Sunday, January 25, 2026

Cegah Produksi Anjlok Saat Kemarau

Rekomendasi
- Advertisement -

Kombinasi penyemprot air, pakan, dan parfum untuk mengatasi musim kemarau.

Trubus — Kemarau momok bagi pemilik gedung walet karena panen sarang anjlok. Kondisi makin parah ketika terjadi kebakaran hutan. Asap membuat walet makin merana. Kebakaran hutan kerap terjadi di sentra walet, yakni Sumatera dan Kalimantan. Pemilik gedung walet di Kelurahan Baganbatu, Kecamatan Bagansinembah, Kabupaten Rokanhilir, Riau, Muhammad Haris pun mengalami penurunan produksi saat kemarau dan kebakaran hutan.

Kemarau kerap membuat walet pulang larut untuk mencari pakan karena ketersediaany menurun. (Dok. Trubus)

Menurut Haris asap mengganggu pola pulang pergi burung. Burung kerap kembali ke gedung lebih larut saat kemarau. Artinya ketersediaan pakan makin berkurang di sekitar gedung walet saat kemarau. Saat asap makin tebal pembentukan sarang makin lambat. Imbasnya penurunan kualitas dan produksi sarang. “Beruntung daerah saya tidak terlalu terdampak asap dan vegetasi masih banyak, sehingga penurunan hanya 20%,” katanya.

Air minum

Haris tidak menerapkan perlakuan khusus. Musababnya kejadian kerap berulang dan belum menemukan cara yang efektif. “Pakan buatan pun kurang efektif saat kemarau,” katanya. Menurut praktikus walet di Jakarta, Harry Wijaya potensi penurunan panen saat kemarau hingga 60—70%.

Seperangkat alat penyemprot air beserta tandon untuk menjaga suhu di gedung walet ketika kemarau. (Dok. Harry Wijaya)

Artinya jika saban bulan peternak memanen 10 kg sarang, produksi berpotensi turun menjadi 3—4 kg saat kemarau. Beberapa faktor pemicu penurunan produksi adalah penurunan populasi serangga sebagai pakan dan kekurangan air minum walet. “Kondisi bisa saja diperparah jika ada asap karena kebakaran hutan,” kata Harry. Menurut Harry menggunakan pakan tambahan saja belum cukup sebagai solusi mengatasi kemarau.

Selain pakan, walet juga membutuhkan minum. Menyediakan penyemprot air atau pengabut bisa menjadi alternatif untuk menyediakan minum bagi si liur emas. Penyemprot air bisa diletakan di ruang putar atau di luar area gedung walet. Harry menyarankan menyalakan penyemprot air 4 kali sehari saat kemarau, yakni pada pukul 11.00, 15.00, 17.00, dan 18.00. Penyemprot air menyala selama 15 menit. Tujuannya memberi walet minum dan menurunkan suhu gedung.

Praktikus walet di Jakarta, Harry Wijaya. (Dok. Trubus)

Suhu ideal gedung walet lebih rendah sekitar 4℃ dibandingkan dengan suhu luar. Terlalu dingin atau terlalu panas membuat walet tidak betah. Namun, Harry mengingatkan peternak tidak boleh menggunakan sembarang air. “Harus air bersih, air mengandung logam berat terlarang karena digunakan sebagai air minum walet,” katanya. Pemilik gedung walet di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Didik Arianto, pun memanfaatkan pengabut atau sprayer sejak 2015 demi menjaga iklim di gedung walet.

Didik meletakan sprayer di dekat lubang terjun. Menurut Didik iklim di gedung walet relatif stabil meski memasuki musim panas. Produksi pun tidak turun signifikan. Faktor lainnya harus memantau suhu air. Peternak lazim menyimpan tandon di atap membuat suhu air meningkat karena terpapar langsung sinar matahari. Suhu air terlalu panas justru memperparah keadaan. Oleh karena itu, peternak wajib mengecek suhu air di tandon sebelum menggunakannya. Memendam tandon di tanah seperti pelaku hidroponik bisa menjadi siasat agar suhu air tetap dingin.

Berbenah

Pakan akan lebih optimal jika dibarengi penyemprot air sebagai penyedia air untuk walet. (Dok. Harry Wijaya)

Bagaimana dengan asap? Harry menyarankan peternak menggunakan menggunakan sensor asap di gedung walet. Sensor asap akan terintegrasi dengan sprayer, sehingga jika ada asap masuk air akan segera menyala. Sprayer dipasang di langit-langit gedung walet untuk menyemburkan air ketika sensor asap menyala. Ibarat sistem sprinkel pemadam kebakaran di gedung. “Asap bisa kalah dengan air,” kata alumnus Jurusan Arsitektur, Universitas Katolik Parahyangan itu.

Kelebihan lainnya menjaga suhu dan kelembapan ideal di gedung walet. Kelembapan ideal 88—90%, jika di atas 90% disarankan menggunakan anticendawan agar makin optimal, Harry menyarankan menggunakan parfum sebagai tambahan. Peletakan parfum di dekat lubang masuk dan pintu mengarah ke ruang inap. Tujuannya membuat si liur emas makin betah. Pengalaman Harry kombinasi sprayer, pakan, dan parfum bisa meningkatkan produksi 40% saat kemarau dibandingkan dengan tanpa ada perlakuan.

Potensi peningkatan hasil bisa hingga 50%—60 % saat musim hujan. Menurut praktikus walet di di Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung, Willy, produksi turun pada kemarau menjadi waktu tepat untuk membenahi gedung walet. Baik memeperbaiki kerusakan atau modifikasi gedung. Musababnya aktivitas panen saat kemarau tidak sepadat musim hujan. Menurut Haris lazimnya produksi kembali saat musim kemarau berakhir.

Hal terpenting menjaga kondisi lingkungan sekitar agar si liur emas tidak perlu jauh mencari pakan. Lingkungan rusak menyebabkan walet jauh mencari pakan bahkan memungkinkan bermigrasi ke lokasi lain. Itulah pemicu produksi anjlok signifikan. Mencegah tetap lebih baik daripada mengatasinya. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img