Wednesday, August 10, 2022

Agar Pikok Mekar Serempak

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Bunga pikok kerap mengisi rangkaian bunga pada pesta pernikahan. (Dok. Nuryono)

Upaya menghasilkan bunga pikok mekar serempak.

Trubus — Tiga bulan sebelum bulan Dzulhijjah, Nuryono rajin mengunjungi kebun bunganya saat malam hari. Di lahan 500 m2 itu (total populasi 3.000 bibit), petani bunga potong di Jalan Cemara Kipas, Kecamatan Batu, Kotamadya Batu, Jawa Timur, itu menyalakan 20 lampu light emitting diode (LED) berdaya 7 watt dari pukul 20.00—00.00. Di lahan itu Nuryono memasang total 20 lampu. Demikian pula menjelang hari-hari besar keagamaan lain atau pada bulan tertentu.

“Permintaan bunga meningkat pesat. Saya harus mempersiapkan tiga bulan sebelumnya,” ujar Nuryono. Menurut koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Kecamatan Bumiaji, Kotamadya Batu, Dulkamar, SST, masyarakat memanfaatkan bunga pikok Aster sp. sebagai rangkaian bunga saat perayaan pernikahan dan khitanan. Pada bulan Dzulhijjah masyarakat banyak mengadakan pesta pernikahan. Di luar bulan itu, pasar pikok untuk dekorasi perkantoran dan perhotelan.

Lebih produktif

Varian bunga pikok ungu. (Dok. Nuryono)

Nuryono memanen bunga pikok saat tanaman berumur 2,5 bulan sejak tanam. Oleh karena itu, ia menanam bunga pikok 3 bulan sebelumnya. Bertepatan dengan bulan yang banyak pesta pernikahan bunga-bunga pikok mekar serempak. Nuryono memanennya dua kali per pekan masing-masing 200 ikat per panen. Per ikat terdiri atas 20—30 kuntum bunga pikok.

Petani bunga pikok sejak 2014 itu menuturkan, “Jumlah panen itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa lampu.” ujar. Bandingkan jika budidaya tanpa lampu, produksi hanya 50 ikat per panen. Artinya produksi bung apotong melonjak 4 kali lipat karena pemakaian lampu LED. Menurut Nuryono jika budidayanya baik tanaman mulai berproduksi 8 bulan sejak tanam.

Keruan saja biaya produksi meningkat karena Nuryono harus membayar penambahan biaya listrik Rp150.000 per bulan. Nuryono menyalakan lampu sejak awal tanaman hingga 30 hari setelah tanam. Tambahan biaya listrik hanya Rp150.000. Namun, biaya itu tertutupi dengan peningkatan produksi. Nuryono tetap memperoleh laba. Bahkan, laba bersihnya lebih besar setelah menggunakan lampu.

Nuryono memasang 20 lampu LED 7 watt di lahan 500 m2. (Dok. Nuryono)

Petani berumur 53 tahun itu membudidayakan bunga pikok tanpa lampu saat permintaan tak sebanyak di bulan pernikahan atau khitanan. Nuryono menjual hasil panen ke toko bunga di Kota Batu Rp10.000 per ikat bunga sehingga beromzet Rp16 juta. Sementara omzet Nuryono saat tidak menggunakan lampu hanya Rp4 juta karena produksi rendah. Hasil panen yang tinggi tidak lepas dari budidaya intensif termasuk penambahan lampu pada malam hari.

Hari pendek

Menurut peneliti bunga dari Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) di Cianjur, Jawa Barat, Prof. Dr. Ir. Budi Marwoto, M.S., penambahan lampu wajib untuk menghasilkan bunga yang seragam, meski tidak ada persyaratan diameter bunga. Tanaman anggota famili Asteracea itu termasuk tanaman hari pendek atau short day plant. Petani yang membudidayakannya butuh penyinaran sedikitnya 16 jam per hari untuk mempertahankan fase vegetatif.

Nuryono membudidayakan
pikok sejak 2014. (Dok. Nuryono)

Setelah tinggi tertentu yang diinginkan petani, yakni minimal 25 cm, panjang hari pikok mulai diperpendek menjadi 12 jam per hari untuk menginduksi pembungaan. Caranya dengan mempersingkat nyala lampu, sejak pukul 20.00—22.00. Selain Nuryono, Mochammad Soleh juga melakukan hal yang sama. Petani bunga pikok di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kotamadya Batu, meletakkan 72 lampu di lahan 1.500 m2—total populasi sekitar 9.000 tanaman.

Nuryono mengatur jarak tanam 20 cm x 20 cm. Ia dan para petani pikok lain memperoleh benih dari tetangga yang selesai panen. Petani sejak 2014 itu menggunakan lampu LED berdaya 7 watt. Nuryono rutin memupuk sejak olah tanah pada awal budidaya. Ia memberikan 30 karung pupuk kandang kambing atau sekitar 600 kg dan 15 kg NPK.

“Pemupukkan selanjutnya sebulan dua kali dengan 15 kg NPK yang ditabur di sekitar tanaman,” ujar petani kelahiran 2 Maret 1967 itu. Ia juga menyemprotkan fungisida berbahan aktif propineb dan vitamin tanaman sepekan sekali untuk mencegah penyakit. Ketika musim kemarau, ia menambahkan insektisida berbahan aktif beta siflutrin. “Kalau ada serangan hama dan penyakit yang tinggi, dosis saya naikkan dua kali lipat,” ujarnya. Cendawan menyerang saat musim hujan, sementara hama mengganas saat kemarau.

Menurut Dulkamar bisnis bunga pikok di Kota Batu terus meningkat sebelum wabah Corona virus disease 2019 (Covid-19). Faktor-faktor pendukungnya antara lain kondisi alam yang cocok untuk budidaya tanaman hias, permintaan pasar yang selalu meningkat, plus sarana transportasi pengiriman antarwilayah yang tersedia. Di Kota Batu petani membudidayakan tanaman kerabat tagetes itu di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut. Menurut Dulkamar budidaya bunga pikok di Batu mulai ramai sejak 6 tahun-an yang lalu. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img