Thursday, July 25, 2024

Bahan Alami Atasi Antraknos

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Gagal panen cabai pada 2009 menjadi pelajaran berharga bagi Muthohirin. Pasalnya semua buah cabai yang ia nantikan malah busuk dan berwarna cokelat kehitaman. Muthohirin merugi hingga Rp10 juta akibat serangan antraknos.

Saat itu ia hanya memberikan pupuk kimia kaya nitrogen tanpa memberikan bahan organik. Warga Desa Tegal Badeng Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, itu meyakini pemupukan kaya nitrogen yang berlebihan mengundang antraknos.

Sejak saat itu ia rutin menggunakan bahan organik untuk menunjang pertumbuhan cabai merah besar miliknya.

“Saya menggunakan pupuk kandang sapi dan kambing, biourine sapi, plant growth promoting rhizobacteria (PGPR), serta agen hayati seperti trichoderma dan mikoriza,” kata petani cabai sejak 2007 itu.

Muthohirin memberikan 1.500 kg pupuk kotoran sapi 3 pekan sebelum tanam. Sementara pemberian 500 kg pupuk kotoran kambing 1 pekan sebelum tanam.

Muthohirin juga mengaplikasikan 50—100 ml biourine sapi per liter air sepekan sebelum tanam, 7 hari setelah tanam (HST), dan 14 HST. Pemberian 6 kg trichoderma dan 2 kg mikoriza 1 hari sebelum tanam, 7 HST, dan setiap 20 hari sekali.

Khusus PGPR, ia membuat ramuan sendiri menggunakan akar bambu, dedak, gula merah, terasi, vetsin, kecambah, dan air. “Selain murah, bahan-bahan itu mudah ditemukan disekitar tempat tinggal,” kata pria berumur 42 tahun itu.

Dengan waktu fermentasi selama 21 hari, ia mampu membuat 25 liter PGPR sekali produksi. Hanya butuh 50 ml/liter air untuk aplikasi PGPR di lahan. Muthohirin memberikan PGPR sepekan sebelum tanam dan pada 7, 14, dan 21 HST.

Ia merasakan dampak penggunaan bahan organik. Biaya pemupukan dan penyemprotan lebih murah. Untuk lahan luasan 0,25 hektare (ha) dengan populasi 5.000 tanaman, ia hanya menghabiskan Rp18 juta— Rp20 juta untuk satu musim tanam.

Biaya itu lebih rendah dibandingkan dengan budidaya tanpa pemberian bahan organik atau pupuk kimia berlebih yang mencapai Rp22 juta dengan luasan dan populasi sama.

“Menggunakan bahan organik menghemat penggunaan pupuk dan pestisida kimia hingga 25%,” kata pria kelahiran Jembrana itu.

Muthohirin beruntung menggunakan bahan organik mengingat biaya pupuk dan pestisida kimia yang semakin mahal. Dampak lain penggunaan pupuk organik yakni perakaran tanaman lebih banyak sehingga pertumbuhan tanaman lebih cepat dan subur.

Selain itu tanaman cabai juga lebih tahan serangan antraknos. Muthohirin mendapatkan informasi pemanfaatan bahan alam untuk pupuk dan PGPR dari penyuluh pertanian setempat.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kelapa Genjah Merah Bali, Eksotis dan Produktif

Trubus.id—Kelapa genjah merah bali merupakan kelapa baru yang eksotis dan produktif. Secara umum berbunga pada umur 2—2,5 tahun dan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img