
Peluang peningkatan ekspor dan ancaman industri sarang burung walet.
Trubus — Indonesia mengekspor sarang walet langsung ke Tiongkok. Negeri Tirai Bambu itu konsumen terbesar sarang burung walet. Menurut Ketua Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Dr. Boedi Mranata, Tiongkok konsumen terbesar menyerap hingga 80% sarang walet dunia. Data Badan Karantina Pertanian menunjukkan peningkatan serapan Tiongkok sejak ekspor perdana pada 2015.

persaingan kian ketat.
Volume ekspor pada 2015 mencapai 14,27 ton. Setahun berselang volume melonjak menjadi 22,53 ton. Begitu pun volume ekspor pada 2017 yang mencapai 52,23 ton dan 120 ton (2018). Menurut ketua China Agriculture Wholesale Association (CAWA), Ma Jengzun, permintaan sarang burung walet Tiongkok per tahun rata-rata 800 ton. Artinya masih ada ceruk pasar besar yang bisa diisi.
Potensi meningkat
Pemerintah Tiongkok mengisyaratkan mutu sarang yang ketat seperti keterlacakan produk, kandungan nitrit maksimal 30 ppm, dan bebas virus H5N1 atau flu burung. Menurut Boedi para peternak walet di Indonesia mampu memenuhi ketiga syarat itu. Keterlacakan dengan menerapkan kode di kemasan produk. Penurunan kadar nitrit dengan pencucian dan pemanasan suhu 70ºC selama 3,5 detik agar terhindar dari virus H5N1.
Namun, untuk meningkatkan jumlah ekspor dengan standar tinggi itu relatif sulit. Paling sulit pada proses pencucian untuk menurunkan kadar nitrit hingga 30 ppm. Menurut Boedi proses negosiasi awal mengenai kadar nitrit antara Pemerintah Indonesia dan Tiongkok memang alot. “Semula mengajukan 200 miligram ditolak, dan 70 ppm juga ditolak,” kata Boedi. Akhirnya Badan Karantina Tiongkok atas rekomendasi Departemen Kesehatan Tiongkok tetap menentukan kadar nitrit 30 ppm.

Acuan konsumen sarang walet adalah ibu hamil, bayi, dan balita. Menurut aturan Acceptable Daily Intake (ADI) kadar nitrit manusia ditoleransi maksimal 0,06 miligram per kilogram bobot tubuh per hari. Jika diasumsikan bobot bayi 5 kg maka setiap hari kadar toleransi bayi hanya 0,3 miligram nitrit per hari. “Malah pemerintah Tiongkok berasumsi kadar nitrit harus lebih rendah lagi, karena asupan nitrit bisa saja dari pangan lain,” katanya.
Menurut Boedi membuat diferensiasi produk sarang walet untuk ekspor juga diperlukan. Produk pertama berkadar nitrit maksimal 30 ppm khusus ibu hamil, bayi, dan balita. Produk kedua sarang walet berkadar nitrit maksimal 120 ppm untuk orang dewasa. Harapan Boedi jika diresmikan aturan baru diferensiasi produk, ekspor sarang burung walet bisa melonjak. Produksi total sarang burung walet Indonesia 1.500—1.600 ton per tahun.
Sebanyak 70% dari total produksi itu memenuhi syarat kualitas ekspor. Terutama produk untuk orang dewasa berkadar nitrit maksimal 120 ppm. Anacaman perdagangan liur emas datang dari negeri pesaing, Malaysia. Negeri jiran itu sepakat dengan Pemerintah Tiongkok mengirim 300 ton sarang walet mentah per tahun. “Jika Tiongkok merasa untung bukan tak mungkin kuota bisa meningkat,” kata Boedi.

Tiongkok kini gencar membuat sentra pabrik pemrosesan atau pencucian sarang burung walet di Xiamen dan Nanning. Ekspor sarang mentah tentu tanpa harus mensyaratkan batas nitrit dan perlakuan pencegahan H5N1 dengan pemanasan hingga 70º C selama 3,5 detik. Pemerintah daerah setempat mendukung kebijakan pemrosesan hingga pengolahan sarang. Bahkan, pemerintah daerah membayar separuh pajak demi meningkatkan serapan tenaga kerja di daerahnya.
Itu bisa menjadi ancaman bagi industri walet di tanah air. Bisa saja ceruk pasar besar itu diisi sarang mentah asal negara lain berimbas pada nilai tawar produk asal Indonesia. Jika itu terjadi, Indonesia mengekspor sarang mentah tentu tenaga kerja di bidang pemrosesan di tanah air bisa terancam. Padahal, pemrosesan walet di Indonesia kualitasnya jauh lebih baik daripada di Tiongkok.
“Kita harus terus berinovasi, dengan seiring berkembangya teknologi bisa saja pemrosesan kita kalah pada kemudian hari,” kata Boedi. PPSBI memastikan perdagangan walet selalu lancar. Apalagi sarang burung komoditas ekspor bernilai tinggi. Nilai ekspor sarang burung walet ke Tiongkok setara dengan impor bawang putih asal Tiongkok ke Indonesia. Beberapa upaya mengembangkan perniagaan sarang walet dengan mencari pasar alternatif selain Tiongkok dan mengembangkan olahan walet di tanah air. Harapannya agar industri sarang walet Indonesia tetap berjaya. (Muhamad Fajar Ramadhan)
