Trubus.id — Tempe kerap dinilai sebagai makanan rakyat kecil. Mengonsumsi tempe dianggap bisa membuat asam urat. Selama kedelai masih impor tempe tidak bisa maju. Itu sederet paradigma yang selama ini melekat pada tempe. Padahal, sejatinya tempe merupakan pangan kebanggaan Indonesia.
Dr. Driando Ahnan, dari Tempe Movement, mengatakan, masyarakat Indonesia harus bangga dengan kehadiran tempe. Menurutnya, berdasarkan literatur sejarah, tempe berasal dari Bayat, Klaten, Jawa Tengah.
Ando—sapaan akrabnya—berupaya meluruskan paradigma salah yang melekat pada tempe. Tempe bukanlah makanan rakyat kecil. Semua masyarakat tidak mengenal kelas memerlukan tempe sebagai pangan yang mengandung protein. Bahkan, kandungan gizi yang ada pada tempe terbukti mampu bersaing dengan sumber protein lain yang berasal dari daging.
Selain itu, tempe bukanlah penyebab asam urat. Hal ini karena menurut Ando belum ditemukan riset ilmiah yang mengatakan penyebab asam urat adalah tempe. Tanpa impor kedelai pun, masyarakat masih bisa membuat tempe.
“Tempe bukan kedelai, tetapi tempe sebuah teknologi yang diciptakan nenek moyang. Tempe adalah proses. Jadi kita masih bisa membuat tempe dengan biji-bijian atau kacang-kacangan selain kedelai, seperti kacang merah, kacang hijau, kacang hitam, kacang polong, bahkan mi instan pun bisa dibuat menjadi tempe,” jelasnya, saat menjadi narasumber Bincang-Bincang Wisma Hijau seri 75, Jumat (28/10).
Ia menyebut, tempe bisa dikenal dunia dengan segala keunggulan yang dimilikinya. Tempe makanan yang bergizi dan ramah lingkungan. Salah satu yang menurutnya masih menjadi tantangan yakni mengubah paradigma kurang benar yang selama ini telah melekat pada tempe.
“Tempe sebagai sumber protein, yang dibutuhkan masyarakat dunia. Masyarakat London butuh mengonsumsi protein, mereka butuh tempe,” kata Ando.
Ando merekomendasikan untuk mengenalkan tempe kepada dunia ada dua langkah yang bisa dilakukan. Pertama proteksi, kedua promosi. Proteksi dengan cara mendaftarkan tempe sebagai pangan warisan budaya tak benda ke UNESCO. Selanjutnya, menggentarkan promosi tempe dengan segala kandungan gizi yang tersembunyi pada tempe.
