Wednesday, January 28, 2026

Kiat Sukses Panen Budikdamber

Rekomendasi
- Advertisement -
Jaring kawat mencegah lele keluar dari ember. (Dok. Ika Nata Kristiani)

Lima kunci budikdamber yakni persiapan air, perlakuan tebar benih, pemberian pakan, perawatan air, dan pemasangan aerator.

Trubus — Profesi Ika Nata Kristina sebetulnya guru sekolah dasar. Namun, kini warga di Dusun Ngingas, Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menyebut Ika Nata sebagai mlijo alias penjual sayuran. Musababnya Ika Nata Kristina rutin menjual kangkung hasil panen budikdamber—budidaya ikan dan sayuran di ember—setiap hari.

Ika Nata Kristiani panen kangkung setiap hari dan menjualnya ke tetangga. (Dok. Ika Nata Kristiani)

Ika menitipkan kangkung beserta wadah tanam berupa gelas plastik pada pedagang sayuran di depan rumahnya. Pembeli tinggal memotong batang kangkung, sedangkan gelas berisi sisa batang dan akar dipasang kembali di atas ember. Omzetnya Rp5.000 per sepuluh wadah. Ika mengantongi Rp3.500 sedangkan sisanya bagi hasil dengan pedagang sayuran.

Lima kunci

Meski berhasil panen kangkung, ternyata 15 ikan mati selama dua pekan pertama. Ika Nata Kristina tekun mengamati dan mencatat setiap perlakuan. Perempuan berusia 35 tahun itu menebar benih lele untuk kali pertama pada 31 Maret 2020 dalam dua ember berkapasitas masing-masing 70 liter. Setiap ember berisi 40—50 ekor benih berukuran 5 cm.

Evaluasi dan konsultasi dengan pegiat lain menjadi kunci. Masih penasaran, ia menambah enam ember di lantai dua rumahnya pada pertengahan April 2020. Kini lele dalam enam ember memiliki sintasan atau survival rate hampir 100%. Bahkan, dua bulan pascatebar benih pertama, ia memanen tiga kali masing-masing enam ekor berukuran 20 cm.

Seledri dapat dipanen 1,5 bulan pascapindah tanam. (Dok. Ika Nata Kristiani)

Setidaknya ada lima hal yang menjadi kunci keberhasilan Ika yakni persiapan air, perlakuan tebar benih, pemberian pakan, perawatan air, dan pemasangan aerator. Ia mendiamkan air dalam ember 3—6 hari di tempat terbuka. Panas matahari dan hujan dapat membantu menghilangkan kaporit terutama air dari perusahaan air minum. Munculnya jentik nyamuk pertanda air siap dihuni ikan. Ketika tebar benih, Ika tidak langsung melepaskan benih dalam air. Ia memasukkan plastik berisi benih lele ke dalam air ember. Setelah mendiamkan 1—2 jam, ia baru mengeluarkannya dari plastik.

Pegiat lain di Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Nur Wachid Sakbani, mengatakan, kepadatan tebar lele satu ekor per liter air. Pascatebar benih, lele dipuasakan selama dua hari untuk menghindari stres dan mengurangi risiko terkena penyakit. Pemberian pakan juga tidak sembarangan. Ika yang menjadi guru sekolah dasar di SD Negeri 1 Ngastemi 1 itu juga memberi air secukupnya pada pakan sehingga pakan empuk tapi tidak hancur. Ia menyebut proses itu membibis.

Media tanam

Tak kalah penting, Ika juga menjaga kualitas air tetap baik bagi pertumbuhan lele dengan menguras air secara rutin. Ika menguras hanya sepertiga kapasitas ember dengan teknik shift pond atau menyedot air. “Air yang disedot terutama bagian bawah yang pekat dengan endapan,” kata Ika. Air kurasan ia gunakan untuk menyiram tanaman lain dalam pot.

Pengurasan rutin dilakukan setiap 10 hari sekali. Itu untuk mengurangi bau tak sedap. Selain kuras, Ika menambahkan kultur bakteri pengompos khusus perikanan pada air baru setelah pengurasan. Menurut Wachid penggunaan arang sebagai media tanam juga membantu menyerap racun dalam air dan mempertahankan kualitas air. Ika juga memasang aerator berlubang dua untuk delapan ember. Pegiat budikdamber di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Mu’ammar justru membiarkan air budikdambernya menghijau sepanjang pemeliharaan lele. “Selama budidaya lele, saya tidak menguras air. Air berwarna kehijauan ideal untuk lele,” kata Mu’ammar.

Terung perlu media tanam campuran tanah, pupuk, dolomit, dan arang. (Dok. Ika Nata Kristiani)

Bahkan, saat persiapan air sebelum tebar benih, ia mencampur air sisa budidaya sebelumnya dan air baru dengan perbandingan 1:1. Jika terindikasi sakit, sebaiknya pisahkan ikan itu dan segera kuras air. Tak hanya kangkung, mahasiswa jurusan Agroteknologi Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta itu berhasil panen seledri.

Sayuran buah

Sebelumnya Mu’ammar menanam seledri dengan media tanah dalam polibag. Mu’ammar memanfaatkan anakan yang telah berdaun tiga untuk dicobakan dalam budikdamber. Ada tiga wadah tanam seledri yang ia panen setelah 1,5 bulan pindah tanam. Media tanamnya arang. Para pehobi juga mengembangkan sayuran buah. Nur Wachid Sakbani sukses memanen tomat, terung, dan cabai dari ember di pekarangan depan rumah.

Wachid menggunakan bibit siap tanam. Pehobi di Magelang, Jawa tengah, itu memetik tomat dan terung setelah berumur dua bulan pascapindah tanam. Cabai lebih lama yakni sekitar tiga bulan.

Media tanam ketiga sayuran itu berbeda dengan kangkung dan selada. Wachid menggunakan campuran tanah, pupuk kandang, dan dolomit (1:1:1) pada lapisan atas dan arang pada bagian bagian bawah. Di antara dua media itu, ia menaruh kain flanel atau kertas. Kangkung dan selada cukup dengan gelas plastik, sedangkan tomat, terung, dan cabai perlu wadah berukuran setidaknya 10,16 cm.

Namun, pertumbuhannya belum optimal jika hanya mengandalkan nutrisi dari air lele, terutama tomat dan cabai. Itu terlihat dari jumlah buah tidak terlalu banyak, batang cenderung kurus, dan daun mengeriting—indikasi terbatasnya hara.

Kreator budikdamber, Juli Nursandi, menyarankan Wachid dan pegiat lain untuk mengocorkan pupuk organik cair (POC) sebagai tambahan nutrisi. Sayuran lain, kemangi, tumbuh subur dengan media arang dan nutrisi hanya dari air lele. Wachid dan pegiat lain tengah mencoba berbagai jenis ikan dan tanaman yang dapat dikombinasikan dengan budikdamber. (Sinta Herian Pawestri)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img