Dunia demam monstera. Permintaan tanaman hias daun itu melonjak. Harga terkerek hingga puluhan juta rupiah per lembar daun.

Trubus — Ukuran tanaman Monstera adansonii di kebun Mukti Setiawan itu relatif kecil dan terdiri atas 6 daun. Masyarakat menyebut jenis itu janda bolong mengacu pada lubang-lubang di permukaan daun. Meski begitu Mukti bergeming ketika pembeli menawar tanaman itu dengan harga superfantastis: Rp70 juta. Benar tujuh puluh juta rupiah! Artinya harga selembar daun itu Rp11 juta. “Saya akan memperbanyak monstera itu,” kata pengusaha tanaman hias di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu.

Daun tanaman itu variegata—berkelir perpaduan hijau dan kuning. Di pasaran harga jual setek terdiri atas satu daun adansonii variegata mencapai Rp15 juta—Rp20 juta. Amuk, sapaan Mukti, mengembangkan adansonii variegata itu pada Desember 2019. Tanaman baru hasil perbanyakannya akan tersedia pada Maret 2020. “Setidaknya 25 pot adansonii variegata siap pada Maret 2020,” katanya.
Tiga kelas

Mukti mampu memasarkan rata-rata 140 monstera per bulan. Jenisnya antara lain monstera hijau, setek monstera borsigiana variegata, dan setek monstera deliciosa variegata. Perniagaan monstera memberikan omzet bagi Mukti hingga Rp33,5 juta—Rp60 juta per bulan. Pria 49 tahun itu mencari indukan monstera di petani atau pehobi, kemudian memperbanyaknya. Menurut petani tanaman hias sejak tahun 2000 itu bisnis monstera makin kencang sejak 2016.
Jenis monstera beragam. Namun, secara umum pasar monstera terbagi menjadi kelas bawah, menengah, dan premium. Amuk mencontohkan monstera kelas bawah berupa monstera hijau dengan harga jual Rp35.000—Rp500.000 per tanaman. Menurut Amuk pasar kelas bawah dikenal dengan sebutan monstera hijau—mengacu pada warna daun yang nonvariegata alias berwarna hijau.

“Meski murah monstera bawah bisa masuk ke pasar luar negeri untuk tanaman dalam ruangan,” kata pemilik Nurseri Raysa itu. Harga monstera hijau produksi lokal rata-rata Rp35.000—Rp50.000 per tanaman. Adapun harga tanaman besar terdiri atas 9—10 daun mencapai Rp250.000—Rp300.000. “Harga jual ke luar negeri bisa hingga Rp500.000,” kata Amuk.
Ketika tren monstera premium meningkat, harga monstera kelas bawah pun terkerek. Amuk rata-rata menjual 100 tanaman monstera hijau saban bulan. Konsumen monstera kelas bawah adalah pedagang tanaman hias, pehobi baru, dan perancang lanskap. Amuk memprediksi tren monstera bertahan lama hingga 5—10 tahun ke depan. Syaratnya ada pemutakhiran jenis baru.

Adapun monstera kelas menengah antara lain deliciosa variegata dan borsigiana variegata. Harganya tergantung motif dan ukuran. Harga tanaman terdiri atas 3 daun paling murah Rp1,5 juta. Jika jumlah daun 5 helai harganya melambung Rp2,5 juta. Begitu juga jika ada 9 atau 10 daun menjadi Rp10 juta. Amuk menjual tanaman dalam bentuk setek kepada pedagang tanaman hias lain Amuk di Kecamatan Ciapus, Kabupaten Bogor. Ia menjual setidaknya 1.000 stek dalam 2 tahun terakhir. Setek mini terdiri atas 1—2 daun harga jualnya Rp750.000.
Kelas premium
Sementara kelas premium seperti Monstera obliqua dan monstera mint. Ketika lelang tanaman hias di Trubus Agro Expo Monstera obliqua terjual Rp35juta. Harga itu lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata lelang Rp30 juta. Penjual tanaman hias di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Johan Sofuan Fauzi, sepakat dengan pembagian kelas itu. Degoy—panggilan akrab Johan Sofuan Fauzi—menyasar montera kelas premium seperti oceana, platium, yellow marylin, mint, dan adansonii variegata.
Musababnya jenis bawah dan menengah seperti monstera deliciosa dan borsigiana sudah banyak penjualnya. Fauzi mengatakan, harga monstera premium dihitung berdasarkan banyak daun. Misalnya monstera white monster harga 1 daun berkisaran Rp10 juta. Monstera adansonii variegata, harga per daun mencapai Rp7 juta. “Bisa juga lebih mahal tergantung variasi variegata,” kata penjual monstera sejak 2014 itu.

Saban bulan Fauzi menjual 5 monstera premium. Satu tanaman terdiri atas rata-rata 2—4 daun. Pantas omzet Fauzi dari penjualan monstera mencapai Rp70 juta—Rp200 juta per bulan. Sejatinya permintaan lebih besar, sayang produksi masih terbatas. Menurut Fauzi jika tersedia jumlah dua kali lipat sekalipun pasar masih merespons. Sejak perbanyakan hingga tanaman siap jual memerlukan waktu 5—6 bulan.
Berbeda dengan Fauzi, Wawan Darmawan, fokus pada pada monstera pasar menengah. Pedagang tanaman hias di Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, itu menjual monstera jenis florida beauty variegata. Ukuran tanaman mini terdiri atas 2—3 daun setinggi 15 cm. Ia menjual tanaman itu Rp1 juta. Jika ukuran lebih besar terdiri atas 4—6 daun Rp2 juta. Pemilik Nurseri Rumah Joglo itu menjual rata-rata 5—10 monstera per bulan.

Menurut Wawan periagaan monstera memberikan omzet Rp5 juta—Rp10 juta saban bulan. Ia tidak mampu mengimbangi tinggi permintaan karena produksi terbatas. Wawan memperbanyak tanaman anggota famili Araceae itu secara vegetatif dengan setek daun. Menurut Wawan monstera masih sangat prospek. Tren tanaman indoor dan permintaan kolektor dari luar negeri turut mengerek harga monstera.
Permintaan dari negera-negara Asia seperti Thailand, Hongkong, Korea Selatan dan Singapura. Jenis monstera premium seperti adansonii variegata, mint, dan obliqua juga diminati pehobi di negara-negara Eropa. Bahkan, importir dan pedagang dari berbagai negara seperti Hongkong, Kanada, dan Thailand datang langsung ke sentra tanaman hias di Ciapus, Bogor, untuk memburu monstera. Tanaman hias kreasi Ciapus dan Tamansari, Kabupaten Bogor mendunia sebagai penyumbang devisa.
Tren dunia

Apa yang mendorong tren monstera? Menurut pengusaha tanaman hias di Kota Depok, Jawa Barat, Chandra Gunawan, tren monstera berawal dari 2014. Bisnis besar itu bermula dari bibit kultur jaringan monstera thai constellation yang masuk ke Amerika Serikat. Penangkar tanaman hias di Thailand, Paiboon, membawa bibit hasil kultur jaringan ke nurseri di negara Abang Sam itu.
Tak diduga pehobi tanaman hias di Amerika terpikat pada corak monstera hasil pembibitan kultur jaringan itu, sehingga dinamai thai constellation karena bepola seperti rasi bintang. Kemudian perniagaan monstera makin menggeliat.
Pemilik nurseri besar di Amerika menjual monstera berukuran besar dengan harga US$600—US$700 setara Rp8,5 juta—Rp9,8 juta (Kurs US$1=Rp14.000). “Kita wajib berterima kasih kepada Paiboon, karena membuka mata orang barat hingga bisa mengapresiasi variegata,” kata pemilik Nurseri Godong Ijo itu. Setelah itu barulah jenis lain seperti monstera borsigiana variegata mulai naik. Menurut Chandra tren aroid dan monstera kini menjadi tren dunia.
Salah satu indikatornya, ribuan bibit kultur jaringan monstera di Thailand selalu terserap habis pasar dunia. Beberapa peminat antara lain dari Australia, Amerika Serikat, dan Jerman. “Datang ke nurseri di Thailand langsung pun tidak bisa beli, rata-rata barang yang ada sudah dipesan,” katanya. Dunia tengah gandrung monster cantik. Pedagang dan pengusaha tanaman hias di Indonesia memetik laba besar. (Muhamad Fajar Ramadhan/Peliput: Imam Wiguna dan Andari Titisari)
