Tuesday, November 29, 2022

Aglaonema: Harga Tinggi Setelah Mutasi

Rekomendasi

Aglaonema mutasi semakin banyak bermunculan. Harga tetap tinggi.

Harry Setiawan akhirnya melepas tiga pot aglaonema striptease setelah pembeli membayar total Rp9-juta. Padahal, menurut kolektor aglaonema di Bekasi, Jawa Barat, itu harga aglaonema striptease biasanya hanya Rp100.000 per pot. Sungguh lonjakan harga yang fantastis. Harap mafhum aglaonema striptease itu memang bukan aglaonema biasa, tetapi mutasi. Menurut Hany Faroko, pehobi aglaonema di Bekasi, harga aglaonema mutasi memang lebih mahal dibanding aglaonema normal.

“Semakin langka jenis yang dicari, maka harga semakin tinggi,” katanya. Aglaonema widuri mutasi putih,  misalnya, harganya bisa ratusan kali lipat dari widuri normal. Harga sebuah pot widuri biasa terdiri atas 10 daun hanya Rp100.000, mutasi Rp10-juta. “Widuri mutasi putih sangat langka dibanding mutasi merah. Kalau mutasi merah kenaikan harga hanya 10 kali lipat,” kata Hany. Ia menuturkan mutan serupa yang berharga fantastis adalah hot lady putih.

 

Peluang kecil

Selain mahal, meminang sri rejeki mutan dari tangan penangkar seperti Harry juga tak semudah memejamkan mata saat kantuk tiba. Harry Setiawan bersedia menjual aglaonema mutasi jika memiliki lebih dari satu tanaman per jenis. “Saya menjual 3 pot striptease mutasi karena ketika itu saya punya 5 pot striptease mutasi. Jadi, saya masih punya sisa dua pot. Kalau masih satu atau dua pot saya tidak akan melepas meski ditawar dengan harga tinggi,” tuturnya.

Harry belum mau melepas romantic love, nancy, reina, dan legacy—semua jenis mutasi—karena jumlah tanaman terbatas, masing-masing sebuah tanaman. Ia enggan menjual aglaonema mutan, meski harga menggiurkan, lantaran peluang untuk mendapatkannya sangat kecil. “Peluang kemunculannya sulit diprediksi. Bisa satu berbanding sejuta atau seratus juta,” tutur ahli Fisiologi Tumbuhan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir Edhi Sandra MSi.

Di nurseri milik Harry muncul beberapa aglaonema mutasi karena ia kerap memperbanyak tanaman secara vegetatif, yakni setek batang. “Namun, untuk mendapatkan aglaonema mutasi butuh waktu bertahun-tahun setelah melalui beberapa kali perbanyakan,” katanya. Kasus legacy mutasi violet, misalnya, Harry pertama kali memperoleh pada 2011. Padahal, ia sudah memperbanyak tanaman itu sejak 2003. Menurut Ahmad Syahrian Siregar SP, praktikus bioteknologi dari Kementerian Pertanian, perbanyakan secara vegetatif yang dilakukan terus-menerus memicu kesalahan dalam replikasi deoxyribonucleid acid (DNA).

“Akibatnya tanaman mutasi memiliki susunan gen yang berbeda dengan induknya,” kata Ahmad. Contoh perubahan ciri fisik pada aglaonema mutan misalnya ukuran daun dan batang lebih besar atau kecil, serta corak warna daun yang berlainan dengan induk. Pehobi tanaman hias di Jakarta Timur, Rishal M. Luthan, menuturkan aglaonema memiliki gen yang lemah karena dalam proses penyilangan terjadi inses alias perkawinan sedarah. “Mutilasi atau cacah secara terus-menerus dan ekstrem dapat mempercepat terjadinya mutasi,” kata pria yang kerap menjadi juri dalam kontes nasional aglaonema itu.

 

Sepot striptease biasa hanya Rp100.000, tapi bila bermutasi bisa melonjak hingga ratusan kali lipat Lambat tumbuh

Rishal menuturkan pada aglaonema biasanya terjadi dua tipe mutasi. Pertama, mutasi kembali ke sosok tetua karena terjadi lompatan gen, seperti terjadi pada mutan black widuri dan black reina. Kedua, mutasi berupa perubahan warna, guratan, dan bentuk daun karena “bangunnya” sel atau pigmen warna yang “tertidur”. Perubahan warna pada daun menjadi lebih putih, merah, atau keemasan. “Kedua mutasi itu terjadi secara alami lewat perbanyakan vegetatif,” katanya. Dr Dewi Sukma SP MSi, dosen di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Insititut Pertanian Bogor, menuturkan jika karakter mutan muncul terus-menerus hingga generasi ke-4 atau ke-5, maka mutasi dikatakan stabil.

Di balik keunikan dan keistimewaannya, tanaman mutan juga memiliki kelemahan, yakni pertumbuhannya lambat. Itu karena aglaonema mutasi memiliki jumlah klorofil lebih sedikit sehingga pasokan makanan minim. “Aglaonema biasa hanya butuh waktu 3 minggu sampai sebulan untuk memunculkan tunas baru. Sementara si mutan butuh 2—2,5 bulan,” kata Henry Biantoro, pehobi di Jakarta Selatan. Namun, pertumbuhan tanaman yang lambat tak menyurutkan hasrat para pehobi untuk mengoleksi aglaonema mutasi.

Di kediamannya, Henry juga mengoleksi beragam sri rejeki mutasi seperti adelia mutasi merah, reina mutasi merah, widuri mutasi putih polos ‘alba’, dan tiara mutasi merah. Agar mutan tumbuh sehat, Henry memberikan nutrisi lengkap berupa pupuk lambat urai yang mengandung NPK berimbang serta pupuk makro dan mikro lengkap. Tanaman diletakkan di bawah naungan jaring peneduh. Persentase cahaya matahari yang masuk sekitar 30%. Sama seperti Harry Setiawan, Henry pun enggan melepas begitu saja sang ratu daun mutasi klangenannya. Keduanya sudah tertambat pesona si ratu mutasi. (Andari Titisari/Peliput: Desi Sayyidati Rahimah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img