Wednesday, January 28, 2026

Lou Han dan Diskus Kampiun

Rekomendasi
- Advertisement -
(Dok. Trubus)

Kontes nasional ikan lou han dan diskus melahirkan kampiun baru.

Pehobi lou han di Jakarta Utara, Alex Salim. (Dok. Trubus)

Trubus — Pehobi lou han di Jakarta Utara, Alex Salim, terheran-heran mendapati ikan lou han free marking rawatannya memperoleh gelar grand champion (GC) pada ajang Liga Louhan 2 di Mall Season City, Jakarta Barat, pada 24—28 April 2019. Alex tidak menyangka lou han rawatannya meraih prestasi tertinggi karena juara kelas lain juga tak kalah elok. Menurut Alex dunia lou han juga melihat kasta. Paling atas chen cu, chin hwa, free marking, dan golden base.

“Mungkin juri menilai hingga hari terakhir performa ikan rawatan saya konsisten dan optimal,” kata pehobi sejak 2015 itu. Menurut juri asal Surakarta, Jawa Tengah, Agus Triono, kelebihan ikan jawara adalah konsisten hingga penilaian akhir. Sebelum memperebutkan grand champion, persaingan memperebutkan juara ke-1 di kelas free marking A tak kalah seru. Peserta di kelas itu berkualitas bagus. Para juara di setiap kategori bersaing untuk merebut grand champion. Penilaian grand champion menekankan performa ikan hingga menit akhir.

Ikan tua

Menurut Alex ikan jawara berumur 6 tahun tergolong tua. Namun, performa ikan masih unggul. Pemilik sebelumnya apik merawat ikan dari kecil hanya memberikan pakan organik berupa cacing beku. Pada 2018 Alex melanjutkan merawat dan memberikan tambahan pakan udang pada pagi hari dan pelet pada siang hari. “Ikan relatif tua sehingga pakan harus dijaga, memberikan pakan berlebih berpotensi bermasalah di pencernaan,” kata Alex.

Para pemilik ikan jawara dan juri Liga Lou han ke-2. (Dok. Trubus)

Pakan udang merangsang mengoptimalkan warna. Agar warna makin optimal Alex juga memberikan pakan pelet khusus untuk warna menjelang kontes. Perlakuan lain, Alex kerap memasukkan ikan parrot ke akuarium lou han selama 5 menit. Perlakuan itu dua kali sehari pagi dan malam setelah lou han makan. Menurut Alex perlakuan itu merangsang ikan aktif dan menunjang performa saat kontes.

Perawatan apik menjadikan  ikan awet. Alex mencontohkan, lazimnya  performa menurun ketika ikan berumur 2 tahun. Warnanya pun memudar jika terlalu diforsir dengan perangsang warna buatan. Namun, warna lou han rawatan Alex masih cerah. Menurut ketua panitia kontes, Wahid Supriadi, total peserta 447 ikan terbagi menjadi 17 kelas. Jumlah peserta meningkat 12% dari liga sebelumnya.

Pehobi dari berbagai kota seperti Medan, Provinsi Sumatera Utara dan Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan memeriahkan kontes. Total lima juri nasional dari Jakarta, Bandung, dan Surakarta menilai ikan. Menurut Wahid peserta ikan kecil di bawah 12 cm meningkat hingga 2 kali lipat. Contohnya kelas chencu D pada liga sebelumnya 27 ekor kini meningkat menjadi 54 ekor.

Kontes diskus

Diskus jenis white diamond milik pehobi diksus asal Kediri, Jawa Timur, Doni Hartono. (Dok. Trubus)

Kontes nasional ikan hias lainnya yakni dikus berlangsung di Raiser Ikan Hias Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 26—28 April 2019. Ikan jenis white diamond milik pehobi diskus asal Kediri, Jawa Timur, Doni Hartono meraih grand champion. Sebelumnya ikan white diamond itu menjadi juara ke-1 di kelas senior open. Ikan tampil istimewa, warna putih susu mengilap, bentuk tubuh sempurna, dan panjang 16,25 cm. Itulah sebabnya tiga juri nasional Agoesman Deli, Fransisicus, dan Endianto menyatakan diskus itu sebagai grand champion.

Pada kontes Bertajuk Cibinong Bogor Depok (CBD)1st Discus Competition 2019 itu Doni menurunkan sembilan ikan cakram alias diskus andalannya. Hasilnya beberapa klangenan Doni meraih jawara, yakni di kategori senior solid red, senior spotted snake, senior pigeon pattern, senior open, dan grand champion.

Pehobi asal Kediri, Jawa Timur Doni Hartono. (Dok. Doni Hartono)

Menurut ketua panitia kontes,     Subhansyah, total peserta mencapai 120 diskus. Peserta dominan berasal dari Jakarta dan sekitarnya. “Salah satu peserta terjauh dari Kediri, Jawa Timur,” kata pria yang akrab dipanggil Teddy Discus itu. Adapun peserta luar negeri dari Pulau Pinang, Malaysia. Menurut Pelaksana Tugas Balai Besar Pengujian Penerapan Hasil Perikanan, Muhammad Wahidin, kontes sebagai ajang promosi ikan hias. Acara rutin aneka jenis ikan rata-rata 6 kali setahun. (Muhamad Fajar Ramadhan/Peliput: Tamara Yunike)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img