Thursday, August 18, 2022

Atasi Masalah Budikdamber

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Kangkung salah satu jenis sayuran untuk budikdamber. (Dok. Trubus)

Arang dan garam kasar andalan pelaku budikdamber mengatasi kendala.

Trubus — Sejak memelihara lele dan kangkung dalam ember 70 liter, Putu Noviyanti, S.Si. mempunyai rutinitas baru. Minimal tiga kali sehari—pukul 09.00, 15.00, dan 21.00—ia duduk “menonton” ember itu. Waktu-waktu itu adalah saat pemberian pakan. Ia menaburkan pelet sedikit-sedikit sambil mengamati perilaku lele. Setelah ikan tidak lagi antusias menyambar pakan, ia menghentikan pemberian.

Putu (26) mengamati beberapa saat dan mendapati 30 benih lele ukuran 6 cm mati. Ia menyimpulkan kualitas air pemicunya. Ia menggunakan air tanah yang diendapkan dua hari tiga malam. Menurut Putu selama pengendapan itu gas-gas dalam air yang berpotensi meracuni ikan juga lepas ke udara. Idealnya, “Pengendapan sampai air menjadi hijau atau muncul jentik nyamuk,” kata alumnus Jurusan Kimia Universitas Udayana itu. Menurut Putu untuk mempercepat munculnya lumut dengan membiarkan air terkena sinar matahari atau menambahkan larutan probiotik.

Garam kasar

Penyebab lain kematian adalah cendawan Saprolegnia sp. Lele di unit budikdamber tidak luput dari parasit itu. Semula muncul luka lalu tumbuh benang putih di sekitarnya “Awalnya lele lemah lalu luka akibat serangan lele lain yang terjangkit,” kata anak pertama dari dua bersaudara itu. Sifat kanibal menjadikan lele sering menyerang ikan yang lebih lemah Ia mengatasinya dengan menyortir 2—4 pekan sekali. Putu memisahkan ikan yang pertumbuhannya lambat dari yang besar lalu ditempatkan di ember terpisah.

Sifat kanibal membuat lele yang lemah terluka dan rentan penyakit.

Ikan yang luka ditempatkan di ember terpisah. Ia lalu memberikan garam kasar secukupnya ke dalam air. “Cukup 1—3 jimpit garam untuk air dalam ember budikdamber,” katanya. Garam itu mencegah cendawan berkembang. Setelah kembali merespons pemberian pakan, ia mengembalikan ikan ke ember yang berisi ikan berukuran sama. Kendala lain, lele kerap naik ke permukaan, kondisi yang lazim disebut “menggantung”. Pemicunya beragam, seperti bibit lemah, serangan penyakit, atau kualitas air yang tidak cocok untuk lele akibat penumpukan amonia maupun sisa kotoran atau pakan.

Mahasiswa pasacasarjana Universitas Udayana itu memperbaiki kualitas air dengan memberikan satu tutup botol larutan probiotik. Hasilnya terlihat sehari kemudian. Selama itu ia menghentikan pemberian pakan. Ikan berpuasa. Kalau air menjadi penyebab ikan menggantung, hari berikutnya ikan pulih. Kalau tidak, berarti ikan itu lemah atau luka. Oleh karena itu, ia segera memisahkannya.

Ia mengganti air setiap dua pekan. Caranya dengan memasukkan salah satu ujung selang sampai dasar ember lalu membiarkan air keluar dari ujung lainnya—lazim disebut menyipon. Penyiponan memastikan kotoran yang mengendap di dasar ember terbuang. Namun, Putu kadang-kadang menyipon darurat kalau tiba-tiba air berbau menyengat. “Itu menandakan ada mikrob patogen yang berkembang cepat.

Baca juga : Mereka Tersandung Berbudikdamber

Penyiponan menjadi cara memasukkan air baru tanpa memicu stres ikan,” katanya. Variabel lain yang menjadi perhatian adalah pakan. Pakan yang mestinya memberikan tenaga bisa mendatangkan masalah. Pelaku budikdamber di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Fajar Yulianto, menyatakan ketersediaan ukuran pelet di kios kadang tidak sesuai dengan ukuran ikan. “Kalau butiran pelet lebih besar daripada mulut, ikan tidak bisa makan,” katanya.

Pelet memang akhirnya melunak, tapi proses itu perlu waktu sementara ikan telanjur lapar. Kondisi itu memicu ikan agresif dan menyerang satu sama lain. Karyawan perusahaan swasta itu membibis alias membasahi pelet sebelum memberikannya kepada ikan. Ia membuat larutan khusus untuk membibis yang berisi 0,25—0,5 kg gula merah dan dua sendok makan vetsin per liter. Larutan pembibis itu untuk merendam pelet setiap kali pemberian pakan.

Pembenihan terpisah

Sayuran budikdamber paling umum adalah kangkung yang mudah tumbuh dan relatif cepat panen. Namun pertumbuhan kangkung pun tidak optimal kalau lingkungan tumbuhnya tidak sesuai. Kendala paling sering adalah tangkai daun mengelancir dan daun menguning—kondisi yang kerap disebut kurus, tinggi, langsing. Menurut Putu teknik

Rendam pelet dengan air gula untuk melunakkan tekstur pakan.

budidaya kangkung di lahan dengan cara tanam benih langsung tidak cocok untuk budikdamber.

Putu memanennya pada umur 25 hari. Padahal, kangkung di tanah panen umur 21 hari. Ia mengakali dengan membibitkan benih kangkung sebelum menanam di gelas budikdamber.

Ia menyiapkan pembenihan khusus dengan kertas tisu basah. Setelah berkecambah, barulah ia memindahkan ke gelas tanam berisi media arang kayu lalu memasang gelas tanam itu di bibir ember budikdamber. Dengan cara itu, kangkung tumbuh lebih cepat, segar, rimbun, dan siap panen umur 23 hari. Penggagas budikdamber di Kota Bandarlampung, Juli Nursandi, S.Pi., M.Si. merekomendasikan media tanam arang, kain, dan tanah (AKT).

Arang menyerap racun dan mengalirkan air ke akar, tanah untuk “pegangan” akar, sedangkan kain mencegah tanah masuk ke air. Menurut Juli media itu optimal mendukung pertumbuhan sayuran daun dalam budikdamber. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img