Rinaldy—menuturkan jumlah peserta itu meningkat dibandingkan kontes serupa setahun lalu yang hanya diikuti 150 peserta. Ia berharap kuantitas dan kualitas ikan makin meningkat di kontes selanjutnya. Hasil kontes menobatkan ryukin superjumbo milik Daniel Sayuti sebagai grand champion (GC). Selain postur tubuhnya yang proporsional, ryukin milik Daniel itu bermental juara dan aktif berenang sehingga menjadi pilihan terbaik para juri.

Killi
Kontes lain yang tak kalah seru yaitu 2nd Indonesia Killifish Association Convention. Menurut juri sekaligus panitia acara, Kevin Hilarius, 120 killi dari dalam dan luar negeri seperti Jerman dan Ceko menyemarakkan acara. Selain dari Indonesia, panitia juga mendatangkan juri asal Vietnam. Hasil penilaian menobatkan killi milik pehobi asal Ceko, Ivo Rudicky, sebagai jawara pada kontes internasional killi ke-2 di Indonesia itu karena berukuran lebih besar dan bercorak lebih atraktif dibandingkan dengan killi lain.

Betta
Selain killifish, pemenang kontes cupang bertema Ultimate International Betta Show pun berasal dari luar negeri. Cupang halfmoon milik Vichek Plaisangwoon asal Thailand sukses menggondol gelar best of show. Berenang aktif dan bermental juara modal cupang itu menjadi yang terbaik di antara 168 kontestan. Sistem penilaian mengacu kepada aturan International Betta Congress (IBC). Menurut ketua panitia, Daniel Indarta, selain Indonesia dan Thailand, peserta juga berasal dari Tiongkok, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Daniel mengandalkan 6 juri untuk menilai kontes. Tiga di antaranya dari tanah air, 2 juri dari Singapura, dan 1 juri asal Malaysia.

Guppy
Pada kontes guppy bertajuk The 2nd Indonesia Guppy Show, giliran guppy milik Thum Chee Seng asal Malaysia yang menjadi grand champion (GC). Ikan hias mungil itu menjadi yang terbaik di antara 140 peserta karena bertubuh proporsional dan lincah. Menurut panitia acara, Sahlan Rosyadi, selain dari dalam negeri, peserta kontes yang diselenggarakan Indonesia Guppy Popularize Association (IGPA) itu juga berasal dari Taiwan, Malaysia, Tiongkok, dan Thailand. Panitia membagi peserta menjadi 6 kelas dan 8 subkelas.

Louhan
Perhimpunan Pecinta Louhan Indonesia (P2LI) tak mau ketinggalan untuk menyemarakkan Nusatic 2017. Komunitas pehobi louhan itu menyelenggarakan kontes bertajuk Louhan Final Liga 2017. Menurut panitia acara, Davin Widjaja, acara itu sebagai penutup dari seluruh rangkaian kontes louhan sepanjang 2017. Total jenderal 298 louhan beradu cantik yang terbagi menjadi 14 kelas. Para juri menobatkan chinhwa milik Muhammad Yogie menjadi grand champion (GC) karena berenang aktif dan bertubuh proporsional. Adapun gelar tim terbaik diraih tim Villa dengan nilai 2.804.

Diskus
Nusatic 2017 juga dimeriahkan oleh kontes diskus bertajuk 9th IDC Discus Contest. Menurut salah satu juri, Alvin Surya BSBA, kualitas peserta pada kontes kali ini meningkat dibandingkan dengan pada 2016. Sebanyak 80 diskus dari 40 pemilik menjadi peserta kontes. Tiga juri mengukuhkan diskus berjenis leopard sebagai grand champion (GC) lantaran berwarna cerah dan berpenampilan bagus.
Selain itu, diskus milik Sugiarto Budiono itu memiliki spotted ring, yaitu totol yang saling terangkai membentuk cincin. Menurut Alvin keistimewaan itu bersifat genetik. “Untuk mendapatkan itu perlu waktu yang lama karena mesti mengawinsilangkan antardiskus berkualitas bagus,” kata Alvin.

Arwana
Kontes bertajuk 4th ACI Cup menjadi ajang unjuk prestasi arwana koleksi Ronald. Pehobi asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu berhasil menjadi grand champion (GC). Para juri memberi poin nilai tertinggi karena siluk merah koleksi Ronald bertubuh proporsional. Adapun pehobi asal Jakarta, Ken Rusli, berhasil menyabet gelar young champion. Menurut juri sekaligus panitia acara, M. Rafiq, sebanyak 118 arwana dari Jakarta, Bogor (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), dan Surabaya (Jawa Timur) menyemarakkan acara. “Ada juga peserta dari Filipina dan Thailand,” kata Rafiq.

Akuaskap
Nusatic 2017 juga dimeriahkan kontes akuaskap bertajuk 2nd Indoscaperace. Menurut panitia kontes, Budi Wijaya, sebanyak 175 peserta dengan 194 akuarium yang mengikuti kontes. Panitia membagi peserta menjadi 5 kelas, yaitu race 30, race 60, race 90, misteri, dan mature. Panitia juga mendatangkan 12 juri dari dalam dan luar negeri untuk menilai. Menurut Budi, kualitas akuaskap para peserta membaik karena penataan hardscape sudah bagus. Sayangnya keragaman jenis tanaman masih rendah. ”Oleh karena itu keragaman tanaman yang digunakan menyumbang nilai tertinggi,” kata Budi. (Muhamad Fajar Ramadhan dan Muhammad Awaluddin)
