Thursday, January 29, 2026

Berburu Aroid Anyar

Rekomendasi
- Advertisement -

Pehobi kian meminati monstera dan philodendron anyar nan langka.

Monstera white elephant seharga Rp12 juta. (Dok. Degoy Plants)

Trubus — Johan Sofuan Fauzi menamakan Monstera deliciosa mutasi terbaru itu white elephant. Monstera asal Thailand yang dibeli pada Desember 2019 itu unik karena warna daunnya hijau dan putih keperakan. Harganya pun tergolong tinggi. “Harga monstera white elephant berdaun dua Rp12 juta,” kata penjual tanaman hias di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Mutasi M. deliciosa lainnya yakni oceana.

Monstera oceana berharga fantastis Rp25 juta. (Dok. Jasmine)

Menurut Degoy—sapaan akrab Johan Sofuan Fauzi—oceana tidak kalah premium dengan white elephant. Daun oceana tersusun atas tiga warna yakni hijau, perak, dan krem. Monstera oceana masih sangat baru sehingga harganya fantastis. Kelir daun yang khas pun mendongkrak harganya. Pembeli dari Kota Tangerang Selatan, Banten dan Bekasi (Jawa Barat) memborong dua monstera oceana berdaun tiga seharga masing-masing Rp25 juta.

Seperti salib

Jika Degoy menyukai monstera terbaru, Friesia Sutjiati Widjaja mengoleksi monstera thai constellation sejak 2016 lantaran tergolong tanaman kuat. Icha—sapaan akrab Friesia Sutjiati Widjaja—mendapatkan monstera jenis lawas itu dari kolektor lokal. Harganya stabil dan cenderung naik. Kini monstera thai constellation setinggi 1 m dibanderol sekitar Rp12 juta. Penjual tanaman hias asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Iwan, mengatakan thai constellation bermutasi menjadi sosok baru dengan daun berwarna hijau dan kuning serta berpola seperti totol.

Monstera thai constellation tinggi 1 m mencapai harga Rp12 juta. (Dok. Friesia Sutjiati Widjaja)

Ada yang berlubang, sobek, dan berbentuk menyerupai salib. Tanaman anggota famili Araceae itu memang punya sejuta pesona untuk memikat penggemarnya. Selain monstera, tanaman aroid lainnya yang menjadi incaran pehobi yakni philodendron 69686. Penulis dan kurator tanaman hias di Arkansas, Amerika Serikat, Steve Lucas, menuturkan 69686 mengacu pada nomor aksesi yang diberikan ahli botani Dr. Thomas B. Croat, Ph. D untuk spesimen penelitian.

Verrucosum rodjo daun merah seharga Rp3,5 juta.

Sehelai daun philodendron 69686 tersusun atas tiga lobus ramping memanjang yang saling terpisah. Dua lobus mengarah kiri dan kanan, sedangkan satu lobus yang lebih besar mengarah ke atas. Pangkal helaian melekuk tajam hingga seolah ketiga lobus adalah helaian berbeda. “Bentuk daun 69686 itu mirip salib dengan helaian ramping,” kata Iwan. Philodendron dewasa dengan panjang daun 25―30 cm dan setinggi 50 cm berharga Rp5 juta.

Philodendron barrosoanum mirip 69686 dengan daun lebih lebar. (Dok. Trubus)

Pehobi memerlukan waktu sekitar setahun untuk menumbuhkan tujuh daun philodendron yang diduga berhabitat asli di Brasil itu dari semula empat daun.Tanaman sejenis yang berdaun seperti salib tapi berukuran lebih besar yaitu Philodendron barrosoanum. Helaian tanaman berhabitat asli di Amerika Selatan itu membulat dengan ujung runcing.

Pangkal helaian cenderung menyambung satu sama lain. Iwan menjual barrosoanum dewasa berdaun empat seharga Rp5 juta. Kedua philodenderon itu masih jarang beredar di kalangan pehobi sehingga tergolong tanaman koleksi lantaran masih langka. Philodenderon koleksi Iwan lainnya yaitu Philodendron verrucosum. Verrucosum milik Iwan unik karena daun bagian bawah berkelir kemerahan.

Langka dicari

Daun philodendron 69686 dengan helaian ramping mirip salib.

Pehobi menambahkan nama rodjo sebagai pembeda dengan verrucosum hijau. Iwan melego verrucosum rodjo dewasa berdaun tiga seharga Rp3,5 juta. Harap mafhum saat ini verrucosum langsung ludes setiap kali Iwan memperbanyaknya. Bahkan beberapa pembeli memesan terlebih dahulu sebelum tanaman siap jual. Musababnya verrucosum masih jarang di Indonesia sehingga Iwan dan pekebun kesulitan memperoleh stok tanaman. Pria yang pernah menjadi koordinator pembibitan kebun tanaman hias itu mengatakan, “Saat ini perbanyakan verrucosum melalui setek saja.”

Sementara pehobi di luar negeri menggunakan kultur jaringan, tapi hanya untuk jenis tertentu. Lazimnya perbanyakan philodendron langka tidak menggunakan teknik kultur jaringan. Alasannya diperlukan indukan bagus dengan karakter stabil. Selain itu, permintaan pasar juga berpengaruh lantaran kultur jaringan ditujukan untuk produksi massal. “Saya memprediksi philodendron langka makin digemari pada 2020,” kata pria berumur 32 tahun itu. (Sinta Herian Pawestri/ Peliput: Andari Titisari)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Kenapa Mangga Tidak Berbuah? Inilah Penyebab dan Solusinya

Mangga yang tidak berbuah umumnya dipengaruhi masalah fisiologi tanaman. Terutama ketidakseimbangan fase vegetatif dan generatif. Tanaman yang terlalu subur...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img