Mengebunkan jeruk untuk memperoleh pendapatan tambahan di luar gaji sebagai aparatur sipil negara.

Trubus — Haris Firmansyah, S.A.P. membuka kunci gembok pintu bambu. Setelah terbuka tampaklah hamparan tanaman jeruk berderet rapi. Di kawasan itu hanya Haris yang menanam jeruk. Di lahan 1,5 hektare (ha) itu Haris mengebunkan 1.500 pohon jeruk siam dan 500 pohon jeruk keprok garut. “Sekarang hanya ada buah sisa,” tutur petani di Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu.
Di kebun Haris musim panen raya jeruk biasanya berlangsung pada Juni—Agustus. Dari masing-masing pohon jeruk siam Haris memanen rata-rata 50 kg jeruk per musim berbuah atau total 50 ton jeruk siam per tahun. Adapun dari sepohon jeruk keprok garut ia mampu memanen rata-rata 60 kg jeruk per tahun atau total 36 ton jeruk per tahun. Di kebun Haris pertumbuhan keprok garut lebih optimal ketimbang siam.
Masih untung
Daerah itu lebih sesuai dengan syarat tumbuh keprok garut karena berketinggian 892 meter di atas permukaan laut (m dpl). Di ketinggian itu pertumbuhan siam kurang optimal karena lazimnya tumbuh di dataran rendah. Namun, karakter siam berubah. Kulitnya menjadi lebih tebal dan lebih mudah dikupas.
Haris menjual jeruk siam dengan harga Rp7.500—Rp10.000 kg. Harga jual itu jauh lebih murah ketimbang keprok garut yang mencapai Rp20.000—Rp30.000 per kg. Meski demikian dengan harga itu Haris masih untung. Menurut Haris untuk menghasilkan sekilogram jeruk siam perlu biaya produksi rata-rata Rp3.000—Rp4.000. Harga jual siam lebih murah karena tersedia melimpah di pasaran. Pembeli biasanya para pengepul.
Pekebun tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi untuk pengiriman karena pengepul mengambil sendiri hasil panen. “Pekebun cukup menerima uang pembayaran,” tutur alumnus Jurusan Administrasi Negara Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung, Jawa Barat, itu. Haris menjual jeruk keprok garut melalui media sosial dan para agen. “Pengepul hanya membeli sedikit. Mereka lebih suka menjual jeruk dengan harga lebih terjangkau,” kata Haris.
Itulah sebabnya jumlah tanaman keprok garut di kebun Haris lebih sedikit. Ia membuka jalur pemasaran melalui agen yang tersebar di Garut, Bandung, dan Jakarta untuk mendorong penjualan. Haris mulai mengebunkan jeruk pada 2014. Saat lulus kuliah, ia mengikuti jejak sang ayah bekerja di Departemen Agama Kabupaten Garut sebagai penyuluh Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Garut.

siam dan 500 pohon keprok garut.
Namun, ia tak ingin hanya mengandalkan pendapatan dari gaji bulanan. “Saya ingin melanjutkan tradisi keluarga berkebun jeruk,” tutur ayah satu anak itu. Kakek Haris dikenal sebagai pekebun jeruk. Saat Gunung Galunggung meletus pada 1982 sebagian besar kebun jeruk di Garut hancur. Belum lagi akibat serangan penyakit citrus vein phloem degeneration (CVPD) yang membuat jeruk keprok garut nyaris punah.
Sejak itu berkebun jeruk tak lagi menguntungkan sehingga banyak pekebun yang berhenti menanam jeruk, termasuk ayah Haris. Ia lebih memilih menjadi aparatur sipil negara (ASN) ketimbang melanjutkan berkebun jeruk. Dalam satu dasawarsa terakhir jeruk di Kabupaten Garut kembali bangkit meski para pekebun banyak yang beralih menanam siam yang sejatinya bukan jeruk “pribumi”.
Hanya beberapa pekebun yang kembali menanam keprok garut. Pasalnya, tidak semua daerah di Kabupaten Garut cocok untuk pertumbuhan keprok garut. Contohnya di Kecamatan Karangpawitan, hasil panen tanaman anggota famili Rutaceae itu sedikit karena tumbuh di dataran rendah. Dari pohon berumur 4 tahun rata-rata hanya menghasilkan 20 kg per pohon per tahun. Hasil panen itu jauh lebih rendah daripada siam yang mencapai 100 kg per pohon per tahun pada umur sama.
Harga tinggi
Para pekebun yang kembali menanam jeruk ternyata memperoleh hasil panen dan harga jual yang baik. Itulah sebabnya Haris terdorong mengikuti jejak mereka menanam tanaman kerabat kemuning itu. Pengetahuan berkebun jeruk ia timba dari beberapa saudara yang berkebun jeruk. Haris lalu menyulap lahan milik keluarga yang semula kebun sayuran menjadi hamparan siam dan keprok garut. Penanaman dilakukan secara bertahap. Sekali tanam biasanya hanya 300 tanaman, lalu terus bertambah hingga berjumlah seperti sekarang.
Keputusan Haris menanam jeruk ternyata sesuai harapan. Pada tahun ketiga tanaman mulai belajar berbuah. Di daerahnya siam dan keprok garut mampu berproduksi optimal. Ia juga tidak kesulitan menjual hasil panen. Ia juga memperoleh harga jual tinggi. Saat panen raya harga jual siam paling rendah hanya Rp7.000 per kg.
Harga jual itu lebih tinggi ketimbang harga jeruk di sentra lain, seperti di Brastagi, Sumatera Utara. Harga jeruk anjlok menjadi hanya Rp3.000 per kg saat panen raya. Adapun harga jual keprok garut saat panen raya paling rendah hanya Rp15.000 per kg. Hasil yang memuaskan mendorong Haris untuk terus menambah populasi jeruk di kebunnya. Ia kembali menanam 500 pohon jeruk siam. “Saat ini baru berumur hampir setahun,” kata pria 27 tahun itu. Meski kesibukan haris bertambah dengan berkebun jeruk, tak sampai mengganggu tugasnya sebagai penyuluh KUA. (Imam Wiguna)
