Meski di lahan terbatas, masyarakat dapat mengembangkan dua komoditas sekaligus. Teknologi budidaya terus berkembang.
Trubus — Budidaya kombinasi ikan dan sayuran di satu wadah berawal sejak kelahiran hidroponik pada 1800-an. Tiongkok mengembangkan akuaponik—budidaya sayuran dan ikan—sejak 1990-an. Periset Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Ikan (BRPBATPP) Bogor, Jawa Barat, Eri Setiadi, S.Si, M.Sc, mengatakan, Indonesia mulai mengenal akuaponik baru pada 2003.

Akuaponik di Indonesia semula tanpa listrik, lalu pada perkembangan selanjutnya menggunakan pompa berdaya kecil. Pada perkembangannya, akuaponik mengadopsi sistem filtrasi yang mampu menjaga kualitas air sehingga budidaya lebih kondusif. Master Biosains Akuatik alumnus Kochi University, Jepang, itu bersama tim periset akuaponik di Indonesia menginginkan masyarakat, terutama di daerah-daerah marginal dan lahan terbatas untuk mengembangkan akuaponik.
Eri mengembangkan akuaponik dengan memanfaatkan komponen-komponen yang mudah didapat. Pelaku, baik skala industri maupun rumah tangga, dapat memperoleh manfaat akuaponik. Mereka mendapatkan keuntungan ekonomi, pemenuhan protein hewani pada masyarakat, serta menciptakan ketahanan pangan masyarakat. “Budidaya akuaponik tidak tergantung musim, dan pada prinsipnya semua tanaman bisa ditanam di akuaponik asalkan jenis tanaman berakar serabut,” kata periset kelahiran 5 Februari 1965 itu.
Periset alumnus Fakultas Biologi Universitas Nasional itu mengatakan, tren akuaponik dimulai pada 2015 hingga saat ini. Kini sitem budidaya berkembang dalam budikdamber atau budidaya ikan dan sayuran dalam ember. Tren berbudikdamber mulai Maret 2020 ini dilatarbelakangi kondisi pandemi virus korona. Eri mengatakan, budikdamber sesuai dengan kondisi kini. Masyarakat mewujudkan ketahanan pangan keluarga dengan mengoptimalkan pekarangan. (Tamara Yunike)


