Wednesday, January 28, 2026

Bidan Berbisnis Herba

Rekomendasi
- Advertisement -

Mengolah herba beromzet puluhan juta rupiah per bulan.

Ni Putu Ellida Raiany Pande mengolah jamu bercita rasa lezat dan mutakhir. Perempuan 27 tahun itu mengolah daun tempuyung menjadi minuman siap saji yang praktis. Konsumen tinggal menyeduh atau mencelupkan daun Sonchus arvensis dalam kantong, layaknya teh celup. Cita rasanya lezat karena Ellida memprosesnya secara alami tanpa tambahan bahan pengawet dan pewarna buatan.

Minyak esensial terbuat dari bahan alami dengan beragam manfaat. (Dok. Ni Putu Ellida Raiany Pande)

Ellida mengemas minuman siap saji itu dalam kotak yang terdiri atas 30 kantong. Perempuan kelahiran Juni 1992 itu memproduksi hingga 600 kantong per bulan. Adapun harga sebuah kotak Rp45.000. Ia memasarkan produk itu ke Bali dan Jakarta. Selain tempuyung celup, Ellida juga memproduksi minuman instan berbahan baku rimpang kunyit. Ia mengemas minuman itu dalam botol kaca bervolume 230 gram.

Seperti teratai

Menurut Ellida khasiat minuman instan rimpang kunyit itu untuk mengatasi permasalahan lambung seperti asam lambung, tukak lambung, dan nyeri ulu hati. Dalam sepekan Ellida mampu memproduksi 500—700 botol untuk memasok pasar Provinsi Bali dan Jakarta. Ellida memang ingin menularkan gaya hidup sehat kepada masyarakat. Ia mendirikan Padma Medikal Husada pada November 2013.

Seperti namanya, padma bermakna teratai, simbol perusahaan itu memang bunga teratai. Ellida mengatakan, teratai yang tetap tumbuh mempesona meskipun berada di atas air keruh. Itulah lambang pencerahan yang disalurkan tangan Ni Putu Ellida Raiany Pande kepada khalayak. Padma juga melambangkan perdamaian pada tubuh, pikiran, dan jiwa seseorang. Warna hijau yang melambangkan tanaman yang tumbuh sehat.

Serbuk herbal untuk mengatasi
keluhan lambung. (Dok. Ni Putu Ellida Raiany Pande)

Selain dua produk minuman itu, Ellida juga menghasilkan minyak sehat untuk urut, terapi anak, dan antinyamuk. Ia memanfaatkan bahan-bahan alami seperti minyak hasil ekstrak daun mimba Azadirachta indica, serai Cymbopogon nardus, dan minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO).

Alumnus Politeknik Kesehatan Denpasar itu mengemas minyak dalam botol bervolume 60 ml. Total produksi mencapai 700 botol per bulan. Harga minyak terapi itu Rp60.000 per botol. Ia meracik aneka olahan minyak esensial itu untuk kebutuhan bayi seperti mengatasi ruam akibat popok, aromaterapi untuk melegakan pernapasan, dan membangun imunitas tubuh.

Penghargaan

Masyarakat menggemari aneka produk itu. Terbukti permintaannya terus meningkat. Apalagi setelah Padma Medikal Husada tersertifikasi halal oleh Majelis Ulama Indonesia pada November 2018. Ellida mengatakan, omzet penjualan aneka herba itu Rp40 juta—Rp50 juta per bulan. Padahal, semula Ellida tidak pernah terpikirkan untuk berusaha. Ia hanya senang menggunakan VCO sejak kuliah di Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Denpasar.

Kebersihan kegiatan produksi Padma Herbal terjamin. (Dok. Ni Putu Ellida Raiany Pande)

Tak hanya mendulang keuntungan dengan menjual berbagai produk, Ellida juga memberikan pelatihan serta edukasi bagi masyarakat. Ia juga aktif memberikan pembinaan pengolahan VCO di Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Melalui Padma Herbal, Ellida juga menyabet beragam penghargaan, yang terbaru juara ke-2 wirausaha muda berprestasi Provinsi Bali 2019, bidang industri kreatif.

Aral Produksi Herba

Produk teh batu singkir menjadi andalan Padma Herbal mengatasi keluhan ginjal para konsumennya. (Dok. Ni Putu Ellida Raiany Pande)

Ni Putu Ellida Raiany Pande mengembangkan beragam herba untuk kesehatan. Ia mengalami banyak kendala dalam perjalanan bisnisnya. Letusan Gunung Agung pada Juli 2018 berdampak pada proses produksi. Aktivitas gunung berapi itu sempat mengakibatkan penanaman bahan baku seperti kunyit dan jahe terhenti hingga tidak dapat panen. Produksi minuman instan dan teh pun sempat berhenti.

Kini ibu dua anak itu menjalin kemitraan dengan petani di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai pemasok herba seperti rosela dan bunga mawar. Adapun pembuatan minyak kelapa murni (VCO) bekerja sama dengan anggota Wanita Tani sejak Maret 2016. Ellida berharap dapat menyosialisasikan hidup sehat dengan herbal organik. “Tubuh kita adalah bahan organik, jadi baiknya kita tetap hidup dalam jalur organik, paling tidak berusaha mengurangi input bahan kimia sintetik yang berbahaya,” kata Ellida. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img