Wednesday, January 28, 2026

Potret Pasar Philo

Rekomendasi
- Advertisement -
Philodendron bilitiae milik Nanang Koswara di Sawangan, Depok, Jawa Barat. Harga Rp8 juta—Rp 15 juta.

Pasar Philodendron sp. terbuka hingga ke mancanegara. Para pelaku bisnis menangguk laba.

Trubus — Iwan menjual rata-rata 50 philodendron di pasar domestik dan 500 philodendron ke luar negeri setiap bulan. Perniagaan itu mendatangkan pendapatan Rp50 juta per bulan bagi pengusaha tanaman hias di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jumlah itu naik 2,5 kali lipat dari penjualan philodendron pada 2017 sampai pertengahan 2018. Ia mengirim philondendron ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Hongkong, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.

Iwan, pelaku tanaman hias di Ciapus, Bogor, Jawa Barat, memegang philodendron florida beauty yang kembali naik daun.

Pemuda 32 tahun itu mengatakan, konsumen mayoritas menghendaki tanaman berukuran medium dengan jumlah daun sekitar 4 helai. Pasar mancanegara paling banyak menginginkan jenis joepii, esmeraldense, gloriosum, dan melanocrysum. Iwan membuka pasar negara melalui akun media sosial. Ia cukup memotret philodendron lantas mengunggahnya di media sosial.

Jenis lama laku

Yang perlu diperhatikan adalah pengiriman ke luar negeri harus mematuhi persyaratan. Setiap negara memberikan persyaratan yang berbeda. Sebut saja Korea Selatan yang menghendaki pengiriman tanaman tanpa akar dan harus bebas dari bakteri dan cendawan. Yang juga menangguk penghasilan melimpah dari perniagaan philodendron adalah Rico Rusdiansyah.

Philodendron martianum dilepas dengan harga Rp27 juta pada lelang tanaman hias dalam gelaran Trubus Agro Expo, 30 November 2019.

Selama 2019 Rico menjual 100—200 aroid berukuran 20-30 cm setiap bulan. Menurut Rico pasar menginginkan philodendron beragam seperti melanochrysum, gloriosum, joepii, esmeraldense, dan bilitiae. Ia membanderol Rp350.000 sampai Rp9 juta per tanaman tergantung kondisi pasar dan jenis tanaman. Konsumen Rico juga beragam mencakup dalam dan luar negeri. “Pangsa pasar luar negeri didominasi oleh konsumen dari Amerika Serikat,” kata Rico.

Pemilik nurseri Titik Hijau itu bisa mengantongi pendapatan setidaknya Rp150 juta setiap bulan. Rico meletakkan philodendron—masyarakat kerap menyebut philo—di rumah tanam sederhana di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat. Di sana ia juga menyimpan philodendron eksklusif seperti bilitiae variegata. Pria berusia 32 tahun itu pernah melepas bilitiae dengan jumlah daun 16 helai seharga Rp35 juta. Iwan dan Rico tidak begitu kesulitan membuka pasar baik lokal maupun ekspor. Iwan dan Rico tidak begitu kesulitan membuka pasar baik lokal maupun ekspor.

Philodendron warszewiczii.

Bisa dibilang philodendron kini menjadi salah satu tanaman yang jadi primadona. Sejumlah pelaku tanaman hias menuai untung dari perniagaan tanaman subfamili Aroideae itu. Bahkan, jenis lama seperti Philodendron gloriosum pun menjadi incaran pehobi. Pada 2018 harga gloriosum hanya Rp250.000 per daun. Kini harga tanaman yang berhabitat di Kolombia itu mencapai Rp500.000—Rp2 juta per daun.

Karakter dan kondisi tanaman mempengaruhi harga tanaman. “Makin bagus performa tanaman maka akan makin tinggi harganya,” kata Iwan. Menurut Iwan gloriosum bertulang daun putih yang tampak kontras dengan hijaunya daun menjadi dambaan pehobi. “Daun gloriosum bisa tumbuh besar hingga berdiameter 40—50 cm. Penampilan itu memberikan kesan tropis yang kental,” kata Iwan.

Sayangnya, jumlah tanaman dengan penampilan istimewa sangat sedikit. Kondisi itu tentu saja membuat harga tanaman naik. Contoh lain adalah philodendron florida beauty. Harga tanaman dengan 1 daun mencapai Rp500.000. Bandingkan dengan harga pada 2018 yang hanya Rp150.000—Rp200.000 per daun. Iwan menuturkan, pamor philodendron di tanah air moncer sejak 3 tahun belakangan.

Tren di mancanegara

Masyarakat maupun pehobi banyak yang jatuh hati dengan sang daun cinta—dalam bahasa Yunani philo berarti cinta, dendron bermakna pohon—sebab berdaun elok dan mudah dirawat. Mereka menempatkan philodendron sebagai pemanis taman maupun penghias ruangan. Iwan menuturkan permintaan pasar begitu tinggi sehingga membuat harga philodendron naik.

“Fenomena itu terjadi hampir di banyak jenis philodendron,” kata Iwan. Yang menarik, bukan cuma philodendron berdaun belang saja yang naik daun. Philodendron berdaun hijau pun menjadi incaran, terutama konsumen manca negara. Sebut saja joepii, esmeraldense, gloriosum, dan melanocrysum. Setiap bulan Iwan mengirim pesanan philondendron ke konsumen luar negeri seperti Hongkong, Jepang, Korea selatan, Amerika Serikat, dan Singapura.

Bukan cuma masyarakat maupun pehobi di tanah air yang gandrung philodendron. Pebisnis tanaman hias di Kota Depok, Jawa Barat, Chandra Gunawan menuturkan, philodendron bersama monstera menjadi tanaman dari kelompok aroid yang menjadi lokomotif bisnis tanaman hias sejak beberapa tahun belakangan. Keriuhan philodendron bukan cuma terjadi di tanah air, tetapi juga di negara-negara di benua Amerika, Eropa, dan Asia.

Philodendron gloriosum berdaun hijau dengan tulang putih yang kontras.

Chandra mengatakan, pameran philodendron dan monstera di Amerika Serikat pada 2019 pun mendapat sambutan hangat. “Penuturan dari rekan-rekan di Amerika Serikat, pameran itu menyamai keriuhan pameran palem pada 1991,” ungkap Chandra. Penduduk dari negara 4 musim menggemari philodendron lantaran cocok sebagai penghias ruangan. Dedaunan philodendron yang hijau dan rimbun membuat atmosfer ruangan serupa kebun di negeri tropis.

Pemandangan seperti itu bagi mereka luar biasa. Apalagi di musim dingin pemandangan di luar rumah berselimut warna putih karena turun salju. “Berada di dalam rumah dengan suasana hijau nan asri merupakan hal yang istimewa bagi mereka,” kata Chandra. Di Negeri Siam, philodendron juga kondang. Pebisnis tanaman hias di Nothanburi, Thailand, Satnit Suemaksuk, menuturkan 5 tanaman yang sedang tren saat ini adalah P. bilitiae, P. red congo, Monstera obliqua, M. Thai constellation, dan M. adansonii.

Kelimanya merupakan jenis variegata. Satnit memasarkan philodendron dan monstera ke berbagai negara seperti Indonesia, Australia, Jepang, dan Eropa. Volume penjualan sekitar 100-200 tanaman dengan rentang harga 1.000-100.000 baht. Pada 19 Desember 2019 kurs 1 baht mencapai Rp464,06.

Segala segmen

Anjar, pemilik Delfawood Berkah Sejahtera, menuturkan philodendron jenis tertentu dengan harga terjangkau populer di kalangan masyarakat.

Philodendron memang memiliki sosok yang menarik. Ada yang berdaun segitiga terbalik, hati, lanset, lanset berlekuk, hingga menjari. Penikmat philodendron mencakup segala kalangan baik kolektor maupun masyarakat biasa. Kalangan kolektor menggemari philodendron eksklusif dengan harga hingga puluhan juta rupiah. Sebut saja P. spiritus-sancti milik Noldy, pehobi tanaman hias di Tangerang, yang setara dengan Rp46 juta. Adapula P. martianum variegata senilai Rp27 juta milik pehobi di Thailand.

Sementara segmen masyarakat biasanya menyukai philendron jenis biasa dengan harga lebih murah. Mereka memanfaatkan philodendron sebagai elemen taman dinding, penghias taman, maupun tanaman pot biasa sekadar untuk memperindah rumah. Pemilik PT Delfawood Berkah Sejatera yang bergerak di bidang plant styling, Anjar menuturkan, philodendron merupakan tanaman yang paling populer di antara aneka tanaman penghias ruangan. “Mayoritas klien menginginkan kehadiran philodendron di taman mereka,” kata Anjar.

Menurut Anjar philodendron menjadi pilihan bagi masyarakat yang menginginkan tanaman yang cantik bila diabadikan dalam gambar. Anjar biasanya memilihkan philodendron dengan harga terjangkau seperti selloum, black cardinal, congo, atau pink princess. Rentang harga tanaman Rp75.000—Rp600.000 untuk tanaman dengan diameter pot 15—17 cm.

Tren philodendron membuktikan dunia tanaman hias tak pernah sepi. Dahulu pelaku tanaman hias khawatir masyarakat kehilangan minat untuk mencintai tanaman. Kecemasan itu muncul karena serbuan permainan daring yang menjangkiti masyarakat. Namun, kekhawatiran itu sirna. Menurut Chandra pada prinsipnya manusia memiliki naluri untuk merawat sesuatu.

“Kebiasaan itu sudah berlangsung sejak zaman Majapahit. Kala itu masyarakat memelihara perkutut. Begitu pula dengan masyarakat Mesir kuno yang merawat kucing sebagai satwa kesayangan,” katanya. Kini masyarakat dunia menjatuhkan pilihan pada philodendron. Cinta mereka pun tertambat pada daun cinta. (Andari Titisari)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img