Gangguan insomnia memantik naluri bisnis. Melahirkan produk baru campuran teh dan herba. Permintaan meningkat.
Trubus — Malam terasa begitu panjang bagi Anindhita Budiputri Hambali. Mata perempuan 27 tahun enggan terpejam. Dhita, sapaannya, mengidap imsonia. Ia tak dapat terlelap hingga matahari terbit. Kondisi itu berlangsung selama sebulan. Alumnus University of Houston, Amerika Serikat, itu mengatasinya dengan mencampurkan teh rebus kemasan dengan potongan buah-buahan seperti mangga dan persik.

Dhita juga menambahkan rempah seperti kayu manis dan cengkih, serta herba kering yakni jahe dan jintan. Ia mencampurkan bahan-bahan itu terinspirasi oleh kebiasaan menyeruput campuran teh ketika tinggal di Amerika Serikat hingga 2014. Gangguan kesehatan itu teratasi. Dhita berupaya memperbaiki cita rasa teh agar sesuai dengan diharapkan. Itulah sebabnya ia mencari perkebunan teh supaya mendapatkan teh dengan tingkat pemanggangan yang diinginkan.
Bisnis teh
Dhita mencoba 100 rasa teh yang berasal dari 5 jenis teh yang tumbuh di Indonesia dan dipanggang secara berbeda. “Saya minum satu per satu sambil berpikir, teh ini cocoknya dicampur dengan apa ya?” ujar Dhita. Inspirasi formula campuran teh diperoleh dari pengalaman Dhita menyicipi beragam jenis teh di Amerika dan dari orang-orang di sekitarnya.
Setiap membuat campuran, Dhita memberikan sampel kepada orang-orang di sekitarnya, khususnya kepada teman-temannya yang juga berbisnis kopi. Saran para sejawat yang memiliki kedai kopi krusial bagi pengembangan produk Dhita. Ia merilis 10 varian perdana campuran teh atau blended tea dengan merek Tema Tea pada 2016. Pengusaha muda itu memanfaatkan modal sendiri sekitar Rp100 juta.
Enam bulan sebelumnya ia memang “memaksa” diri menabung 80% gajinya. Pilihan berusaha teh cukup berisiko jika dibandingkan dengan karier sebagai akuntan di perusahaan swasta. Banyak yang meragukan pilihan Dhita. Selama ini hanya perusahaan besar yang mengembangkan teh. Namun, sarjana Administrasi Bisnis itu tak gentar banting setir ke agribisnis.
Keruan saja ia menempuh riset untuk mengetahui peluang pasar. Hasilnya peluang sangat besar dan ketersediaan bahan baku untuk teh campuran di Indonesia pun melimpah. Oleh karena itu, ia memasuki bisnis teh pada 2016. Tiga bulan pertama Dhita bekerja keras. Ia menawarkan produknya dari pintu ke pintu. Dhita mendatangi berbagai kedai kopi di Jakarta untuk mendapatkan kontak pemilik kedai.
Kegigihan Dhita tak sia-sia. Setelah bekerja sama dengan 10 kedai kopi, ia mendapatkan penghasilan tetap setiap bulan. Semula Dhita memproduksi 100—200 gram teh campuran per hari. “Terus lama-lama naik 500 gram per hari. Kini tiap hari kami meracik 10 kilogram teh campuran,” kata Dhita. Produksi 10 kg itu habis dalam 3—4 hari tergantung permintaan.
Produksi meningkat
Produksi Tema Tea pada 2019 20 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan produksi pada 2016. Kini ada 14 varian rasa. Ia menjual Rp80.000—Rp150.000 per kemasan stoples kaca berbobot 75 gram. Harga berbeda tergantung komposisi bahan. Selain itu itu juga menyediakan paket 15 teh kantong yang masing-masing berisi 2 gram teh. Adapun paket teh kantong Rp100.000—Rp145.000. Omzet minimal dalam 3—4 hari Rp10.640.000.

Dhita menjawab semua orang yang meragukannya dengan prestasi. Bisnisnya mencapai titik impas setelah 4 bulan berjalan. Itu berkat strategi pemasaran yang jitu. Mula-mula ia menjual Tema Tea di kedai-kedai kopi. Kemudian pada 2019 ia juga menjual di pasar daring atau online. Permintaan terus melonjak sehingga Dhita menambah karyawan total 5 orang.
“Tema Tea merupakan teh artisanal, sumber daya manusia sebisa mungkin kita libatkan sebanyak mungkin. Ini juga menyangkut membuka lapangan pekerjaan khususnya bagi masyarakat Bogor,” papar Dhita. Ia juga bekerja sama dengan sekitar 200 kedai kopi di berbagai kota seperti di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Kota Makassar (Sulawesi Selatan), Kota Medan (Sumatera Utara), Kota Surabaya (Jawa Timur).
Semula Dhita meracik teh di rumahnya di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Namun, kini rumah produksi berpindah menyewa ruko di Bogor. Pengusaha muda itu juga menggunakan mesin pengecil bahan, oven skala besar untuk mengeringkan bahan-bahan, mesin pengisi, dan pengemas kantong teh. Dhita menggandeng tiga petani pemasok bahan buku, seperti teh, mangga, apel, bunga rosela, telang, marigold, sereh, pandan, dan cengkih.
Petani mitra tersebar di Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Banten, dan Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Beberapa komoditas seperti buah persik, cranberry, dan bunga lavender tak dapat tumbuh di Indonesia, Dhita mesti mengimpor dari Australia. “Kami tidak mungkin mengurangi pesanan, yang ada kami menambah pesanan setiap bulan,” kata Dhita. (Tamara Yunike)
