Memadukan tiga teknologi sekaligus: budidaya lele, budidaya magot untuk pakan lele, sekaligus hidroponik sayuran memanfaatkan limbah. Omzet belasan juta rupiah per bulan.
Trubus — Seisi kelas menertawakan Puji Hatmoko ketika mengikuti kuliah Manajemen Farmasi di kampus Institut Teknologi Bandung. Dosen melontarkan pertanyaan sederhana, “Apa cita-cita kalian setelah lulus sebagai apoteker?” kata Puji menirukan ucapan dosen. Sebanyak 103 mahasiswa ingin bekerja di industri farmasi, rumah sakit, atau instansi pemerintahan. Hanya Puji yang bercita-cita menjadi peternak lele. Keruan saja teman-temannya mengira Puji melawak.

Padahal, pemuda 26 tahun itu serius. Sayang, kedua orang tuanya menolak mentah-mentah rencana itu. Namun, Puji tak surut langkah. Pemuda itu mantap pada pilihannya. Melihat kesungguhan dan kegigihan Puji, akhirnya orang tua merestui. Ia memanfaatkan lantai dua rumahnya di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, untuk membuat kolam. Di lantai yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian itu, Puji membuat dua kolam terpal berukuran 1,7 m pada akhir tahun 2016.
Akuaponik & magot
Puji menerapkan sistem bioflok yang mampu menampung 1.000 ekor lele dalam kolam berukuran 1 m³. Dua kolam itu menghasilkan 130 kg lele dalam satu siklus budidaya selama 3 bulan. Siklus panen itu tergolong lama sebab Puji menggunakan bibit lele berukuran 5—7 cm. Itulah sebabnya pada periode berikutnya ia memanfaatkan bibit belo dan sangkal. Belo berbobot 10 gram per ekor. Sekilogram belo berisi 100 ekor. Sangkal lebih besar, berbobot 16 gram per ekor atau sekilogram 60 ekor.

Strategi bibit itu dapat menghemat pakan lantaran masa panen lebih cepat. Dalam sebulan, ia panen dengan menyortir lele siap konsumsi. Panen sortir itu bisa berlangsung hingga tiga bulan. Puji mengatakan, kolam bioflok memakai central drain sehingga pembuangan limbah terpusat di bagian tengah. Puji tertarik akuaponik untuk menggabungkan akuakultur dan hidroponik. Keunggulannya, kotoran ikan dalam akuakultur menjadi nutrisi bagi tanaman hidroponik.
Puji membuat instalasi hidroponik rakit apung pada awal 2018. Di lokasi itu terdapat 20 kolam bundar dengan diameter 1,7 m. Sebulan setelah menerapkan akuakultur, Puji panen kangkung perdana sekitar 10 kg dari 1.000 lubang tanam. Hasil itu tergolong rendah lantaran masih uji coba. Para tetangga membelinya Rp8.000 per 250 gram. Konsumen bersedia membayar harga itu lantaran produknya terjamin organik. Dosen semasa kuliah juga melanggani sayur organik Puji.

Menurut Puji pengeluaran terbesar terserap untuk pakan lele. Saat itu harganya Rp270.000 per 30 kg dengan kandungan protein 30%. Ia tergiur budidaya magot atau larva lalat tentara hitam Hermetia illucens sebagai campuran pakan. Lele juga menyukai campuran magot segar, tepung jagung, dan bekatul. Komposisinya 40% magot, 20% tepung jagung, dan 40% bekatul. Ia mencampur ketiganya, menghaluskan, dan mencetaknya menjadi pelet.
“Sewaktu kuliah, saya belajar cetak tablet dan sekarang cetak pelet. Prinsip keduanya tak berbeda jauh,” kata Puji. Pakan magot mampu memangkas biaya produksi hingga sepertiga. Pada pertengahan 2019, harga pelet pabrikan dengan protein 30% di Bandung Rp310.000—Rp315.000. Pada tahun ketiga, Puj memiliki total 25 kolam. Dalam tiga bulan, panen lele mencapai 50—80 kg. Puji menjualnya Rp35.000 per kg, sehingga omzetnya Rp15 juta—Rp20 juta setiap bulan.
Pada akhir 2018, ia juga menjalin kerja sama dengan salah satu pesantren di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, untuk mengelola 2 kolam. Instalasi hidroponik juga bertambah yakni menjadi 2.000 pot di Ciparay dan 1.000 pot di Rancaekek. Puj juga melayani jasa pembuatan dan instalasi hidroponik dan kolam lele. Puji memberdayakan warga sekitar untuk produksinya. Khusus budidaya magot, terdapat 4 kandang berukuran 1 m x 1m x 1,5 m di Ciparay.
Rencananya Puji akan membeli mesin pelet pada akhir 2019 agar dapat memproduksi pelet campuran sendiri. Dengan demikian KangPuj Farm mengurai sampah organik lebih banyak. Selain aspek lingkungan, Puji ingin mengembangkan aspek sosial dengan memperbanyak kerja sama dengan pesantren di Kabupaten Bandung dan Kota Bandung. Ia ingin memberdayakan para santri agar dapat memenuhi kebutuhan protein hewani dari ikan. (Sinta Herian Pawestri)
