Kontes tanaman hias nasional memperingati hari ulang tahun ke-50 Majalah Trubus.

Expo 2019. (Dok. Trubus)
Trubus — Goliat atau Jalut pahlawan bangsa Filistin akhirnya takluk oleh Daud yang bertubuh lebih kecil. Senjata bandering—kerikil yang diikat di ujung tali dan dilemparkan—menyudahi perlawanan Goliat. Ia pun tewas. Di kontes nasional Trubus Agro Expo, goliat justru tampil menawan. Aglaonema koleksi Rizki Muhammad Alim itu meraih gelar bergengsi, grand champion.
“Goliat termasuk jenis aglaonema yang susah untuk dirawat, tumbuh anakannya lambat,” kata pehobi tanaman di Jakarta Selatan itu. Sudah begitu goliat juga rentan terjangkit virus ketika anakan masih muda. Itu membuat akar anakan lembek, meskipun terkadang anakan berumur sebulan dan tajuknya terlihat segar. Ketekunan pemuda 18 tahun itu membuahkan hasil, meraih grand champion.
Kekuatan warna
Semula goliat menjadi yang terbaik di kelas rumpun. Juara pertama di setiap kelas, total 3 kelas, kemudian beradu elok untuk memperebutkan grand champion. “Warna (tanaman) yang ini paling bagus,” ujar juri kontes Trubus Agro Expo, Herlina. Rizki memberikan vitamin atau berupa zat pengatur tumbuh (ZPT) secara rutin. Vitamin itu berbahan aktif dinitrophenolat, natrium nitroguaiacolat, natrium para nitrophenol, dan natrium orthophenol.
Frekuensi pemberian setiap 2 pekan sekali. Ia mengencerkan 1 tutup botol vitamin dalam 4 liter air. Rizki menyiram tanaman setiap 2 hari sekali pada waktu malam hari. Namun, jika cuaca amat panas, ia mencipratkan air agar media tanam tidak terlalu kering. Ia memasang plastik ultraviolet dan jaring ganda sebagai atap rumah kacanya supaya terik sinar matahari tidak memudarkan warna tanaman. Keduanya sekaligus berfungsi mencegah tetesan air hujan.

Aglaonema lebih pas menghendaki sinar matahari pagi. Menurut anak bungsu dari empat bersaudara itu sinar matahari siang hingga sore memudarkan warna daun. Goliat tumbuh apik antara lain berkat media tanam berupa campuran sekam, andam, dan serbuk sabut kelapa atau cocopeat dengan perbandingan 1:1:1. Penyemprotan pestisida rutin saban bulan untuk mencegah serangan hama.
Kontes Trubus Agro Expo berlangsung di Indonesia Convention and Exhibition (ICE), Kabupaten Tangerang, Banten, pada 30 November 2019. Ketua panitia, Ir. Nurdi Basuki, mengatakan, jumlah peserta kontes aglonema mencapai 99 tanaman dan terbagi menjadi 3 kelas. Para pehobi dari berbagai daerah seperti Kabupaten Bogor dan Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Tangerang (Banten), dan DKI Jakarta memeriahkan kontes.
Selain kontes aglaonema, panitia juga menyelenggarakan kontes tanaman aroid lain seperti anthurium dengan peserta 108 tanaman, monstera dan philodendron (100). Kontes sansevieria dengan peserta 118 tanaman juga turut memeriahkan ulang tahun.
Kampiun di Ulang Tahun
Panitia ulang tahun ke-50 Majalah Trubus menyelenggarakan kontes tanaman hias. Perhelatan itu terselenggara berkat kerja sama dengan komunitas tanaman hias seperti aglaonme, anthurium, philodendron, monstera, dan sansevieria. Berikut para peraih grand champion pada hari ulang tahun Majalah Trubus.
Kelas aglaonema

Tanaman koleksi Rizki Muhammad Alim menjadi yang terbaik dan meraih gelar grand champion. Warna tanaman cerah, merah muda dan bersinar. Tanaman tumbuh merumpun—terdiri atas banyak batang—sehingga tampil kompak. Kelebihan lain tanaman sehat bebas cacat daun akibat organisme pengganggu tanaman.
Kelas anthurium

Anthurium koleksi Muhammad Eko Iryanto itu semula juara di kelas senior hijau. Daun anthurium berumur 3 tahun itu berukuran mini, tebal, berserat, tak bertangkai. Daun juga berlekuk, dan bulat. Tanaman berakar tebal sehingga mampu menyerap nutrisi dengan baik dan tumbuh sehat.
Kelas monstera & philodendron

Koleksi Wawan Darmawan amat langka, karena lazimnya Epipremnum pinnatum variegata putih. Sementara milik Wawan variegata kuning. Juri kontes, Handry Chuary, mengatakan, tanaman Wawan merupakan Epipremnum pinnatum variegata kuning terbesar yang pernah mengikuti kontes nasional.
Kelas sansevieria

Tanaman koleksi Afda Alief bercorak aurea atau kuning keemasan. Selama ini pehobi memandang aurea sekadar pelengkap kontes. Musababnya dalam perbanyakan generatif, karakter aurea mudah muncul. Itulah sebabnya Afda justru bersemangat membuktikan sansevieria hibrida aurea tampil sempurna. (Tamara Yunike)
