Tuesday, January 27, 2026

Aren Mesin Uang

Rekomendasi
- Advertisement -

Itu ungkapan Ili Rustandi, pekebun di Desa Pangereunan, Kecamatan Baluburlimbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.  Maksud Rustandi dengan pohon aren, ia bisa memperoleh uang setiap saat. Lihat saja Rustandi yang memiliki 40 pohon aren produktif setinggi rata-rata 10 meter menuai rata-rata 1.200 liter nira setiap hari. Produksi sebuah pohon mencapai 30 liter dari dua kali pengambilan nira setiap hari, yakni pada pukul 06.00 dan 16.00.

Menurut Rustandi, produksi nira lebih tinggi lagi, yakni di atas 40 liter per pohon setiap hari, jika kondisi pohon jenah. Dalam istilah setempat, jenah berarti pohon yang baru saja berproduksi atau produksi pada dua tahun pertama ketika aren berumur 8-10 tahun. Lawan jenah adalah kolesed atau pohon yang telah lama panen, sehingga produksinya lebih rendah,  berkisar 20-30 liter per pohon setiap hari.

Omzet fantastik

Rustandi mengolah sendiri nira itu menjadi gula aren. Seliter nira menghasilkan 3 buah gandu alias keping gula berbentuk bulat hasil cetakan dengan bambu. Artinya dari satu pohon aren ia mampu menghasilkan 10 gandu yang  ia kemas dalam sebuah bungkusan. Saat ini harga sebungkus gula aren-terdiri atas 10 keping-di tingkat produsen mencapai Rp7.000-Rp8.000. Dengan begitu omzet Rustandi dari 40 pohon aren minimal Rp2.800.000 per hari.

Sebulan? Rustandi juga menyadap dan mengolah nira pada Sabtu dan Ahad sehingga sebulan 30 hari kerja. Dengan begitu maka omzet Rustandi Rp84.000.000 sebulan. Warga lain di desa itu pada umumnya memiliki pohon aren yang juga tumbuh di pekarangan di sekitar rumah. Tidak heran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,  mereka menyandarkan diri pada aren. “Aren bisa berproduksi terus selama 11 bulan dalam setahun,” ujar Rustandi.

Pangereunan yang berjarak 30-40 km dari jalan raya Limbangan-Garut merupakan sentra aren. Sayang, hingga kini populasi Arenga pinnata di desa itu belum terdata. Menurut Rustandi, budidaya aren di Pangereunan berlangsung  turun-temurun. “Cerita kakek saya pun menyebut pada zamannya sudah ada pembuatan gula aren,” kata Rustandi. Aren di Pangereunan bukanlah hasil budidaya, melainkan persebaran alami oleh musang Paradoxurus hermaphroditus. Itulah sebabnya populasi aren tidak berkumpul di satu lokasi. Aren tumbuh bergerombol sebanyak 2-4 pohon.

Menurut Dhanny Rhismayaddi dari Dewan Pemerhati Kehutan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), Bandung, Jawa Barat, lokasi tumbuhnya aren biasanya merupakan tempat berkumpulnya satwa anggota famili Viveridae itu. Dengan demikian sistem kepemilikan pohon bersifat akonan atau tempat tumbuh aren menjadi hak pemilik tanah. Kehadiran pohon anggota famili Arecaceae itu mendongkrak harga jual tanah.

Rustandi pernah membeli tanah 20 bata setara 4.000 m2 yang terdapat 4 pohon aren seharga Rp500.000 pada 1987. Padahal, harga normal hanya Rp350.000-Rp400.000. Namun seiring dengan makin menyusutnya populasi musang, maka pohon-pohon aren di Pangereunan pun hanya menyisakan tegakan dari masa lampau yang kini rata-rata berumur 20-25 tahun. Itulah sebabnya Dhanny Rhismayaddi berencana membagikan bibit gratis agar kelangsungan produksi aren di Pangereunan tetap terjaga.

Warga setempat menyadap mayang aren dan mengolahnya menjadi gula. “Produksi gula aren dari Pangereunan sudah merambah ke Bandung, Jakarta, bahkan menyeberang hingga Sumatera,” tutur Rustandi. Biasanya pengepul datang ke Pangereunan membeli gula merah yang murni tanpa campuran apa pun. Tidak heran karena berkualitas tinggi, para pengepul rela datang ke Pangereunan.

Padahal, jalan menuju desa itu sangat rusak. Jalan berlapis aspal hanya sepanjang 1 km,  selebihnya jalan tanah yang rusak. Apalagi  jika hujan turun, kondisi jalan makin becek.  Itu tak menyurutkan pengepul untuk mengambil gula aren.

Jasa sadap

Hanya pemilik pohon yang menikmati rezeki aren? Warga sentra yang tak punya pohon aren tetap kebagian jatah. Mereka menjual jasa sebagai penyadap dengan sistem nengah atau bagi hasil. Pemilik pohon memperoleh jatah satu hari, sedangkan penyedia jasa sadap dua hari. Artinya 2 hari hasil gula merah untuk penyadap dan 1 hari bagi pemilik pohon. Dalam hal itu, penyadaplah yang mengolah nira menjadi gula. Namun, jika pembagian dalam bentuk nira segar, maka persentasenya 1 : 1. Masing-masing satu hari bagi penyadap dan pemilik pohon.

Tetesan rezeki itulah yang membuat warga Pangereunan menjuluki aren bak simpanan berharga. Tengok saja saat ini harga 1 bungkus gula merah mencapai Rp8.000, sedangkan harga nira segar Rp4.000 per 600 ml. Menurut Dhanny, potensi aren amat besar karena masa produksi panjang, yakni lebih dari 40 tahun. Pekebun dapat menumpangsarikan dengan tanaman perkebunan lain dengan daur hidup lebih pendek seperti sengon dan jabon.

Atau alterntif lain seperti gaharu seperti langkah Mahmuddin Sany di  Ampenan, Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian, laba pekebun di Pangereunan kian berlipat-lipat. Dalam bahasa Sunda pangeureunan berarti tempat pemberhentian. Namun, rezeki aren di desa itu seakan tak pernah berhenti selama nira masih menetes. (Faiz Yajri)

 

 

01Nira aren laku dijual sebagai lahang atau minuman

02Gula aren Pangereunan dipasarkan hingga Sumatera

03Dari setiap pohon pekebun memanen 30 liter nira per hari

04Proses pencetakan gula aren menggunakan media bambu

05Tempat penampungan hasil sadapan nira berbahan baku bambu

06Tegakan aren di sela-sela pohon bambu di Pangereunan

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img