
Upaya menghasilkan benih bawang merah bebas virus.
Mestinya petani mampu memanen hingga 12—15 ton bawang merah varietas bima di lahan sehektare. Namun, beberapa petani di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah hanya menuai 100—200 kg per hektare. Gejala serangan penyakit yang berbeda dari infeksi cendawan pada umumnya menjadi penyebab. Prof. Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, MSc menyingkap fakta baru, infeksi virus hingga 16—98%.

Periset di Institut Pertanian Bogor itu mengambil sampel di 5 desa di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat dan Brebes—keduanya sentra bawang merah. Virus yang menyerang tanaman anggota famili Liliaceae itu antara lain Onion Yellow Dwarf Virus (OYDV) dan Shallot Yellow Stripe Virus (SYSV). Pantas produksi anjlok, hanya 100 kg per ha. “Serangan virus pada bawang merah sukar untuk diidentifikasi,” kata Sri Hendrastuti.
Gejala serangan
Menurut petani bawang merah, Hadi Sutomo, infeksi virus pada bawang merah mengakibatkan kerugian signifikan mencapai 60%. “Setiap musim hujan, serangan virus pasti ada karena biasanya bersamaan dengan serangan cendawan Fusarium atau Antraknos,” kata petani di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah itu. Menurut Sri Hendrastuti penelitian mengenai virus yang menyerang bawang merah masih minim.
Hendrastuti menuturkan, harus dilakukan pengujian-pegujian lanjutan untuk menghasilkan bibit bawang merah bebas virus. Pengendalian virus juga sulit. Serangan virus pada tanaman bawang merah tidak tampak bila dilihat sekilas. Padahal, bila diperhatikan dengan saksama, terlihat jelas perbedaan daun bawang merah sehat dan daun yang terserang virus OYDV ataupun SYSV.
“Daun bawang merah bila terserang virus menunjukkan gejala mosaik kuning. Ada juga gejala daun menjadi pipih dan bergaris kuning pucat di bagian tengah,” kata peneliti virologi tumbuhan itu. Gejala lain serangan OYDV dan SYSV mengakibatkan tanaman menjadi kerdil meskipun daun tidak mengalami pemendekan. Ketika dipanen, ukuran umbi juga mengecil meskipun tetap padat.

“Tanaman terinfeksi akan membusuk tetapi tidak beraroma,” kata Hadi yang berharap bibit bawang merah bebas infeksi virus. Harap mafhum, menjadi petani bawang merah merupakan mata pencaharian utama Hadi sejak 2000. Harapan ketua kelompok tani Mekar Jaya itu menjadi kenyataan. Sri Hendrastuti menemukan titik terang. Ia mengeliminasi virus dengan beberapa pilihan metode.
Keluarkan virus

Menurut Sri Hendrastuti termoterapi adalah salah satu cara yang sederhana dan umum digunakan untuk memproduksi bahan tanaman bebas virus. Caranya dengan mengeluarkan virus dari dalam jaringan tanaman. Alumnus Universitas Wisconsin Madison, Amerika Serikat, itu menuturkan, proses eliminasi dapat menggunakan termoterapi atau perlakuan panas (bahasa Latin, termos bermakna panas) berupa air panas maupun udara panas pada suhu 33°C.
Hendrastuti menuturkan, pemanasam benih pada suhu 33oC tidak akan merusak lembaga. Proses eliminasi pun relatif singkat, berdasarkan riset, 45 menit adalah waktu yang optimal. Ia membuktikan, bibit hasil perendaman air panas tetap tumbuh hingga 100%. “Teknik eliminasi virus lainnya dapat juga dengan aplikasi senyawa kimia yang memiliki aktivitas antiviral untuk menghambat bahkan menghentikan multiplikasi virus,” kata Hendrastuti.
Cara lain untuk eliminasi virus tanaman bawang merah adalah dengan kultur jaringan. Maksudnya meristem apikal atau titik tumbuh tanaman bawang merah diisolasi lalu ditumbuhkan pada media agar kaya nutrisi. Sejatinya cara yang paling sederhana dapat dengan pemberian antiviral berbahan aktif ribavirin. Teknik eliminasi virus dapat dikombinasikan untuk meningkatkan efektivitasnya.
Hendrastuti menuturkan, harapannya petani bawang merah, khususnya penangkar benih dapat melakukan sendiri proses termoterapi, karena praktiknya sederhana. Mekanisme termoterapi serupa dengan merebus atau mengukus bahan tanam. Namun, pengaturan suhu dan lama pemanasan dengan peralatan rumah harus diuji terelebih dahulu. “Peralatan dapur kan sederhana. Tidak ada pengaturan suhu pasti seperti alat laboratorium. Kalau sembarangan, khawatir bahan tanam menjadi rusak sehingga tidak dapat ditanam,” kata Hendrastuti. (Hana Tri Puspa Borneo Hutagaol)
