Anggrek macan dengan 1.000 kuntum menjadi yang terbaik.
Lebih dari 1.000 kuntum anggrek Grammatophyllum speciosum itu menggelayuti 20 tangkai. Sosok anggrek begitu anggun sehingga mencuri hati para juri. Penampilan seronok itu yang mengantar koleksi Medi Pekpekai sebagai the best of show pada Papua Orchid Show 2016. Anggrek koleksi pehobi di Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua, itu memang menjadi bintang pada pesta anggrek di gelanggang olahraga Cenderawasih, Jayapura.

Bunganya yang mencapai ribuan kuntum bagai kupu-kupu kuning yang beterbangan di antara daun-daun mirip tebu. Selain lebat bunganya, sosok anggrek itu pun sangat besar. Ukuran tangkai bunga 80—125 cm dan batang atau umbi semu mencapai 150 cm. Untuk mengangkat anggrek itu perlu tenaga 5 orang dewasa. Koleksi pehobi di Sulawesi Selatan, Tampang, tampil sebagai The Best of Show kategori hibrida.
Kualitas bagus
Sebanyak lebih 100 tanaman anggrek beradu indah pada kontes di Jayapura pada 12—15 Mei 2016. Mereka berlomba pada kelas spesies dan hibrida, yakni dendrobium, phalaenopsis, oncidium, vanda, grammatophyllum, dan kelas lain. Sebagai gudang dendrobium, maka anggrek itulah yang paling ramai diikuti peserta, sehingga dibuka Section Latouria dan section Stachyobium.

Sebanyak 40 gerai antara lain dari Sumatera Utara, Jambi, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara juga memeriahkan lomba itu. Pesta anggrek nasional itu menarik masyarakat untuk berkunjung. “Anggrek itu kebanggaan perempuan Papua. Bahkan ada yang identik dengan perempuan Papua, berkulit hitam manis dan rambut keriting,” ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof Yohana Yembise MA, yang membuka pameran.
Penataan anggrek di gerai menjadi satu kesatuan yang sangat menarik. Itu menggambarkan habitat anggrek di Papua. Menurut pehobi di Kota Depok, Jawa Barat, Rudy Mintarno, penataan seperti itu belum pernah dilakukan di Indonesia. Wajar bila banyak pengunjung memujinya. Apalagi anggrek berbunga sangat lebat.

Contoh, dendrobium besi D. violaceo-flavens, D. lasianthera, D. macrophyllum, D. schulleri, dan D. spectabile yang sarat bunga. “Semuanya berbunga lebat dengan warna dan bentuk yang macam-macam,” kata Dr. Irawati, juri dari Bogor. Wajar bila para juri seperti Kessie Manuputti (ketua), Dr Irawati, Moling Simardjo, Sien Moling, Ramadani Yudha Prasetya, Destario Metusala, Emma Salossa, dan Joko Asaad sulit menentukan pemenang. Mereka akhirnya menentukan pemenang lewat sistem voting. Untuk penentuan the best of show, para juri memilih Grammatophyllum speciosum koleksi Medi Pekpekai yang bersaing dengan anggrek besi D. violaceo-flavens. Dendrobium besi itu juga tampil memukau dengan bunga yang banyak serta sehat. Namun, akhirnya mereka sepakat anggrek macan menjadi pemenang karena lebih showy. Anggrek dari Kabupaten Sarmi itu pun menyabet gelar yaitu Best of Show dan Best of Species.
Warna biru
Dua pekan sebelumnya, di Malang, Jawa Timur, juga berlangsung pesta anggrek. Menurut ketua panitia, Yani Rahmasari, kontes itu diikuti oleh 54 tanaman terdiri atas 16 hibrida dan 38 spesies. Peserta datang dari Malang, Mojokerto, dan Pasuruan. Juri yang menilai terdiri atas Prof Titis Adisarwanto, Prof Lita Sutopo, Sugeng Praptono, Suryanto, dan Dedek Setia Santoso. Penilaian meliputi susunan bunga, tingkat kerajinan, corak, kelangkaan bunga, dan kesehatan.

Para juri sepakat menobatkan Dendrobium lineale ‘blue’ milik Ashari sebagai “best of show” pada lomba yang diselenggarakan di Museum Brawijaya itu. Dedek menuturkan, lineale milik Ashari sangat unik sebab memiliki bunga berwarna biru. Lazimnya, warna bunga lineale itu putih. “Perbandingan kemunculan warna biru pada lineale sangat minim yakni 1:100,” ujar Dedek.

Lineale biru itu semakin mempesona sebab banjir bunga dan tersusun sangat rapi. Jumlah tangkainya pun banyak dan terlihat tegak menjulang. “Padahal tangkai yang berisi banyak bunga akan melengkung, tetapi lineale milik Ashari bisa tegak,” ujarnya. Ashari memperoleh lineale biru itu dari alam sekitar 1,5 tahun lalu. Ia tidak memberikan perlakuan khusus pada klangenannya itu.

“Lineale tergolong anggrek bandel dan gampang beradaptasi,” ujarnya. Kunci utamanya adalah meletakkan sang klangenan di tempat sesuai dengan habitat aslinya. “Lineale menyukai sinar matahari. Itu sebabnya saya meletakkannya di tempat bersinar matahari penuh tanpa naungan,” ujar Ashari. (Pearl Valerie Waromi, pehobi anggrek di Papua)
