Sunday, January 25, 2026

Atasi Penyakit Sistemik Tanaman Jeruk di Lahan Pasang Surut, BRIN Berinovasi Lakukan Pengelolaan Terpadu

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Serangan penyakit sistemik pada tanaman jeruk berpotensi membuat pekebun merugi. Sehingga memerlukan sitem pengendalian presisi yang tepat. Penyebab penyakit sistemik itu bisa berasal dari virus, cendawan, dan bakteri.

Peneliti Ahli Madya, Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRH ORPP BRIN), Anang Triwiratno,  menjelaskan bahwa  penyakit jeruk oleh  virus itu seperti CVPD, CTV, CVEV, CPsV, dan CEV.

Kelompok penyakit karena cendawan seperti penyakit busuk batang diplodia, blendok, busuk akar, dan pangkal batang, jamur upas, embun tepung, kudis, antraknosa, alternaria, kanker, jelaga, serta ganggang. Sedangkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri seperti kanker jeruk. 

Anang memaparkan bahwa upaya pengendalian secara presisi itu melalui Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat plus (PTKJSPLUS). Ia menuturkan bahwa strategi tersebut meliputi sembilan komponen teknologi.

“Penerapan secara holistik dan sedapat mungkin bisa dilakukan bersama-sama apabila sudah ditemukan,” ujarnya.

Strategi pengendalian itu meliputi penggunaan bibit jeruk berlabel bebas penyakit HLB yang sudah dibersihkan melalui shoot tip grafting secara in vitro atau somatik embryogenesis,  sertifikasi dan karantina untuk mencegah masuknya penyakit virus baru yang berbahaya ke wilayah pengembangan yang masih belum terkontaminasi.

Kemudian deteksi yang cepat dan sensitif untuk mengatasi gejala yang sulit dibedakan atau symptomless sehingga pembongkaran tanaman terinfeksi cepat dapat dilakukan, dan serangga penular HLB (D. citri) dikendalikan secara cermat. 

Anang menuturkan hal lain yang mesti dilakukan yakni pengendalian secara presisi seperti sanitasi kebun secara konsisten. Ia menganjurkan sanitasi—pangkas berat bagian tanaman sakit, menjaga kebersihan tanaman dan lingkungan kebun, serta eradikasi atau bongkar tanaman terinfeksi penyakit parah.

Selain itu, perlu emeliharaan secara optimal, varietas batang bawah dan batang atas toleran terhadap penyakit HLB (McCollum et al., 2016), dan terapi (perlakuan tanaman terinfeksi pada suhu 40—42°C selama 3—4 hari dan jka berulang berpotensi mematikan patogen dan memperbaiki pertumbahan tanaman terinfeksi

“Teknik ini dapat dilakukan di daerah yang tidak ada vektor dan tanaman masih mempunyai potensi berproduksi dengan baik. Yang paling akhir adalah pembinaan kelembagaannya. Dengan demikian, teknologi pengelolaan kebun dalam suatu wilayah target pengembangannya diterapkan secara terkoordinasi,” ujar Anang dilansir pada laman BRIN.

Anang menjelaskan bahwa PRH BRIN bekerja sama dengan Pondok Pesantren Trubus Iman Paser Kaltim untuk menerapkan pengendalian presisi dalam satu Kawasan. Ia menuturkan penerapan pengendalian presisi itu melalui demplot penerapan inovasi, penyedian benih jeruk yang sesuai, inovasi benih dengan populasi cangkok, penyedian bahan organik, pembinaan kelembagaan, pelatihan, dan pendampingan.

Selain itu, Anang juga mengembangkan varietas unggul baru jeruk pada lahan pasang surut dan kering di Paser, Kalimantan Timur. Caranya dengan menyiapkan lahan itu, sehingga siap ditanami dengan pengaturan dan peningkatan kesuburan.

Selain itu juga menyediakan benih jeruk dengan metode okulasi dan okucang yang sesuai untuk lahan pasang surute. Ia juga menyediakan kompos dari bahan organik berasal dari limbah seperti tandan kosong sawit, limbah baglog jamur, dan kotoran domba.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img