Masyarakat menyukai mangga asal Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, karena cita rasanya yang sangat manis. Salah satu varietas yang mencuri perhatian adalah mangga gadung 21, yang bahkan diminati konsumen mancanegara.
Hal itu dirasakan Sugiono, pekebun mangga asal Dusun Beran, Desa Oro-Oro Ombo Wetan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Melalui pemasaran daring di media sosial, Sugiono menerima pesanan mangga gadung 21 dari berbagai negara, seperti Singapura, Hongkong, hingga Australia.
Meski dibanderol dengan harga relatif tinggi, yakni sekitar Rp40.000 per kilogram, permintaan tetap mengalir. Konsumen luar negeri rela membayar lebih mahal karena kualitas buah yang ditawarkan. Bahkan, ongkos pengiriman pun sepenuhnya ditanggung oleh pemesan.
Untuk menjaga mutu selama pengiriman, Sugiono mengemas mangga pesanan dalam kardus yang disekat-sekat. Setiap buah ditempeli stiker bertuliskan Wonokerto Klonal 21 sebagai penanda varietas dan asal produksi.
Setelah proses pengemasan selesai, mangga gadung 21 siap dikirim ke berbagai negara tujuan.
Menurut Sugiono, daya tarik utama mangga gadung 21 terletak pada rasa manisnya yang kuat, aroma khas yang tajam, serta tekstur daging buah yang sangat lembut.
“Tekstur daging buahnya lembut sekali. Untuk menyantapnya cukup dipotong, diputar, lalu disendok,” ujarnya.
Cara menyantap tersebut menyerupai cara menikmati alpukat. Karena itulah, mangga gadung 21 kerap dijuluki sebagai “mangga alpukat” oleh para penikmatnya. Keunikan tekstur dan rasa itu menjadi nilai tambah yang membuat mangga asal Pasuruan mampu bersaing di pasar internasional.
Keberhasilan Sugiono menembus pasar ekspor menunjukkan bahwa komoditas hortikultura lokal memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik, terutama melalui pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran. Mangga gadung 21 tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan pekebun di sentra produksi.
