Mengemas jamu menjadi produk modern, pas utuk anak muda, dan tetap menyehatkan.

Trubus — Green tamarind menjadi pilihan Heptari Elita Dewi ketika mengunjungi sebuah kafé di Jl Raya Gubeng, Kota Surabaya, Jawa Timur. Pengajar di Universitas Brawijaya itu tergoda dengan penampilannya yang berwarna hijau cerah dengan hiasan ceri di bibir gelas. “Rasanya nikmat, segar, manis, dengan sedikit aroma jamu kunyit asam,” ujarnya. Kafé itu memang bukan kafe biasa, karena menyajikan jamu kekinian dengan beragam varian.
“Kami ingin mengubah persepsi di kalangan milenial terhadap jamu. Selama ini persepsinya cenderung negatif. Jamu itu pahit, ga keren, dan produk nenek moyang,” ujar Perry Angglishartono, product grup manager PT Jamoe Iboe Jaya yang mengelola kafe. Melihat fenomena itu, kini Jamu Iboe juga membidik pangsa pasar anak muda yang masih luas. Sejak 2015, Jamu Iboe mulai membuka kafé Jamu Iboe Griya Herba di berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Denpasar.

Anak muda
Perry mengatakan, “Segmen pasar kita arahkan ke anak muda. Kita harus ubah produk, cara menjual, dan tempat menjual produknya.” Jamu Iboe sejatinya memiliki tiga jenis produk yaitu jamu tradisional, jamu modern, dan minuman kesehatan. “Jamu tradisonal berbentuk serbuk dan pahit. Jamu modern berbentuk kapsul dan ekstrak. Jamu modern kami jual di apotek dan toko obat. Nah, untuk anak muda, kami ubah jamu menjadi manis, keren, dan tetap menyehatkan,” ujarnya.
Perusahaan itu mengemas beragam jamu dengan berbagai nama sebut saja green tamarind, temulawak slush, manggis sunset, dan rosella strawberry. “Namanya kekinian sehingga kesan jamu menjadi keren,” ujar Perry. Jamu Iboe tetap mengutamakan rasa, khasiat, dan tanpa bahan pengawet. Jamu green tamarind misalnya, mengandung jamu kunyit asam, sawi daging, dan perasan jeruk nipis. Kombinasi itu menghasilkan rasa jamu yang nikmat, segar, dan menyehatkan.

Pengenalan khasiat jamu tetap dipertahankan. “Green tamarind tinggi serat, sehingga bagus untuk kebugaran badan dan menghilangkan bau badan. Temulawak slush menjaga kesehatan hati, menghaluskan kulit dan sebagai antioksidan untuk menjaga daya tahan tubuh. Manggis sunset bersifat antiradang dan membantu meringankan rematik plus meringankan gejala darah tinggi,” ujar Perry.
Tak hanya rasa dan nama, lokasi penjualan pun mereka tentukan. Jamu Iboe membidik lokasi yang banyak dikunjungi anak muda misalnya mal dan tempat-tempat wisata. “Anak-anak muda suka ditempat keramaian untuk nongkrong bareng teman-temannya. Di situlah pasar kami,” ujar lelaki yang hobi melancong itu.
Pesaing

Jamu Iboe juga kerap menyelenggarakan pameran-pameran di mal, tempat wisata, dan kampus untuk mengenalkan produk. “Kami juga jadi sponsor beragam even anak muda, terutama di kampus-kampus,” ujarnya. Jamu Iboe juga mengisi pameran itu dengan beragam acara, misalnya lomba minum jamu. Tujuannya agar anak muda menyukai jamu. “Target akhirnya, kami ingin jamu menjadi gaya hidup anak muda,” ujarnya.
Jamu Iboe memahami bahwa semuanya butuh proses. Namun, Perry yakin, suatu saat nanti produk jamu dapat diterima oleh semua kalangan, terutama anak muda. “Seperti halnya kopi, dulu yang meminum kopi kesannya jadul dan klasik. Namun, sekarang banyak anak muda dengan bangga ngopi di kafé-kafé,” ujar Perry. Terbukti, usaha Jamu Iboe membidik pasar anak muda milenial membuahkan hasil.
“Saat ini penjualannya mencapai 30—50 gelas per hari. Padahal, waktu awal buka hanya sekitar 10 gelas,” ujarnya. Hal itu menjadi indikasi, produk jamu kekinian mulai diterima kalangan anak muda. Wajar saja melihat perkembangan itu, banyak perusahaan jamu lain yang ikut membuka kafé dan kedai jamu di berbagai pusat kota. Pesaing jamu iboe membidik pangsa pasar anak muda mulai bermunculan. “Kami malah senang dan terbantu. Semakin banyak yang ikut mengenalkan jamu ke anak muda. Maka pasar kami semakin luas dan berkembang,” ujarnya. (Bondan Setyawan)
