Beberapa jenis aglaonema lawas masih menjadi incaran para pehobi. Harga jual tetap tinggi.

Trubus — Hamdan Hamjani kedatangan seorang tamu asal Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sang tamu terpesona aglaonema goliath koleksi Hamdan. Ia menawar 2 pot aglaonema itu Rp15 juta. Setiap tanaman anggota famili Arecaceae itu terdiri atas sekitar 15 daun. Artinya nilai per lembar daun rata-rata Rp500.000. Harga itu tergolong premium ketika tren aglaonema tidak sekuat 12—13 tahun lalu.
Mendapat tawaran itu Hamdan bergeming. Pemain aglaonema asal Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu menolak menjual kedua koleksinya karena untuk bahan indukan. Bagi Hamdan kedua goliath itu ibarat modal investasi. Maklum, goliath kini menjadi salah satu aglaonema incaran para kolektor. “Mereka menyukai goliath karena sosoknya yang bongsor dan tampak gagah,” ujarnya.
Jenis lawas
Menurut Hamdan goliath sejatinya tergolong jenis aglaonema lawas. Kerabat keladi itu awalnya terlahir sebagai moonlight pada 2005, bersama saudara seinduknya yaitu golden moonlight (varian moonlight berwarna daun kuning keemasan), black moonlight (berwarna daun dominan hijau), dan esmeralda. Pehobi aglaonema di Jakarta, Yendi Septifiyandi, menyematkan nama golliath pada 2009 untuk moonlight koleksi Hery Poernomo.

Ia memberikan nama itu karena moonlight koleksi Hery berpenampilan berbeda. Sosoknya lebih besar dan kekar. Tinggi tanaman mencapai 70 cm dari permukaan media tanam. Ciri lain tangkai daun lebih panjang daripada moonlight normal. Meski bertangkai panjang, tapi tetap kokoh menopang daun yang lebar. Ciri khas lain batang dan rimpangnya berwana putih bersemburat merah muda.
Penamaan baru itu seizin pemulia moonlight, yakni Gregori Garnadi Hambali. Seiring berjalannya waktu, kini bermunculan varian goliath. Goliath normal biasanya berwarna daun cenderung hijau pupus yang khas dengan tulang tengah dan sirip merah tua. Kini muncul varian goliath berwarna dominan kuning atau kerap disebut goliath golden. Ada juga berwarna kuning kehijauan.
“Sosok yang gagah dan variasi warna yang cantik itulah yang membuat goliath kini menjadi incaran kolektor,” tutur Hamdan. Menurut Hamdan aglaonema lawas lain yang kini masih menjadi incaran para pehobi adalah jenis cochin greg. Sesuai namanya, aglaonema itu juga lahir dari tangan penyilang Gregori Garnadi Hambali. Penampilan cochin greg mirip cochin asal Thailand, yakni warna daun dominan merah tanpa corak batik. Bedanya permukaan dan punggung daun berwarna merah lebih menyala.
Cochin perkasa
Harga aglaonema yang dirilis pada 2004 itu masih tergolong premium. Untuk tanaman dewasa 10—15 daun masih bertengger di angka Rp5 juta per tanaman. Menurut pehobi aglaonema asal Jakarta, Abdul Rahman Bahri, para penggemar aglaonema masih menyukai cochin greg karena memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan jenis cochin hibrida asal Thailand yang gampang layu bila terpapar sinar matahari berlebih.

Cochin greg sebaliknya. Penampilannya makin memukau saat terpapar sinar sang surya. “Daunnya vigor dan warna merahnya menyala,” kata pria yang kerap disapa Cak Aim itu. Pehobi aglaonema asal Jatiwaringin, Kota Bekasi, Jawa Barat, Choki Simanjuntak, juga berpendapat serupa. Ciri khas cochin greg dapat dilihat dari bentuk daun yang cenderung memanjang, tapi ditopang tangkai daun yang pendek sehingga daun lebih kokoh dan tidak mudah terkulai.

Nama khanza pun muncul dalam daftar aglaonema lawas yang hingga kini menjadi incaran para pehobi. Menurut Hamdan para kolektor mematok harga Rp3,5 juta—Rp5 juta untuk sebuah indukan khanza. Para pehobi meminati tanaman kerabat keladi itu lantaran penampilannya yang cantik. Daunnya membentuk corak khas rotundum dengan guratan corak berwarna merah muda yang menyala.
Hamdan menuturkan banyak faktor yang menyebabkan aglaonema-aglaonema lawas itu masih menjadi buruan kolektor. “Para kolektor biasanya tertarik membeli untuk tanaman induk,” ujarnya. Mereka nantinya memperbanyak indukan itu untuk menghasilkan anakan untuk dijual ke konsumen dengan harga lebih terjangkau. Saat ini konsumen pemula biasanya menghendaki tanaman berpenampilan cantik, tapi harga terjangkau.
Itulah sebabnya para produsen tanaman hias menggenjot produksi untuk memenuhi permintaan konsumen. “Mereka membutuhkan banyak indukan agar perbanyakan menjadi lebih cepat,” kata Hamdan. Dampaknya permintaan aglaonema-agaloanema lawas pun tetap tinggi. Meski lawas, keelolakannya tak pernah pudar. Yang hebat, harga jual beberapa jenis justru lebih mahal dibandingkan dengan saat tren. (Imam Wiguna)
