Wednesday, January 28, 2026

Aral Anggur Tiada Akhir

Rekomendasi
- Advertisement -

Banyak kendala mengebunkan anggur yang menyebabkan produksi anjlok, rusak, atau bahkan terhenti sama sekali.

Trubus — Sebetulnya Danang Priyatmoko, S.T., bisa memanen lebih dari 200 kg anggur introduksi pada akhir 2019. Sayangnya hujan mengguyur kebun anggur tanpa atap milik Danang di Desa Patalan, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Hujan selama 3 hari dan 3 malam sebelum waktu panen. Dampaknya banyak buah anggur yang pecah dan terserang cendawan sehingga tidak layak konsumsi.

Danang Priyatmoko, S.T., membangun naungan di kebun anggur miliknya agar memperoleh hasil panen maksimal. (Dok. Danang Priyatmoko)

Baca juga : Kebun Anggur di Dak Rumah

Pekebun anggur itu hanya menuai 50 kg buah. Artinya Danang kehilangan hasil panen 150 kg setara kerugian Rp15 juta (harga jual anggur Rp100.000 per kg). Meski begitu, ia hanya menganggap kejadian itu sebagai angin lalu. “Perasaan saya biasa saja karena itu termasuk proses belajar,” kata pekebun aggur sejak 2018 itu. Kehilangan hasil panen itu menjadi pengalaman berharga bagi Danang.

Hambatan hujan

Danang enggan mengalami kegagalan berulang. Oleh akrena itu, ia pun memasang naungan berupa plastik ultraviolet (UV) di kebun seluas 3.000 m² pada September 2020. Tujuannya agar tanaman terlindung dari hujan sehingga hasil panen maksimal. Menurut peneliti anggur di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Ir. Emi Budiyati, perubahan iklim di Indonesia dengan curah hujan tinggi menjadi salah satu tantangan menanam anggur.

Hujan menurunkan produksi anggur karena tanaman terserang penyakit. Keputusan Danang memasang atap berbahan plastik UV merupakan solusinya. Cara itu sudah banyak diaplikasikan di mancanegara. Danang menyarankan agar memilih plastik UV yang tebal agar masa pemakaian lebih lama. Penggunaan plastik UV berkualitas lebih efisien dan efektif.

Kelembapan tinggi memicu munculnya cendawan yang menyerang anggur. (Dok. Trubus)

Hujan juga merusak daun dan batang tanaman anggur milik Faiz Hidayat, S.Pd.T. pada Januari 2019. Semula pekebun di Desa Purwodadi, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu tidak berniat menggunakan naungan. Ia berencana meningkatkan frekuensi penyemprotan pestisida untuk mencegah serangan penyakit. Ternyata Fafa alpa menyemprotkan fungisida lantaran sibuk.

Akibatya tanaman anggota keluarga Vitaceae itu merana. Fafa—sapaan akrab Faiz Hidayat—bertindak cepat dan memasang naungan pada Agustus 2020. Kini tanaman anggur milik Fafa membaik. Menurut Fafa hal lain yang mesti diperhatikan ketika berkebun anggur yakni desain rumah tanam dan arah angin. Rumah tanam anggur Fafa pernah rusak tertiup angin pada 2016.

“Saat itu kami tidak memperhitungkan arah angin dan desain rumah tanam,” kata pekebun anggur sejak 2014 itu. Ia pun merombak struktur rumah tanam mirip segitiga, semula seperti setengah lingkaran. Fafa menuturkan pekebun juga mesti memastikan kebun anggur terpapar cahaya matahari penuh. Hindari membangun kebun anggur di tempat yang ternaungi gedung atau pepohonan.

Serangan hama

Tri Makno terpaksa berhenti membudidayakan anggur di lahan pada 2012 lantaran lokasi kebun ternaungi perkebunan jati. Kali pertama menggarap lahan, jati belum terlalu tinggi. Seiring waktu jati membesar dan kebun anggur milik Tri ternaungi sehingga pertumbuhan anggur tidak maksimal. Pasokan air yang kontinu sepanjang tahun salah satu kunci sukses berkebun anggur.

Kumbang yang kerap menyerang daun anggur saat malam. (Dok. Trubus)

Buah anggur milik Muhamad Yusuf hanya berukuran seperti lada dan mengering karena kekurangan air pada musim kemarau. Lazimnya satu dompol anggur berisi minimal 50 buah. “Saat itu hanya 3—5 buah yang berukuran normal, sisanya seperti lada kering,” kata pekebun anggur di Dusun Sengkan, Desa Japerejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, itu.

Yusuf bisa memanen sekitar 4 kuintal anggur saat itu jika pengairan lancar. Ia pun mesti merelakan kehilangan penghasilan sekitar Rp40 juta jika harga jual Rp100.000 per kg. Jadi, ia berencana membikin embung berukuran 20 m x 10 m x 6 m untuk memasok air di kebun anggur pada 2021. Air memang aspek vital untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman anggota famili Vitaceae itu.

Kenalan Fafa di Cirebon, Jawa Barat, pun rela merogoh kocek Rp500 juta untuk membuat embung berukuran 27 m x 15 m x 3 m supaya ketersediaan air memadai. Cendawan pun momok pekebun anggur. Ciri serangan anggur mengempis dan membusuk. “Segera pangkas anggur terserang cendawan agar tidak menular ke buah lainnya,” kata pekebun anggur di Gunungsimping, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Agus Yudhi.

Kelembapan tinggi memicu cendawan sehingga merusak buah. Selain cendawan, hama berupa kumbang perlu diwaspadai. Organisme pengganggu tanaman itu menyerang daun saat malam. Daun anggur yang rusak menyebabkan fotosintesis kurang sempurna. Pertumbuhan druif—sebutan anggur di Belanda—pun terganggu. Penanggulannya semprotkan fungisida sesuai anjuran pada kemasan. (Riefza Vebriansyah)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img