Monday, January 26, 2026

Aral Sepanjang Tanam Ara

Rekomendasi
- Advertisement -
Karat daun musuh tin yang dibudidayakan tanpa naungan.
Karat daun musuh tin yang dibudidayakan tanpa naungan.

Ancaman rugi di balik keuntungan tinggi mengebunkan tin.

Harapan Hadi Prayitno memetik laba dari hasil berkebun tin sirna sudah. Puluhan bibit berbagai jenis tin yang ia datangkan dari berbagai daerah pada 2013 akhirnya mati. Awalnya satu per satu daun-daun tin di kebunnya di Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP), Jakarta Timur, berwarna kuning, rontok, dan akhirnya tanaman mati. “Sebanyak 50% tanaman mati,” tutur Hadi.

Kejadian itu tak membuat Hadi patah semangat. Ia kembali membeli puluhan bibit asal setek. Namun, tragedi itu kembali terjadi. Dari seluruh bibit baru yang dibeli yang bertahan hidup hanya 20—30%. “Kalau dihitung-hitung total nilai tanaman yang mati lebih dari Rp20-juta,” ujar pria 23 tahun itu. Beruntung Hadi sudah rutin menjual bibit. “Jadi saya tidak rugi karena tertutupi dari penjualan bibit yang ada,” ungkapnya.

Penyakit busuk akar musuh tin pada musim hujan.
Penyakit busuk akar musuh tin pada musim hujan.

Akar busuk
Hadi lalu membongkar media tanam. Rupanya penyebab Ficus carica meregang nyawa adalah akar yang membusuk akibat serangan cendawan. Menurut Hadi perakaran tin membusuk karena kesalahannya menempatkan bibit di tempat terbuka. Sebelumnya tempat Hadi meletakkan bibit tin itu adalah lapak anggrek yang diberi jaring peneduh dengan fasilitas rak besi untuk menata tanaman.

Namun, saat hendak mulai membudidayakan tin, ia malah membongkar jaring peneduh dan rak sehingga lahan itu menjadi terbuka. Akibatnya saat penghujan, hujan selalu mengguyur tanaman pada pagi atau sore. Kondisi itu menyebabkan kadar air pada media tanam berlebih sehingga menjadi tempat subur untuk berkembangnya cendawan penyebab penyakit. “Kondisi tempat yang belum siap dan kurangnya pengetahuan menyebabkan para pekebun tin pemula mengalami kerugian,” kata Hadi.

Menurut Hadi kebun tin tanpa greenhouse menemui cukup banyak kendala. Apalagi jika pekebun menghindari pemakaian pestisida. Karat daun sudah pasti menyambangi. Pada saat musim hujan busuk akar menjadi ancaman. Selain itu tanaman rentan serangan belalang. Serangga itu menggerogoti daun dan sulit diatasi.

Terlalu banyak cangkokan dalam satu cabang jadi bumerang karena berisiko pohon mati.
Terlalu banyak cangkokan dalam satu cabang jadi bumerang karena berisiko pohon mati.

Pekebun tin di Yogyakarta, Khulub Satria Hadi, juga menghadapi masalah serupa, yakni serangan busuk akar. Puluhan bibit asal cangkok mati akibat media tanam kelebihan air. Ia memperkirakan total kerugian mencapai Rp60-juta. Ancaman penggerek batang juga tak kalah menakutkan. Serangan hama berupa kumbang berantena panjang itu mematikan 8 pohon indukan koleksi Khulub hanya dalam semalam.

Bibit palsu
Khulub menduga kumbang itu bertelur di pangkal batang tin yang tertutup media tanam sehingga tidak ketahuan. “Tahu-tahu daun layu dan tanaman akhirnya mati,” ujar pemilik Loeb Ficus itu. Ia baru mengetahui penyebab kematian itu setelah menggali media tanam. Hama itu mengupas, mengoyak, dan menghabiskan kulit batang. “Pada 2013 sebanyak 30 indukan tin mati akibat serangan kumbang itu,” tuturnya.

Aral tak hanya datang dalam hal budidaya. Sumber bibit tin juga mesti diperoleh dari sumber terpercaya. Kerugian akibat pembelian bibit palsu pernah dialami Hadi. Pemuda itu membeli varietas red palestine dari salah seorang penangkar. Namun, yang diterima malah varietas noire de caromb (NDC) yang harganya jauh lebih murah. “Setelah kejadian itu saya tidak mau lagi membeli bibit selain dari nurseri yang terpercaya,” tutur pemilik 40 varietas tin yang kini fokus mengembangkan jenis blue giant itu.

Ujung buah pecah kendala berkebun tin.
Ujung buah pecah kendala berkebun tin.

Pekebun juga mesti berhati-hati jika hendak mengimpor bibit tin jenis baru. Ismanto, pekebun tin di Semarang, Jawa Tengah, menyarankan sebaiknya hindari menanam langsung bibit hasil setek. Ia menuturkan rekannya di Jawa Barat dan Jawa Timur kerap mengalami kerugian karena ujung setekan yang datang kering akibat lamanya perjalanan dari Benua Eropa atau Amerika. Jika setekan itu ditanam tidak akan tumbuh akar.

Padahal, jenis yang mereka impor tergolong istimewa sehingga berharga mahal, yakni berkisar Rp500.000—Rp2.000.000 per bibit. Untuk mencegah kerugian, Ismanto menyarankan mata tunas pada setekan bibit impor yang masih segar segera diokulasi pada batang bawah. Cara itu terbukti mampu menyelamatkan para importir dari kerugian.

Awas maling
Selain hambatan budidaya, penyakit, atau bibit palsu, tin juga tak luput dari ancaman maling. Pekebun di Surabaya, Jawa Timur, Sulistyo Wahono, pernah mengalami peristiwa buruk itu pada 3—4 tahun silam. Sebanyak 200 tanaman tin yang ia pelihara di kebun miliknya di Kediri, Jawa Timur, raib dijarah maling. Jenisnya bermacam-macam, seperti green jordan, purple jordan, noire de caromb (NDC), panache, black ischia, brown turkey, borjosotte, sultan, abicou, dan tenna.

Musuh paling berbahaya, maling pohon. Siapkan pengaman yang kokoh.
Musuh paling berbahaya, maling pohon. Siapkan pengaman yang kokoh.

“Sebagian merupakan indukan. Kerugian mencapai ratusan juta rupiah,” ungkap salah satu pelopor tin di Jawa Timur itu. Sebetulnya Sulistyo sudah memagari kebun seluas 1.000 m2 itu dan menggembok pintu. “Tapi tetap saja mereka bisa masuk dengan melompati pagar,” ujarnya. Untunglah tragedi itu tak membuat semangatnya memelihara tin meredup. Ia kembali mengumpulkan koleksi tanaman kerabat beringin itu dan menempatkannya di lahan yang ia sewa di dekat rumah. Sebagian koleksinya juga ia tempatkan di halaman dan lantai atas rumah.

Terlalu bersemangat memperbanyak tin juga dapat berujung duka. Contohnya dialami Wayan Sudiasa, pekebun tin di Mojokerto, Jawa Timur. Lantaran tergiur keuntungan dari hasil penjulan bibit tin, ia mencangkok tin koleksinya hingga terlalu rapat. Jarak antarcangkokan pada satu cabang hanya 10 cm. Alih-alih meraup untung dari penjualan bibit hasil cangkok, ia malah merugi karena tanaman induk mati. (Syah Angkasa)

 

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img