
Racikan beberapa herbal manjur mengatasi bronkitis.
Trubus — Tubuh Juminah terkulai lemah. Berjalan pun perempuan 60 tahun itu tidak mampu. Napasnya tersengal-sengal dan sesekali terbatuk. Anak ketiganya, Kuswanto, segera memboyong Juminah ke rumah sakit terdekat. Selama 4 hari menjalani rawat inap di rumah sakit, tak ada perkembangan yang signifikan. Dokter merujuk Juminah untuk berpindah ke rumah sakit yang lebih besar di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Januari 2019.
Peralatan di rumah sakit itu memang lebih lengkap. Ibu kelahiran 17September 1958 itu pun menjalani serangkaian pemeriksaan seperti pemindaian sinar-X. Setelah mendapat hasil pemeriksaan, dokter menyatakan Juminah mengidap bronkitis akut. Menurut dr. Prapti Utami, MSi, bronkitis merupakan proses peradangan pada bronkus. Bronkitis dapat berlangsung secara akut maupun kronis.
Paduan herba

Menurut Prapti bronkitis akibat perluasan peradangan dari bagian saluran pernapasan lain. Bronkitis ditandai dengan ketidaklancaran bernapas. Penderita merasakan batuk yang berkepanjangan. Dahak yang sulit keluar ditambah napas tersengal-sengal mengindikasikan terdapat peradangan pada area pernapasan, salah satunya area bronkus. Kondisi itulah yang dialami Juminah.
Sepekan opname di rumah sakit, Juminah akhirnya dapat kembali ke rumah. Ia kembali mengelola kebun sayuran sederhana miliknya. Namun, beberapa hari berselang kesehatannya memburuk. Ia batuk terutama pada malam hari sehingga sulit untuk tidur. Itulah sebabnya ia mengonsumsi obat-obatan resep dokter waktu opname. Namun, upaya itu gagal mengatasi gangguan kesehatannya.
Kuswanto berupaya mencari pengobatan untuk ibunya. Ia memberikan produk yag terdiri atas campuran beragam herba, yakni ekstrak daun ketepeng Cassia alata, ekstrak sarang semut Myrmecodia pendans, ekstrak akar pepaya Carica papaya, madu, propolis, dan air kelapa. Paduan beragam herbal itu dalam bentuk cair dalam botol berkapasitas 380 ml. Juminah disiplin mengonsumsi delapan kali sehari masing-masing tiga sendok makan.
Juminah disiplin mengonsumsi herba itu. “Untuk penyembuhan, saya berikan 30 ml setiap tiga jam. Baru tiga hari konsumsi, ibu sudah merasa lebih baik. Napasnya lebih lega dan tubuh mulai kembali bugar,” kata Kuswanto. Batuk berhenti dan napas lebih mudah tanpa tersengal-sengal. Daun ketepeng populer di kalangan masyarakat untuk mengendalikan beragam penyakit.
Ketika kondisinya membaik, Juminah memeriksakan diri ke dokter yang dahulu merawatnya. Setelah memeriksa ibu delapan orang anak itu itu, dokter menyatakan peradangan pada bronkusnya pulih 70%. Itulah sebabnya Juminah senang bukan main. Ia mengonsumsi ramuan ekstrak ketepeng itu cukup tiga kali sehari untuk pemulihan. Selain itu ia juga menghindari penganan yang digoreng karena memicu iritasi dinding tenggorokan.
Beragam manfaat

Riset Selvia Rahmawati dari Institut Pertanian Bogor membuktikan, daun ketepeng mengandung senyawa steroid, flavonoid, saponin, dan tanin. Tanaman anggota famili Fabaceae itu memiliki efek antiinflamasi, antialergi, dan antioksidan. Adi Nugraha dari Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, membuktikan, daun ketepeng cina menghambat pertumbuhan cendawan berkat senyawa antrakuinon. Senyawa itu bersifat antifungi dan bekerja dengan menghambat proses pemanjangan hifa jamur.
Adapun sarang semut yang memiliki kandungan senyawa serupa dengan ketepeng. Yang berkhasiat untuk antibakteri dan antikanker. Madu selama ini bermanfaat untuk menjaga stamina tubuh. Paduan berbagai herba itu bahu-membahu mengendalikan bronkitis. Sementara itu peran air kelapa berkhasiat sebagai antioksidan untuk kekebalan tubuh.
Dokter sekaligus herbalis di Tangerang Selatan, Banten, Prapti Utami mengatakan, daun ketepeng umum dimanfaatkan untuk mengatasi gatal-gatal pada permukaan kulit. Bagi Juminah daun ketepeng membantu mengembalikan kebugarannya setelah didera bronkitis berbulan-bulan. Ia bebas dari beratnya bernapas dan kembali dapat beraktivitas seperti biasanya. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)
