Merintis bisnis jamur tiram di dataran rendah Kota Denpasar, Bali. Dekat pasar dan daya simpan lebih lama salah satu keuntungannya.
Trubus — Ni Wayan Purnami Rusadi berencana melanjutkan kuliah di jurusan hukum ketika duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Namun, akhirnya Emick—sapaan akrab Ni Wayan Purnami Rusadi—masuk jurusan pertanian mengikuti keinginan orang tua. “Saya memang suka berkebun. Namun, tidak ingin menjadikan berkebun sebagai yang utama,” kata warga Desa Peguyangankaja, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali, itu.

Semula terpaksa, tapi Emick mulai senang di jurusan pertanian sejak semester kedua. Bahkan, ia menjadi pekebun jamur tiram sejak 2009. Kini, ia memanen 600 kg Pleurotus ostreatus seharga Rp20.000 per kg saban bulan. Setelah dikurangi ongkos produksi, Emick mengantongi laba Rp8 juta—Rp10 juta dari penjualan jamur tiram segar. Ia membudidayakan jamur tiram di kumbung 200 m².
Di bawah pohon
Konsumen utama Emick yakni kedai olahan jamur dan rumah makan vegetarian. Selain menjual jamur tiram segar, ia juga menjual baglog. Konsumennya masyarakat yang ingin memelihara jamur tiram skala hobi—terdiri atas 50 baglog. Emick mendapatkan tambahan penghasilan Rp600.000—Rp1 juta dari hasil perniagaan baglog setiap bulan. Sebetulnya masih asing membudidayakan jamur di Kota Denpasar karena dataran rendah.
Lazimnya pekebun membudidayakan jamur pangan dari kelompok Basidiomycota itu di daerah berhawa sejuk. Lokasi budidaya tidak menjadi penghalang Emick berkebun jamur berwarna putih itu. Ia membangun kumbung di bawah pohon besar dekat rumah agar tercapai suhu yang lebih rendah daripada lingkungan sekitar. Lantai kumbung berpasir agar lebih lama menyimpan air ketika disiram supaya kelembapan terjaga.

Selain itu ia meletakkan 20 wadah dari semen berisi air dekat dinding kumbung agar suhu dalam ruangan terjaga 22—25°C. Dinding kumbung berbahan bambu berlapis jaring. Meski begitu hasil panen jamur tiram masih dipengaruhi musim. “Salah satu tantangan berkebun jamur tiram yakni hasil panen fluktuatif,” kata perempuan berumur 27 tahun itu. Emick menuai 50—70 kg jamur tiram per hari ketika musim hujan.
Sementara hasil panen ketika musim kemarau 2—5 kg per hari. Untungnya beberapa kawan juga tertarik menanam jamur tiram setelah melihat kumbung Emick. Mereka menjadi mitra Emick sehingga pasokan jamur tiram ke konsumen bisa terpenuhi. Perkenalan Emick dengan jamur tiram bermula dari karang taruna. Pada 2009 kepala desa baru mengaktifkan lagi karang taruna yang vakum sekitar 10 tahun. Emick menjadi ketuanya.

Memiliki usaha ekonomi produktif syarat menjadi karang taruna aktif. Berlatar belakang pertanian, ia dan rekan pun belajar ke Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan dan Dinas Pertanian Kota Denpasar. Ada beberapa komoditas pilihan seperti anggrek dan jamur tiram. Pilihan jatuh pada jamur tiram karena perawatan lebih mudah serta tidak memerlukan lahan luas dan dan subur.
Edukasi masyarakat
Emick dan rekan senang ketika berhasil memanen jamur tiram. Perempuan kelahiran 21 Desember 1991 itu menjual hasil panen perdana ke masyarakat sekitar. Panen selanjutnya masyarakat enggan membeli karena khawatir jamur beracun. Harap mafhum jamur tiram barang baru saat itu. Belum banyak warga mengetahui manfaat jamur pangan itu. Akhirnya Emick pun menawarkan jamur tiramnya ke kampus.
Respons para dosen positif. Selanjutnya jamur tiram itu masuk pasar swalayan terkenal setelah Emick mengikuti lomba wirausaha muda pada 2013. Menurut Emick prospek jamur tiram di Denpasar masih bagus. Alasannya, “Denpasar tidak memiliki lahan luas, terjadi alih fungsi lahan, dan penduduknya meningkat,” kata alumnus Magister Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, itu.

Berdasarkan hal itu memiliki minimal 1.000 baglog dengan produksi sekitar 2 kg per hari pun mudah menjualnya ke tetangga. Selain mudah menjual dengan kapasitas kumbung sedikit, kelebihan lain menamam jamur tiram di dataran rendah yakni masa simpan dalam lemari pendingin lebih lama mencapai 6—7 hari. Bandingkan dengan masa simpan jamur dataran tinggi yang mencapai 3—4 hari karena berisi lebih banyak air.
Ia tidak menganggap berkebun jamur sebagai sumber pendapatan utama. “Budidaya jamur tiram adalah hobi yang menghasilkan dan bermanfaat untuk orang sekitar,” kata juara ke-1 kategori Green City Microentrepreneurship 2018—2019 itu. Emick membagikan cuma-cuma baglog bekas panen jamur kepada tetangga yang memiliki tanaman. Ia juga mempersilakan masyarakat yang datang ke kumbung untuk belajar bertanam jamur tiram.
Dosen di Politeknik Nasional Denpasar itu memang berencana menjadikan tempat usahanya sebagai sarana edukasi. Oleh karena itu, ia rutin menambah kapasitas produksi kumbung sebanyak 1.000 buah setiap tahun. Tujuannya agar usaha terus berkembang, Ia tidak hanya berfokus pada kuantitas, yang penting adanya pembelajaran budidaya jamur.
Agar Masyarakat Kota Bisa Berkebun

Selain jamur tiram, Ni Wayan Purnami Rusadi, S.P., M.,Agb pun memproduksi paket kit berkebun (grow kit) sejak 2015. Tujuannya membantu masyarakat perkotaan berkebun. Bisnis grow kit yang berisi benih, media tanam, pupuk, dan panduan menanam itu bernama Potme Farm. Masyarakat hanya mengikuti panduan menanam dalam kemasan tanpa repot mencari perlengkapan berkebun lainnya.
Ada sekitar 10 grow kit beragam komoditas seperti cabai, tomat, dan bunga matahari. Ia juga menyediakan pot ramah lingkungan berbahan kertas daur ulang. Konsumen tidak perlu membuang pot itu jika tanaman dipindah ke lahan atau pot yang lebih besar. Kini Emick—sapaan akrab Ni Wayan Purnami Rusadi—menjual sekitar 150 unit grow kit per bulan. Harga jual Rp30.000 per unit.
Konsumennya terutama masyarakat perkotaan termasuk Surabaya, Jawa Timur dan Jakarta. Ia juga menjual 400 bungkus benih beragam bunga seperti matahari. “Kami masih mengajak beberapa petani menghasilkan benih bunga yang permintaannya tinggi seperti bunga matahari,” kata juara ke-1 Lomba Wirausaha Muda Disdikpora Provinsi Bali, itu. (Riefza Vebriansyah)
