Trubus.id-Di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Saifudin atau akrab disapa Said sukses membudidayakan anggur di rumah tanam berukuran 40 m × 35 m dengan populasi sekitar 300 tanaman. Sekali panen, kebun tersebut mampu menghasilkan hingga 700 kg anggur dengan frekuensi panen dua kali setahun, bergantung pada cuaca dan perawatan. Varietas yang ditanam di antaranya ninel, trans, everest, dixon, dan akademik.
Harga jual anggur dari kebun Said mencapai Rp85.000 per kg. Permintaan pasar terus meningkat, bahkan kini hasil panen lebih banyak habis di kebun karena pengunjung datang langsung untuk menikmati pengalaman memetik anggur. “Awalnya saya hanya ingin menanam, belum kepikiran agrowisata. Dulu pasarnya masih susah. Sekarang anggurnya malah tidak cukup. Justru hanya 20% yang bisa dijual keluar, sisanya habis di kebun sendiri,” ungkap Said.
Kesuksesan itu tidak ia raih sendiri. Said bersama 14 orang lainnya tergabung dalam Kelompok Tani Duyu Bangkit. Setiap anggota memiliki kebun anggur berukuran 30 m × 30 m dengan populasi tanaman bervariasi antara 70—200 per lokasi. Sebagian besar anggota menerapkan sistem semi-greenhouse. “Panen dilakukan dua minggu sekali secara bergiliran dari kebun milik anggota kelompok,” jelas Said yang juga menjabat sebagai ketua kelompok.
Selain menjual buah segar, Kelompok Tani Duyu Bangkit juga mengembangkan usaha bibit anggur. Ribuan bibit telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Omzet kelompok tani ini mampu menembus Rp20 juta—Rp85 juta per bulan, bergantung pada luas kebun dan jumlah produksi.
