Friday, August 12, 2022

Asa di Bukit Gumesa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Karisma dipanen lebih cepat 2 minggu dibanding kapas lokal dengan produktivitas mencapai 3 ton/haWayan Suarjana, Ir Baharuddin, dan Lilik Harsanti, karisma menjadi tumpuan baru pekebun kapas di NTBWayan Suarjana bagai sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau pun terlampaui. Pekebun di Desa Giritembesi, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, itu semula menanam kapas lokal. Pekebun berusia 35 tahun itu menghadapi beragam masalah, produktivitas rendah, hanya 1,2 ton per ha, panen lama (145—150 hari), dan rentan serangan hama.

Namun, sejak menanam varietas karisma pada 2009, semua masalah itu hilang. Karisma memang memiliki banyak keunggulan. Menurut peneliti di Badan Tenaga Nuklir Nasional yang melahirkan varietas itu, Lilik Harsanti, karisma bersifat gejah alias cepat panen. Pekebun menuai karisma saat berumur 110—120 hari. Sudah begitu, penampilan karisma terbilang “ramping” sehingga pekebun dapat menanam rapat, 100 cm x 10 cm. Itulah sebabnya populasi pun menjulang, hingga 80.000—100.000 tanaman per ha. Tingginya populasi sejalan dengan peningkatan produksi, yakni minimal 3 ton sehektar.

Sebetulnya per satuan tanaman, produktivitas karisma lebih rendah daripada jenis lokal. Kapas jenis lokal mampu menghasilkan 12—25 buah; sedangkan produksi karisma, 5—6 buah per tanaman. Namun, pekebun mampu menanam karisma rapat, hingga 100.000 tanaman; kapas lokal, hanya 30.000 tanaman per hektar. Penanaman rapat menyebabkan karisma menghasilkan buah lebih banyak, 12—15 buah karena terjadi persilangan.

Istimewa

Membicarakan kebaikan karisma memang seperti tak kunjung sudah. Buah kapas baru itu saat matang merekah sempurna. Itu memudahkan pekebun untuk panen karena lebih mudah melepaskan dari kulit buah. Karisma yang memiliki bol alias bentuk buah lebih bulat itu juga berserat sangat putih. Oleh karena itu pekebun tidak perlu memberi perlakuan khusus untuk memutihkan. Kandungan serat karisma mencapai 1.147 ton per ha.

Kualitas serat karisma pun prima sebagaimana hasil pengujian tim periset di Balai Besar Tekstil Bandung, Jawa Barat. Elastisitas serat karisma mencapai 10,1%, panjang serat 2,56 mm, serta kekuatan serat 27,65 g per tex. Adapun kehalusan serat 4,85 mikron dan keseragaman serat 84,5%. Elastisitas serat mencerminkan kemampuan serat untuk kembali ke panjang awal setelah penarikan. Bandingkan dengan elastisitas kapas lokal yang hanya 6%.

Karisma terbukti mempunyai seabrek keistimewaan daripada pendahulunya. Pantas jika banyak pekebun seperti Wayan Suarjana jatuh hati pada varietas baru yang dirilis pada 2008 itu. Pada awal Agustus 2011, deretan pohon kapas Gossypium hirsutum setinggi 1,5 m di lahan Wayan tengah bermekaran. Ketua Kelompok Tani Dharmayasa itu membudidayakan kapas di Gumesa seluas 2.500 m2 berketinggian 400 meter di atas permukaan laut. Total populasi 20.000 tanaman.

Ia sebetulnya berhasrat mengebunkan karisma lebih luas. Namun, hingga saat ini benih masih terbatas. Tak heran Balai Perbenihan Tanaman Perkebunan, Nusa Tenggara Barat mencoba memperbanyak karisma. Sebanyak 3,5 kg nuclear seed yang ditanam di kebun Wayan diharapkan mampu menghasilkan 200—250 kg benih yang selanjutnya ditangkarkan kembali menjadi 25 ton benih sebar pada 2012. Benih-benih itu rencananya disebar ke seantero Nusa Tenggara Barat.

Masalah benih

Selama ini, ketersediaan benih memang menghambat pengembangan kapas. Akibatnya para pekebun membudidayakan kapas lokal yang berproduktivitas rendah. “Benih lokal harganya murah, Rp37.500 per kg, tetapi produksinya rendah hanya 1,2 ton per ha,” tutur Kepala Balai Perbenihan Tanaman Perkebunan, Nusa Tenggara Barat, Ir Baharuddin. Untuk menyiasatinya, pemerintah pernah mengimpor benih berproduktivitas tinggi, mencapai 3 ton per ha. Namun, harga benih dari India itu mencapai Rp250.000 per kg.

“Jika satu ha butuh 5 kg benih, maka petani sudah menanggung biaya Rp1,25-juta,” kata Baharuddin. Padahal, selama ini pekebun kebanyakan membudidayakan kapas di lahan kering tadah hujan. “Jika hasilnya di bawah 2 ton per ha, lebih menguntungkan menanam kacanghijau atau jagung,” kata Wayan. Menurut Ir Baharuddin, menanam kapas menguntungkan jika produksinya minimal 2 ton per ha.

Di tengah persoalan itu, tak ayal kehadiran karisma menjadi harapan. Karisma merupakan varietas unggul hasil riset Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Menurut Lilik Harsanti, karisma hasil penyinaran sinar gamma dengan dosis 20 gray terhadap varietas NIAB-999 dari Pakistan. Lilik memilih varietas NIAB-999 sebagai “induk” karena produktivitas tinggi, rata-rata 3 ton per ha, relatif tahan penyakit, dan toleran panas.

Kelemahan NIAB-999 berumur panen lama 145—150 hari, seperti kapas lokal. Oleh karena itu Lilik memperbaikinya dengan radiasi. Dampak penyinaran itu mengubah susunan gen sehingga menghasilkan mutasi yang bersifat menguntungkan.

Menurut Dr Hudi Hastowo, kepala BATAN, kehadiran karisma di Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu pemanfaatan energi nuklir untuk pemberdayaan masyarakat terutama dalam bidang pertanian. “Kehadiran karisma semoga mampu mendorong produksi kapas terutama di Nusa Tenggara Barat,” tutur Hudi. Sebab, pasar kapas dalam negeri terbentang lebar. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pada 2010 kebutuhan kapas nasional mencapai 550.000 ton per tahun. Sementara produksi nasional tidak lebih dari 23.000 ton (5%). (Faiz Yajri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img