Konsumsi rebusan temulawak, temumangga, dan meniran meredakan efek samping terapi antiretroviral. Kadar CD4 juga meningkat.

Trubus — Terapi antiretroviral bagi pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) membantu memperlambat perkembangan virus di dalam tubuh hingga menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Penderita yang terinfeksi dapat menjalani hidup lebih lama dan beraktivitas normal layaknya orang sehat. Ketua komunitas peduli ODHA Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Ririn Hanjar Susilowati menuturkan, obat antiretroviral mencegah meningkatnya infeksi virus menjadi stadium tiga dan empat.

phelandren yang mengeluarkan racun melalui air kemih.
Pengidap HIV harus mengonsumsinya selama ia masih ingin hidup. “Apabila berhenti konsumsi, tubuh akan resisten terhadap obat tersebut. Solusinya ia harus ganti obat dengan jenis lain. Total ada tiga jenis obat antiretroviral,” papar Ririn. Namun, konsumsi obat antiretroviral sepanjang hidup kerap menimbulkan efek samping berupa rasa mual, gelisah, anoreksia, insomnia, dan gangguan penglihatan atau pengecap.
Terapi herbal
Peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Peristiwan Astana bersama dr. Danang Ardiyanto dan Tofan Mana meracik tanaman obat sebagai pendamping terapi. Mereka membagi 60 subjek berupa orang dengan HIV/AIDS (ODHA) menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengonsumsi tanaman obat, lainnya mengonsumsi plasebo sebagai pembanding.
Plasebo sering disebut obat kosong sebab bentuk fisiknya menyerupai obat lazimnya tapi tidak mengandung bahan aktif apa pun. Pada riset ini plasebo terbuat dari gula dan tepung sehingga dinamakan pil gula. Kelompok pertama mengonsumsi 14 gram rimpang temulawak Curcuma xanthorrhiza, 14 gram temumangga Curcuma mangga, dan 14 gram herba meniran Phyllanthus niruri.

Subjek uji merebus ketiga tanaman obat itu dalam 600 ml air hingga mendidih. Air rebusan itu yang mereka konsumsi dua kali sehari selama 28 hari berturut-turut. Kelompok pembanding mengonsumsi plasebo berisi pati sekali sehari. Peristiwan dan rekan-rekan mengukur kualitas hidup pasien melalui tujuh aspek, yaitu fisik, psikologis, kemandirian, hubungan sosial, lingkungan, spiritual, dan kesehatan umum.

Setelah mengonsumsi tanaman obat, aspek psikologi dan kesehatan umum pasien meningkat signifikan. Selain itu, 20 subjek jamu mengalami peningkatan sel CD4 atau jenis sel darah putih yang bertugas melawan infeksi. Harap mafhum, kekebalan tubuh pasien HIV menjadi target virus maut itu. Virus itu menyerang sel CD4 sehingga kadar CD4 pun anjlok. Sebagai gambaran orang sehat memiliki CD4 sekitar 600―1.500 sel per µl darah.
Menurut dokter pendamping pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dr. Iin Dwi Yuliarti, orang dengan CD4 kurang dari 350 sel per µl darah rentan terhadap infeksi oportunistik. Itulah sebabnya pengidap HIV/AIDS rentan serangan penyakit lain akibat kekebalan tubuh menurun. Jika sudah terdiagnosis Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), kadarnya terus menurun hingga di bawah 250 sel per µl darah.
Imunostimulan

Herbalis di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati pernah meresepkan rimpang temulawak untuk penderita HIV. Valentina mengatakan, rimpang temulawak mengandung phelandren yang membantu mengeluarkan racun melalui air kemih. Zat patinya memperlancar metabolisme tubuh serta menjaga kesehatan ginjal, pencernaan, dan liver. Selain itu temulawak mampu menghambat oksidasi untuk mencegah kanker dan HIV.
Menurut Valentina rimpang temumangga salah satu komponen penting terapi HIV karena tanin dalam rimpang anggota famili Zingiberaceae itu membantu menyembuhkan peradangan. Flavonoid dan saponin bekerja sama meregenerasi sel. Dengan demikian antigen juga meningkat sehingga mampu menghambat pertumbuhan HIV. Rimpang temumangga mengandung minyak asiri sebagai antiradang dan antihistamin.
Selain itu meniran berperan sebagai imunostimulan. “Meniran merangsang sel imun agar bekerja akif dan juga sebagai antibakteri, antibiotik, dan antihepatotoksik,” kata herbalis yang acap mengajar yoga dan meditasi di mancanegara itu. Menurut Ririn beberapa pasien HIV memerlukan tanaman obat yang bersifat imunostimulan. Namun, ada juga yang memilih bertahan dengan konsumsi obat antiretroviral saja. Hal itu tergantung kondisi masing-masing. Pasien HIV dapat melakukan aktivitas fisik normal selama daya tahan tubuhnya tidak menurun. (Sinta Herian Pawestri)
