Trubus.id—Pertanian di perkotaan kini kian menjamur. Masyarakat memanfaatkan lahan berupa dak atau rooftop untuk berkebun sayur seperti selada, sawi hijau, tanaman herbal, dan berbagai jenis bunga yang dapat dikonsumsi.
Agar sayur tumbuh subur dan tanpa serangan penyakit, maka pelaku urban farming menanam beragam jenis tanaman bunga untuk mengundang serangga penyerbuk yang bisa menjadi predator hama. Cukup dengan menyemprotkan ekoenzim ketika ulat menyerang.
Ekoenzim adalah cairan yang berasal dari limbah sayur dan buah yang difermentasi selama 3 bulan. Pegiat komunitas Jakarta Berkebun, Indri Seska, juga menerapkan hal yang serupa. Ia “berkebun” di atas atap rumah. Di sana ia menanam berbagai sayuran seperti bunga turi, asparagus, selada, dan bawang daun.
Namun selama berkebun di rumah, Indri kerap menghadapi hama kutu daun. Serangga anggota famili Aphididae itu paling sering mengganggu. Alumnus Magister Manajemen Universitas Indonesia itu meracik campuran cabai, bawang putih, dan daun pahitan Tithonia rotundifolia.
Indri menggunakan perbandingan 5 siung bawang putih, 5 cabai pedas, dan daun pahitan secukupnya untuk 1 liter air. Ia memblender semua bahan dengan air lalu mengendapkan semalam. Keesokan hari ia menyaring hasil endapan dan menyemprotkan pada tanaman yang terserang.
Biasanya dalam 3—4 kali penyemprotan kutu daun sirna. Sejatinya Indri menggunakan ramuan itu untuk berbagai serangan hama. Selain itu, Indri juga menggunakan tanaman-tanaman beraroma seperti serai Cymbopogon citratus untuk mengendalikan hama. Bunga-bungaan yang berwarna mencolok seperti kenikir Cosmos caudatus dan magnolia bermanfaat sebagai refugia—mengusir hama.
Periset dari Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Mohammad Yunus dan rekan, menunjukkan efektivitas ekstrak cabai Capsicum annuum dan umbi bawang putih Allium sativum terhadap hama ulat bawang Spodoptera exigua. Hasilnya kedua bahan itu dapat meningkatkan angka mortalitas larva 83—96% pada hari ke-4 setelah penyemprotan.
