Bagi sebagian kecil orang, mengonsumsi seduhan ketumbar menimbulkan dampak tak nyaman. Solusinya turunkan dosis.

meminimkan efek samping. (Dok. Trubus)
Trubus — Di media sosial, banyak warganet yang menyarankan pengidap tekanan darah rendah, gangguan hati, atau alergi agar tidak mengonsumsi seduhan ketumbar. Sebaliknya warga Nusa Tenggara Barat, Afifah Anwar, meneruskan konsumsi meski tensi darahnya tergolong rendah, 90/70 mmHg. Ia mengurangi dosis yang semula 1 sendok makan menjadi 1 sendok teh sekali konsumsi. Ia mengonsumsi seduhan itu setiap pagi.

“Penat ketika beraktivitas pagi tidak lagi terasa,” kata Afifah Anwar. Koordinator Klinik Saintifikasi Jamu Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Karangnyar, Jawa Tengah, dr. Danang Ardiyanto, menganjurkan dosis dan frekuensi konsumsi pun mengikuti anjuran ahli atau dari yang paling rendah sebagimana pengalaman Afifah, karena respons terhadap bahan obat atau herbal berbeda-beda untuk setiap orang.
Terus melanjutkan
Menurut dr. Danang agar konsumsi ketumbar aman, lakukan dari dosis rendah misalkan 1 sendok teh. Menurut dokter penganjur herbal di Jakarta Timur, dr. Fetty Madjid, setiap orang mempunyai organ dominan dan lemah. Pengobatan baik secara medis maupun herbal mesti memperhatikan hal itu. Itu sebabnya ketika meresepkan obat, dokter selalu menganjurkan untuk konsultasi ulang ketika gejala penyakit berlanjut.
Hal itu pun dilakukan tim dokter di Klinik Saintifikasi Jamu. “Dalam setiap pengujian, subjek selalu kami pantau dengan pemberian racikan yang hanya cukup untuk seminggu. Ketika habis, subjek kembali ke klinik untuk memperoleh racikan lagi. Saat itulah dokter memantau perkembangannya,” ungkap Danang.
Beberapa orang yang mengonsumsi seduhan ketumbar merasakan pusing. “Saya drop sampai setengah pingsan,” ujar pehobi kuliner di Jakarta, Heni Anggraeni. Ia mengisahkan pengalamannya mengonsumsi air rendaman ketumbar. Ia tertarik mempraktikkan anjuran mengonsumsi air ketumbar yang beredar lewat media sosial. Ibu 2 anak itu kerap merasakan lengannya kebas ketika mulai beraktivitas pada pagi hari.

Heni menuruti mentah-mentah saran konsumsi air ketumbar di media sosial. Setiap pagi sebelum beraktivitas dan malam menjelang tidur, Heni meminum segelas air seduhan biji ketumbar (baca “Cara Pas Olah Ketumbar” hal. 64—65). Rasa kebas di lengan tidak hilang, malah ditambah kepala terasa berputar ketika bergerak. Saat bangkit dari duduk, pandangannya berkunang-kunang sesaat. “Terasa sekali setelah minum pada pagi hari kedua,” katanya.
Setelah berhenti minum air ketumbar sama sekali, sorenya pusing pun hilang. Beberapa orang melanjutkan konsumsi meski merasakan efek samping. Ade Wiarti di Jakarta mengonsumsi ketumbar untuk meredakan wasir.
“Hari pertama tidak hanya pusing, wasir pun makin sakit,” ujarnya. Meyakini gejala itu justru awal kesembuhan, ia melanjutkan konsumsi. Hari berikutnya pusing tidak lagi terasa, wasirnya pun reda. Sampai sekarang Ade rutin konsumsi tapi hanya 2 hari sekali. Ia juga berusaha memperbanyak asupan tinggi serat dan buah segar serta membatasi makanan pedas. Pengalaman warga Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Khoiriyah, mirip Ade Wiarti.
Aktivitas

Periset di Program Studi Farmasi, Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Putri Permatasari dan rekan-rekan mendapati kandungan flavonoid dalam ketumbar yang menurunkan kadar gula darah. Flavonoid itu bersifat antioksidan dan melindungi pankreas serta meningkatkan sensitivitas terhadap insulin. Namun, konsumsinya mesti hati-hati karena bisa menimbulkan efek samping.
Penganjur herbal di Bintaro, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Lukas Tersono Adi menuturkan, konsumsi herbal yang bersifat hipoglikemik atau menurunkan kadar gula darah tidak pada pagi hari setelah bangun tidur. “Sebaiknya konsumsi setelah aktivitas sebentar, minum air hangat atau segelas teh manis untuk meningkatkan metabolisme tubuh,” kata alumnus Universitas Diponegoro itu.
Konsumsi herbal pun berefek akumulatif. Bisa jadi gangguan baru muncul pada hari ke-2 atau ke-3 konsumsi seperti pengalaman Heni. Lukas juga menganjurkan konsumsi seduhan ketumbar mulai dari dosis rendah, 3—4 biji lalu berangsur meningkat. Sebaiknya ada jeda sehari setiap pekan agar tidak muncul efek negatif akibat akumulasi. Kurangi dosis atau hentikan konsumsi kalau terjadi efek yang merugikan.
Danang Ardiyanto menyatakan, konsumsi herbal sebaiknya dalam bentuk racikan beberapa herbal yang saling sinergis. Dosis dan frekuensi konsumsinya pun sebaiknya mengikuti anjuran ahli. (Argohartono Arie Raharjo)
