
Berbisnis jamu dengan olahan dan kemasan modern. Kaum milenial menjadi konsumennya.
Trubus — Nur Hatta Kresna Haditya meracik beragam tanaman obat seperti rimpang kunyit dan buah asam untuk istrinya Sri Ayu Budianti Pratiwi yang baru melahirkan anak kedua pada Maret 2014. Semula Ayu menolak minum racikan itu karena tidak pernah mencicipi jamu seumur hidupnya. “Saya pikir rasa jamu itu pahit. Tetapi setelah dibuatkan oleh suami kok enak,” kata Ayu mengenang.

Pratiwi mengolah beragam herba menjadi minuman
sehat dan berkhasiat. (Dok. Trubus)
Kresna juga membagikan ramuannya kepada saudara dan kerabat. Mereka menyukai jamu racikan Kresna. Bahkan, ada yang menawarkan untuk membeli rutin sampai berniat berdagang jamu buatan alumnus Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret itu. “Dari situ karena kami melihat pasar sudah tervalidasi, kami coba membuka layanan pesan terlebih dahulu (praorder),” kata Kresna. Mereka memberi merek Rahsa Nusantara.
Pasar swalayan
Modal bisnis Kresna Rp600.000 untuk membeli botol kaca dan stiker. Ia menjual jamu olahan jahe rempah, kunyit asam, bir pletok, dan asam jawa dengan sistem antar-ambil seperti tukang susu zaman dulu. Harap mafhum, Kresna sembari bekerja di pusat penelitian Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB). “Kresna kerja pagi—sore, malamnya memeras jamu sampai jam 2 pagi. Paginya ia kirim jamu sebelum bekerja,” kata Ayu.

Pasangan Kresna-Ayu bekerja berdua dari 2016 hingga pertengahan 2017. Semula konsumen mereka 30 rumah, berkembang 100 rumah, dan makin banyak. Pemesanan beragam, ada yang 2 botol, 3 botol, bahkan 4 botol per rumah untuk 2 pekan. Harga minuman bervolume 1 liter mencapai Rp80.000 “Distribusi harus rantai dingin, jadi pengirimannya perlu perlakuan khusus,” ujar Ayu. Itulah sebabnya mereka beralih strategi penjualan ke pasar swalayan toko-toko organik di Badung dan Jakarta, dan pasar daring pada 2018.
Selain produk siap minum Kresna juga menyediakan rempah-rempah kunyit, asam, dan beras kencur semua dalam bentuk kering bernama Tam8a. Konsumen tinggal menyeduh dengan air panas sehingga tidak perlu lagi distribusi cold chain dan menjangkau konsumen lebih luas. Harga jamu siap minum dan Tam8ba Rp28.000 berukuran 275 ml dan Rp20.000 berisi 12 gram.

Kresna mengembangkan produk tisane, yaitu minuman seduhan yang bukan berbahan dasar daun teh, tetapi konsentrat rempah. Ia memberi nama Tea-sane. Ternyata kebanyakan masyarakat Indonesia masih awam dengan tisane meskipun itu merupakan minuman yang lekat dengan berbagai kebudayaan di Indonesia. “Justru pasar terbesar kita ada di Bali. Wisatawan suka banget sama craft beverage,” papar Ayu.
Craft beverage merupakan minuman dengan bahan-bahan dasar yang masih terlihat jelas. Bahkan hotel bintang 5 di Bali meminati Tea-sane. Kresna sempat bekerja sama dengan hotel itu untuk memasok rutin hingga 30 pak berisi 38 gram setiap bulan. Adapun varian tisane kreasi Kresna berupa bandrek, jahe telang, teh rempah, dan anggur sultan. Harga jual Rp30.000 per kemasan 30 gram.
Permintaan tinggi
Setelah dua produk kreasi mereka sukses, Kresna dan Ayu ingin membuat produk kesehatan tradisional baru yang berlandaskan kebutuhan masyarakat. Menjaga daya tahan tubuh pilihan pas daripada harus mengobati penyakit. Muncullah ide membuat ramuan konsentrat rempah seperti jahe merah, air perasan lemon, bawang putih tunggal, cuka apel, dan madu pada pertengahan 2018. Faedah minuman itu menjaga kondisi kesehatan tubuh.
Kresna memberi nama Sapujagad. Ayah dua anak itu mengemas Sapujagad 200 ml dan menjual Rp104.000 per botol. Menurut Ayu tingkat pembelian ulang Sapujagad paling tinggi ketimbang produk Rahsa Nusantara lainnya. “Jika pelanggan ada yang membeli hingga 2 kali, itu pasti dia akan membeli terus,” ujar Sarjana Teknik alumnus Universitas Sebelas Maret itu. Kresna-Ayu menjual 3.000 botol Sapujagad setiap bulan.

Tak berhenti dengan 4 produk itu, Kresna dan Ayu terus mengembangkan varian produk seri kecantikan. Dua produk teranyar yang rilis pada Agustus 2019 dan September 2019 yaitu Sekarjagad dan Mandabhumi. Sekarjagad mirip seperti Sapujagad yang merupakan ramuan konsentrat rempah yang mengandung lemon, kunyit, cuka apel, madu, ekstrak talas jepang atau satoimo, dan lada hitam.
“Kami bekerja sama dengan periset dan produsen yang menemukan bahwa ekstrak talas jepang yang diberi perlakuan khusus bisa menghasilkan 17 asam amino dan penguat kolagen yaitu asam hialuronat,” papar Ayu. Padahal, saat ini kebanyakan sumber kolagen ataupun penguat kolagen dari hewan. Mandabhumi merupakan lulur rempah bervarian teh hijau dan kunyit, juga mengandung ekstrak talas jepang.
Harga Sekarjagad dan Mandabhumi berturut-turut Rp104.000 untuk 200 ml dan Rp153.00 untuk 100 gram. Kesuksesan pasangan suami istri pendiri Rahsa Nusantara juga terukur dari angka pendapatan. “Dari 2016—2017 naik 2 kali lipat, dan 2017—2018 naik 3 kali lipat, dari 2018—2019 kita targetkan naik 10 kali. Sampai september ini sudah naik 5 kali lipat dari tahun kemarin,” ujar Ayu.
Menurut Kresna target konsumen menengah ke atas. di seluruh pulau Jawa dan beberapa di Sumatera. Kerja sama bisnis Rahsa Nusantara makin bertambah dengan kian banyaknya jenis-jenis pasar daring dan toko gaya hidup organik. Penyerapan beberapa jenis bahan baku dari para petani mitra di Garut melewati seorang koordinator yaitu 1 ton lemon, 100 kg bawang putih tunggal, dan 100—200 kg rimpang induk kunyit per bulan.

Tiga komoditas itu yang paling banyak digunakan pada produk-produk Rahsa Nusantara. Semua bahan komoditas lokal. Sering dengan meningkatnya perminataan, perusahaan Kresna menyerap 12 tenaga kerja dan 80% karyawan perempuan. Kebanyakan pekerja Rahsa Nusantara ibu-ibu rumah tangga di perkampungan di sekitar perumahan Kresna dan Ayu di Bandung, Jawa Barat.
“Ketika ibu rumah tangga dari masyarakat termarginalkan memiliki kemandirian finansial, kehidupan rumah tangga mereka cenderung membaik. Ada yang tadinya hampir bercerai setelah menjadi pekerja kita akhirnya rujuk,” ujar Ayu yang juga seorang aktivis pemberdayaan wanita. Kresna dan Ayu yang memiliki nilai mengontemporerkan kearifan lokal percaya bahwa kaum perempuan yang paling tepat menyampaikan dan menyuarakan kearifan lokal sehingga lestari. (Tamara Yunike)
