Adi Prayitno kini tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk menyewa tenaga kerja yang menyirami 137 pohon kakao miliknya saat musim kemarau. Pekebun asal Dusun Nglampar, Desa Wiladek, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), itu cukup menyalakan pompa sumur yang terhubung ke jaringan pipa menuju setiap pohon kakao.
Air dialirkan langsung ke area perakaran tanaman melalui sistem irigasi tetes. Menurut Adi, pohon kakao dewasa cukup disiram selama 5 jam per hari, sedangkan tanaman muda hanya memerlukan sekitar 2 jam per hari.
“Untuk pohon yang masih muda, air cukup menyala 2 jam per hari,” ujar pria berusia 60 tahun itu.
Menurut Adi, penerapan irigasi tetes memang membutuhkan investasi awal yang lebih besar untuk membeli pompa dan instalasi pipa. Namun, biaya tersebut terbayar karena kebutuhan tenaga kerja untuk penyiraman dapat ditekan secara signifikan.

Foto: Dok. Adi Prayitno
Sebelum menggunakan sistem yang lebih modern, Adi sebenarnya telah menerapkan irigasi tetes sederhana. Ia memanfaatkan botol air mineral bekas berkapasitas 1,5 liter yang dilubangi menggunakan jarum sehingga air menetes perlahan ke area akar tanaman.
Namun cara tersebut dinilai kurang praktis karena botol harus sering diisi ulang. Adi kemudian beralih menggunakan galon bekas berkapasitas 15 liter agar interval pengisian air lebih lama. Meski demikian, ia tetap harus datang ke kebun untuk mengisi ulang wadah tersebut.
Akhirnya, ia memutuskan memasang sistem irigasi tetes permanen yang terhubung langsung dengan sumber air. Hasilnya cukup menggembirakan. Tanaman kakao yang baru berumur sekitar satu tahun sudah mulai menunjukkan fase generatif.
“Sekitar 75 persen tanaman sudah mulai berbunga,” kata Adi.
Ke depan, ia berencana menambah tangki penampung air berkapasitas 2.500 liter yang terhubung dengan sumur. Selain itu, ia juga akan memasang tangki 500 liter khusus untuk larutan pupuk sehingga proses penyiraman dan pemupukan dapat dilakukan lebih praktis melalui jaringan pipa yang sama.
Dengan sistem tersebut, pekerjaan pemeliharaan kebun menjadi jauh lebih ringan. Adi hanya perlu memantau kondisi instalasi dan memastikan tidak ada penyumbatan pada pipa. Hal itu penting karena air sumur di wilayah Gunungkidul memiliki kandungan kapur yang cukup tinggi sehingga berpotensi menyumbat saluran irigasi.
Menurut dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Teknologi Pangan, Pertanian, dan Perikanan Universitas Nusa Nipa, Maumere, Dr. Hendrikus Darwin Beja, S.P., M.Si., produktivitas kakao sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air meskipun tanaman tersebut tergolong cukup tahan terhadap kondisi kering.
Ketersediaan air yang memadai selama masa pertumbuhan berperan penting dalam mendukung perkembangan vegetatif maupun generatif tanaman. Dengan kondisi air yang cukup, tanaman mampu menghasilkan buah dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik.
Karena itu, penerapan irigasi tetes menjadi salah satu solusi yang efektif untuk menjaga pasokan air di sekitar perakaran tanaman kakao, terutama saat musim kemarau.
