Trubus.id— Budidaya rafflesia di luar habitat tidak bisa menyamai pertumbuhannya di habitat asli. Di habitat aslinya, ukuran bunga rafflesia lebih besar, waktu mekar lebih lama, dan lebih indah ketimbang di luar habitat asli. Itulah sebabnya kini kondisi bunga langka itu sangat mengkhawatirkan.
Apalagi hutan terancam perambahan, pembalakan, dan penebangan liar. Kalau dibiarkan, kemungkinan besar puspa langka itu hanya tinggal nama. Kondisi itulah yang mendorong Sofian Ramadhan, S.I.P., M.Si., mendirikan Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu pada 18 Desember 2010.
Komunitas itu memiliki misi melestarikan puspa langka di Bengkulu dan membuat provinsi yang berjuluk Bumi Rafflesia itu makin terkenal. Tidak hanya rafflesia, KPPL juga melindungi bunga-bunga langka lain yang juga terancam seperti anggrek pensil (Papilionanthe hookeriana) dan bunga bangkai (Amorphophallus titanum).
Di Indonesia tumbuh 5 jenis bunga rafflesia yaitu Rafflesia arnoldii (padma raksasa), Rafflesia gadutensis, Rafflesia hasseltii, Rafflesia bengkuluensis, dan Rafflesia kemumu.
Selama ini pengelolaan habitat rafflesia hanya dilakukan kelompok-kelompok masyarakat yang peduli secara sukarela, mandiri, dan swadaya. Bandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia yang juga memiliki rafflesia.
Mereka sangat bangga dengan kekayaan flora. Mereka menyediakan informasi tentang rafflesia di pusat-pusat informasi dan tempat-tempat publik seperti bandara. Sayangnya di Indonesia tidak seperti itu.
Penelitian terhadap penemuan rafflesia justru sangat minim. Pendanaan untuk penelitian dan publikasi masih sangat minim. Padahal, rafflesia salah satu dari tiga bunga nasional Indonesia. KPPL Bengkulu dengan masyarakat lokal yang sering melihat bunga rafflesia mekar di hutan pun membangun informasi.
Di samping itu, Sofian dan rekan memetakan, mendata, mengidentifikasi, dan mengeksplorasi kawasan habitat rafflesia di hutan Bengkulu. Kemudian mereka menyosialisasikan dan mengedukasi konservasi puspa langka kepada masyarakat.
Sofian mendorong masyarakat terutama pemuda di daerah yang memiliki kawasan habitat rafflesia untuk ikut melestarikan. Ia juga memberdayakan masyarakat lokal yang bersentuhan langsung dengan habitat rafflesia sebagai pemandu ekowisata sekaligus pengelola kawasan.
Selain itu, Sofian juga selalu mengampanyekan konservasi “Save Rafflesia” pada Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Ia ikut berpartisipasi pada acara atau pameran lingkungan sebagai sarana edukasi dan promosi.
Sofian juga membibitkan tanaman inang rafflesia bersama kawan-kawan komunitas di beberapa kawasan hutan.
