Tuesday, January 27, 2026

Akasia Unggul Baru

Rekomendasi
- Advertisement -
Akasia hibrida berumur 3 tahun di Wonogiri, Jawa Tengah.
Akasia hibrida berumur 3 tahun di Wonogiri, Jawa Tengah.

Tiga klon akasia hibrida unggul hasil pemuliaan.

Sejak 1994 Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH), Yogyakarta, bekerja sama dengan pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) melakukan pemuliaan pohon hutan. Salah satu kegiatan adalah pembangunan Kebun Benih Semai Uji Keturunan (KBSUK) Acacia mangium (generasi pertama, kedua, dan ketiga) dan Acacia auriculiformis (generasi pertama dan kedua).

Tujuannya mendukung peningkatan produktivitas tegakan dengan menyediaan benih unggul. A. mangium merupakan spesies andalan untuk bahan baku pembuatan bubur kayu dan kertas di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Ditinjau dari sifat kayu dan sifat silvika—ilmu tentang pohon hutan—A. mangium dan A. auriculiformis merupakan spesies pohon dengan sifat-sifat kayu yang baik sebagai bahan baku pembuatan bubur kayu dan kertas.

Uji klon akasia hibrida umur 1,5 tahun di Wonogiri, Jawa Tengah.
Uji klon akasia hibrida umur 1,5 tahun di Wonogiri, Jawa Tengah.

Akasi hibrida
Syarat silvika yang diperlukan sebagai bahan pembuatan bubur kayu dan kertas adalah mempunyai pertumbuhan cepat, berbatang lurus, dan mudah dibudidayakan. Sementara sifat-sifat kayu yang diperlukan sebagai bahan pembuatan bubur kayu antara lain kandungan selulosanya tinggi, kandungan lignin rendah, dan rendemen bubur kayu tinggi, serta mempunyai dimensi serat yang baik.

Sifat-sifat silvika A. mangium relatif lebih baik ketimbang A. auriculiformis. Yang disebut terakhir lebih unggul pada sifat kayu dan toleransi terhadap serangan hama dan penyakit. Oleh karena itu untuk mencapai hutan tanaman berproduktivitas tinggi dan kualitas kayu yang lebih baik, penggabungan sifat-sifat unggul dari A. mangium dan A. auriculiformis perlu dilakukan.

Penyerbukan alami atau buatan kedua tanaman itu menghasilkan varietas baru akasia hibrida. Peneliti dan tim melakukan hibridisasi buatan melalui serangkaian riset untuk mendapatkan klon akasia hibrida unggul. Tahapan penelitian dimulai dengan pemilihan pohon induk. A. mangium sebagai induk betina dan A. auriculiformis sebagai induk jantan.

Riset itu menunjukkan peluang keberhasilan hibridisasi buatan lebih besar jika A. mangium digunakan sebagai induk betina. Selanjutnya tim peneliti mengamati sinkronisasi waktu pembungaan. Hibridisasi dilakukan menggunakan metode langsung ketika pukul 06.00—10.00 ketika bunga masih dalam kondisi reseptif.

Perbandingan pertumbuhan akasia hibrida (sebelah kiri) dan A. mangium murni.
Perbandingan pertumbuhan akasia hibrida (sebelah kiri) dan A. mangium murni.

Tiga klon unggul
Kemudian peneliti mengamati produktivitas dan kualitas biji hasil hibridisasi. Lalu periset menyemai biji dan mengidentifikasi menggunakan penanda morfologi dan diverifikasi menggunakan penanda molekuler. Periset menyeleksi semai yang terbukti hibrida berdasarkan tinggi semai, kemampuan bertunas, dan berakar. Tujuannya untuk membangun kebun pangkas.

Tim peneliti lalu menguji hasil perbanyakan setek di lapangan dalam bentuk uji klon. Pertumbuhan klon lantas dievaluasi untuk menentukan klon terbaik. Hasil uji klon menunjukkan 3 klon berumur 1 tahun lebih tinggi dan diameter lebih besar ketimbang kontrol dengan superioritas 3,51%—35,35%. Peneliti menduga produktivitas tegakan akasia hibrida mencapai 48 m3 per ha per tahun pada akhir daur (saat berumur 8 tahun).

Sementara produktivitas kontrol 41 m3 per ha per tahun. Keunggulan akasia hibrida baru antara lain pertumbuhan cepat, bentuk batang lurus dan bulat, percabangan ringan, serta kayunya sangat baik sebagai bahan baku bubur kayu dan kertas. Akasia hibrida juga lebih toleran hama dan penyakit.

 Letakkan setek akasia hibrida di ruang pengabutan untuk inisiasi perakaran selama kurang lebih 1 bulan.
Letakkan setek akasia hibrida di ruang pengabutan untuk inisiasi perakaran selama kurang lebih 1 bulan.

Keunggulan lain akasia hibrida tumbuh baik di lahan marginal seperti tanah gambut sandy loamy, marine clay, dan tanah spodosol. Dengan keunggulan itu akasia hibrida sangat berpotensi dikembangkan dalam hutan tanaman industri (HTI) yang menyediakan bahan baku pulp dan kertas. Sifatnya yang sangat adaptif dengan lingkungan menjadikan akasia hibrida itu sangat sesuai sebagai tanaman penghijauan dan tanaman rakyat.

Target tinggi
Masyarakat dapat mengembangkan jenis itu dalam skala kecil atau skala besar dalam bentuk hutan rakyat karena nilai jual kayunya cukup menjanjikan. Penelitian strategi pemuliaan akasia hibrida merupakan riset tahap awal sebagai titik tolak pengembangan akasia hibrida selanjutnya di Indonesia.

Harap mafhum peningkatan produktivitas tegakan salah satu kunci keberhasilan pencapaian kapasitas industri bubur kayu dan kertas. Kementerian Kehutanan menetapkan luas hutan tanaman industri (HTI) 9-juta ha pada 2016. Pada 2007 Kementerian Kehutanan mengembangkan HTI seluas 3,4-juta ha. Sebanyak 2,4-juta ha dari jumlah itu merupakan HTI pemasok kebutuhan bahan baku bubur kayu (pulp) dan kertas serat pendek.

Berdasarkan Peta Jalan Revitalisasi Sektor Kehutanan, khususnya Industri Kehutanan, pemerintah menetapkan target pencapaian peningkatan kapasitas industri bubur kayu dari 6,5-juta ton pada 2007 menjadi 16-juta ton per tahun pada 2020. Sementara peningkatan industri kertas dari 10,5-juta ton menjadi 18,5-juta ton per tahun. Dengan asumsi 1 ton bubur kayu memerlukan 4,9 m3 kayu, maka diperlukan 78-juta m3 kayu untuk menghasilkan 16-juta ton bubur kayu per tahun.

Produktivitas tegakan kini 200 m3/ha karena riap rata-rata tahunan 25 m3/ha/tahun pada umur 8 tahun. Jadi, untuk memenuhi target kapasitas produksi bubur kayu diperlukan areal tebang 390.000 ha per tahun. Padahal kemampuan penanaman nasional berkisar 150.000—200.000 ha per tahun. Tanpa peningkatan produktivitas tegakan, maka target itu sangat sulit terpenuhi.

Tim periset akasia hibrida.
Tim periset akasia hibrida.

Produktivitas tegakan yang tinggi menghasilkan ketersediaan volume bahan baku (m3) yang besar. Selain itu peningkatan kualitas bahan baku juga sangat menentukan kualitas produk serta efisiensi proses industri bubur kayu dan kertas. Bila produktivitas tegakan tinggi dan berkualitas baik maka bisa dihasilkan bubur kayu bermutu tinggi. Untuk menunjang keberhasilan pembangunan hutan tanaman dan industri kehutanan, kita perlu membangun hutan tanaman berproduktivitas tinggi dengan kualitas kayu tinggi.

Penggunaan bibit unggul dari spesies terpilih, penerapan teknik silvikultur yang tepat, serta pengendalian hama dan penyakit terpadu merupakan upaya peningkatan produktivitas hutan tanaman. Munculnya klon unggul akasia hibrida salah satu jawaban untuk memenuhi kebutuhan nasional. (Dr Sri Sunarti SHut MP dan tim, peneliti di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img