Friday, December 2, 2022

Berhasil! Cangkok Durian

Rekomendasi

Cabang yang tegak menghasilkan cangkokan yang optimalKini cangkok durian berhasil.

Pertemuan Prof Sumeru Ashari MAgrSc PhD dan tim Durian Riset Centre (DRC) dengan para pakar durian di Jakarta pada 2009 begitu membekas. Di sana seorang ahli menyebut upaya tim DRC mencangkok durian sia-sia belaka.

Sumeru mengonfirmasi hal itu kepada mahasiswa bimbingan doktoralnya,  Lutfi Bansir SP MP, yang juga penangkar durian. Lutfi membenarkan pendapat sang ahli. Ia pernah mencoba mencangkok durian pada awal 2000-an dan gagal.

 

Uji coba

Menurut pakar buah di Bogor, Provinsi Jawa Barat, Dr Ir M Reza Tirtawinata MS, secara genetis durian sulit dicangkok. Kalus-kalus akar sulit tumbuh meski sudah dipacu dengan perangsang akar. Karakter itu mirip tanaman manggis, belimbing, dan nangka. Oleh karena itu penangkar lebih memilih perbanyakan durian dengan sambung pucuk.

Reza menuturkan beberapa penangkar seperti Wawan Kustiawan di Karawang, Provinsi Jawa Barat, pernah berhasil mencangkok durian. Namun, menurut Wawan tingkat keberhasilan hanya 50% dengan waktu mencangkok lama: 3 bulan. Prakoso Heryono di Demak, Jawa Tengah, malah menyebut angka 90% cangkok durian gagal. Toh, menurut Prakoso bila cangkok durian berhasil itu kabar baik. “Bagus untuk duplikasi pohon induk dengan sifat yang betul-betul sama dan cepat berbuah,” katanya.

Duplikasi pohon induk dengan teknik sambung pucuk sulit menghasilkan tanaman dengan sifat sama persis induk. Penangkar umumnya menggunakan batang bawah dari biji sapuan (sembarang, red). “Kualitas batang bawah beragam karena riwayat biji tidak jelas,” kata Prakoso. Akibatnya beberapa chanee yang ditanam Prakoso kualitas daging buahnya bergeser.

Menurut penangkar buah di Banyuwangi, Jawa Timur, Ir Eko Mulyanto, okulasi dengan batang bawah dari biji sembarangan juga kerap menghasilkan tanaman kaki gajah dan kaki bangau. Yang disebut pertama batang bawah lebih besar dibanding batang atas. Sebaliknya pada kaki bangau batang bawah lebih kecil. “Itu karena batang bawah dan batang atas tidak kompatibel,” kata Eko.

Untuk mensiasati itu penangkar umumnya menggunakan biji dari pohon yang sama untuk menduplikasi pohon induk. Kelemahannya, penangkar harus menunggu 1 musim. Saat musim buah, biji diambil lalu disemaikan, baru diokulasi dengan entres dari pohon sama pada musim berikutnya. “Kalau teknik mencangkok yang benar bisa ditemukan, maka kendala itu bisa diatasi,” kata Prakoso.

 

Durian asal cangkokan umur 4 tahun sudah mulai berbuahRegenerasi lambat

Namun, menurut Reza selama ini bibit hasil cangkok akarnya sedikit. Ketika bibit ditanam akar terlalu lemah untuk menyangga pohon karena tidak ada akar tunggang. Teknik cangkok juga kurang ekonomis karena dari 1 cabang pohon induk—misalkan berukuran 50 cm—hanya dihasilkan 1 tanaman. Dengan teknik okulasi yang memanfaatkan mata tunas, dari 1 cabang yang sama dapat diperoleh lebih dari 20 anakan.

Toh, Sumeru tak menyerah. Guru Besar di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya itu lalu menantang Lutfi untuk mewujudkan itu bersama. Titik terang didapat ketika keduanya berkunjung ke kebun durian milik Bernard Sadhani di Cianjur, Jawa Barat. Mereka menyaksikan pohon durian yang dirangsang berbunga dengan teknik pengeratan. Teknik itu gagal dan menyisakan keratan selebar 1 cm yang sudah 2 tahun tidak menyatu kembali. Dari fakta itu Sumeru dan Lutfi berhipotesis proses regenerasi sel kambium pada durian lambat. Menurut Lutfi pada rambutan keratan seperti itu sudah menyatu kembali dalam 1 tahun sehingga nyaris tanpa bekas lagi.

Sepulang dari Cianjur, Lutfi tekun mengamati karakter kambium pada durian. Ia melihat lapisan kambium—pada durian sangat tipis: kurang dari 1 mm. Beda dengan kambium pada rambutan yang tebalnya 1,5—2 mm. Berdasarkan pengamatan itu Lutfi lalu mencangkok 50 cabang dengan 2 teknik.

Pertama teknik biasa dengan mengerik kambium dan kedua: teknik alternatif dengan membiarkan kambium tanpa dikerik. Lebar keratan 12 cm. Pada teknik terakhir keratan dibiarkan terbuka 3 hari sebelum dibungkus media cangkok berupa campuran tanah topsoil dengan abu sekam perbandingan 1:1, lalu dibungkus plastik. Eureka! Sebulan berselang terlihat 3 fakta yang mencengangkan.

Semua cabang yang dicangkok dengan teknik pertama gagal, tak ada akar yang tumbuh. Sebaliknya 25 cabang yang dicangkok dengan teknik kedua sudah mengeluarkan akar. Lutfi juga menemukan perbedaan pertumbuhan akar di cabang yang tumbuh tegak (vertikal) dengan di cabang yang tumbuh mendatar. Akar di cabang vertikal lebih merata dan banyak. Sementara di cabang mendatar hanya di titik tertentu yaitu di bagian bawah yang dekat dengan tanah.

 

Cabang tegak

Menurut Sumeru, pada cabang vertikal akar tumbuh merata di bagian atas sayatan karena laju dan jumlah distribusi hasil fotosintesis merata. Sementara pada cabang yang mendatar laju distribusi lebih dominan di bagian bawah akibat gaya gravitasi.

Menurut Sumeru, karakter bibit durian asal cangkok dengan akar merata dan kuat adalah kabar gembira. Sebab kahadiran akar tunggang pada durian—meskipun menambah kekuatan menopang tanaman—kerap menjadi masalah ketika tanaman ditanam di lahan dengan muka air dangkal. Contohnya di kebun-kebun di dataran rendah seperti di Kalimantan Selatan. “Akar tunggang bersentuhan dengan air tanah sehingga tanaman sulit terangsang berbunga karena selalu dalam masa vegetatif. Seandainya berbuah pun rasanya jadi kurang manis,” kata Sumeru.

Durian dengan akar tunggang yang menyentuh air tanah pun lebih mudah terserang cendawan Phytophthora palmivora penyebab kanker batang. Musababnya cendawan itu menyukai daerah perakaran yang basah. Oleh karena itu bibit durian cangkok cocok dikembangkan di lahan rawa dengan teknik surjan (galangan besar, red) sehingga akar durian tidak kebasahan.

Kini 5 tahun dari pertemuan para pakar itu, anggapan cangkok durian hal yang mustahil, mulai berubah. Dari

25 cangkok di cabang vertikal pada percobaan pertama pada 2009 itu Lutfi mendapatkan semua bibit sehat. Dari jumlah itu kini 4 tanaman berumur 4 tahun sudah belajar berbuah. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

Previous articleGantung Saja Semangka itu
Next articleBeri van Cianjur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Balitbangtan Menjajaki Kolaborasi dengan Turki atas Keberhasilannya Sertifikasi Varietas

Trubus.id — Balitbangtan yang telah bertransformasi Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) mulai memperkuat jejaring internasional salah satunya dengan kunjungan ke...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img