Kombinasi empat teknologi di satu lahan, panen lele sekaligus meningkatkan produksi padi.

Trubus — Basiri memanen 400 kg lele dan 50 kg padi organik dari lahan 24 m². Produktivitas nasional rata-rata 5,2 ton per hektare atau 0,52 kg per 24 m2. “Produktivitas padi saya lebih tinggi hingga tiga kali lipat pada luasan yang sama,” ujar petani di Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur itu. Hasil itu tercapai setelah bertahun-tahun Basiri berkreasi di bengkel.
Semula bengkel itu berupa toko bahan bangunan, tetapi kemudian ia menutup dan menjadikan sebagai tempat berkreasi di dunia pertanian. Ia berpikir dan mendesain instalasi budidaya yang nyeleneh alias tidak lazim. Basiri mengombinasikan sistem budidaya organik, hidroponik, akuaponik, dan mina padi. “Saya ingin mengubah pola pikir, pertanian yang tidak lagi kotor-kotoran, tujuannya agar banyak generasi muda yang mau jadi petani,” ujarnya.
Hidroganik

Basiri membudidayakan lele dan padi tanpa tanah dengan mengombinasikan empat sistem budidaya. Ia menggunakan nutrisi dari alam. Harap mafhum, pada sistem hidroponik, para petani lazimnya menggunakan pupuk kimia AB mix. Namun, petani kelahiran 5 Agustus 1973 itu memanfaatkan nutrisi dari air kolam ikan plus yang ada di media tanam. “Saya menyebutnya sistem hidroganik. Hidroponik yang organik,” ujarnya.
Basiri menggunakan media tanam kombinasi arang sekam dan pupuk organik atau kompos perbandingan 1 : 5. Ia memasukkan media tanam itu ke gelas plastik berdiameter 8 cm dan tinggi 12,5 cm. Bagian bawah gelas plastik berlubang. Basiri membenamkan 3—4 butir benih di media tanam itu. Ia menggunakan sistem tabela atau tanam benih langsung, tanpa penyemaian.
Sepuluh hari pascatanam, bibit siap pindah tanam. Ia memasukkan bibit itu ke lubang tanam di pipa polivinil klorida (PVC) berukuran 4 dim. Jarak antarlubang tanam 20 cm, sementara jarak antar pipa 15 cm. Kemiringan instalasi 15 derajat agar aliran air bisa lebih maksimal. Di bawah instalasi pipa itu, Basiri membangun kolam lele dengan luasan yang sama yaitu 24 m2.
Basiri membuat kolam lele beralas terpal dan berkerangka baja ringan. Tinggi kolam juga miring 15 derajat dan arah miringnya berlawanan dengan instalasi pipa. Tujuannya agar kotoran mengumpul di sisi bawah pipa tempat air naik. Ia menggunakan pompa mini untuk menaikkan air dari kolam ikan ke instalasi pipa. Pehobi ikan hias kerap menggunakan pipa itu di dalam akuarium. Pompa berdaya 35 watt.
Pakan alami

Jumlah lubang tanam mencapai 456 buah di instalasi 12 m x 2 m. Adapun populasi lele mencapai 6.000—7.000 ekor. “Pemula sebaiknya menggunakan benih ikan berukuran 5 cm,” ujar rekan Basiri yang turut mendirikan bengkel, Muhammad Nazril. Basiri tidak menambahkan pupuk apa pun selama proses budidaya padi. Sementara untuk mengendalikan hama, ia menggunakan beragam insektisida nabati.
Basiri merebus daun sirih merah hingga mendidih. Ia mengencerkan 100 cc per liter air. “Hama ulat biasanya kami ambil secara manual, kalau ada walang sangit biasanya kami semprot insektisida nabati, sedangkan penyakit sejauh ini belum ada,” ujarnya. Adapun untuk pakan, Basiri mengombinasikan pelet pabrik dan pakan alami dengan perbandingan 1:1. Pakan alami berupa magot dan tanaman air kiambang Lemna minor.
Ia menghabiskan 180—200 kg pelet dan 180—200 kg pakan alami 6.000—7.000 ekor dalam satu periode budidaya lele atau 3 bulan. Sayang ia tak menghitung angka feed conversion ratio (FCR). Panen padi pada umur 100 hari setelah tanam, sementara lele pada umur 90 hari pascatebar. Menurut Basiri produksi per lubang tanaman 1—2 ons gabah. Artinya produktivitas padi mencapai 60 kg lebih per luas 24 m2.

Itu baru menghitung produktivitas padi, belum tambahan keuntungan dari budidaya lele di bawah instalasi. “Kami bisa menghasilkan 300—400 kg lele per periode,” ujar Basiri. Menurut Muhammad Nazil untuk membuat instalasi hidroganik padi seluas 24 m2 butuh biaya Rp10 juta. Instalasi bertahan selama 15 tahun. Sementara biaya produksi dalam satu periode mencapai Rp700.000—Rp1.000.000.
Biaya itu termasuk listrik, media tanam, pakan, dan benih. Menurut pria asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, itu dengan sistem budidaya padi dan lele secara hidroganik, petani meraup untung bersih sekitar Rp2,5 juta—Rp3 juta per periode tanam. “Karena tanpa musim, jadi setahun bisa 4 kali budidaya dengan total keuntungan Rp10 juta,” kata Nazil. Dari 4—5 periode tanam, petani bisa balik modal.
Menurut guru besar Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Prof. Kuswanto, meski tanpa pupuk tambahan, kebutuhan nutrisi padi tetap tercukupi. “Hasil sekresi ikan mengandung enzim dan nutrisi bermanfaat seperti zat perang tumbuh. Jadi, air dalam kolam ikan itu, menjadi salah satu kunci kesuksesan budidaya,” ujarnya.
Penyuluh pertanian lapangan Sumber Manjing Wetan, Kabupaten Malang, Winarno menuturkan, inovasi hidroganik ala Basiri sangat mengefisienkan lahan. “Tanaman dan ikan bisa hidup dalam satu wilayah untuk bersimbiosis mutualisme,” ujarnya. Selain itu, hasil budidaya yang organik juga menambah nilai jual. (Bondan Setyawan)
